18 September 2016
Sejak dua belas hari yang lalu, setiap malam, hal yang terbilang aneh terjadi padaku. Sejak dua belas hari yang lalu, setiap pukul tujuh, dua bercak merah muncul di lengan bawah sisi dalam sebelah kiri. Sejak dua belas hari yang lalu, selalu. Sepenuh hati aku mensyukuri fenomena ini. Paling tidak dua belas malam sudah, tanda ini menyeretku mendekati gelisah, namun sekaligus membebaskanku dari kompilasi malam yang terlampau resah. Tanyakan padaku, bagaimana mungkin udara mengizinkanku lepas dari tanya? Dua bercak merah, ada, begitu saja. Jikalau tanda ini peninggalan naluriah semacam serangga, bagaimana bisa hadirnya selalu pada bidang anatomi yang sama? Katakanlah memang sejenis nyamuk yang mencumbu, apa penjelasanmu tentang kesamaan jumlah yang seperti menyandikan rindu? Kalau pun sesuatu itu begitu normatif menghajar sistem limbikku dengan skema yang terlampau rapi, jahat itu tetap di genggamanmu, yang tak henti bertanya di kala aku terlalu kosong untuk menjawabnya.
Namun...
Namun... Selalu satu atau sepasang pengecualian untuk kompleksitas yang disamarkan sebagai harapan. Percaya saja, hal-hal magis hanya satu dari jutaan rahasia tata surya. Yang sulit diterima adalah sensasi yang menyenangkan hati pada banyak kali tertaut limitasi. Seperti bercak ini, muncul pukul tujuh, lenyap sesaat setelah jam sepuluh. Ya, begitu saja, menyaingi banyak keanehan lainnya di dunia.
Anomali adalah muse, provokator yang ditujukan untuk memulai tanya, sementara repetisi adalah modal awal yang cukup untuk menganalisa.
Sebuah alasan. Hanya perlu sebuah alasan. Entah reka atau nyata yang tidak ada korelasinya. Ketika rasa ingin-baik-baik-saja mengantarkanmu pada titik dimana akhirnya tidak apa jika terlihat tidak-baik-baik-saja. Jadi, bisakah kamu mengerti bagaimana dua makula misterius mengalihkanku dari segala gila yang semakin serius?
Ini alergi. Ya, ini seharusnya adalah reaksi alergi. Reaksi alergi, boleh juga disebut hipersensitivitas, pada dasarnya adalah aktivitas berlebihan dari sistem kekebalan tubuh...dan tidak akan ada kilas balik kelas imunologi disini. Maka, apalagi kalau bukan alergi. Aku ingat bagaimana secara naluriah melontarkan kata itu setiap kali berhadapan dengan hal yang sulit dijelaskan.
Apa alergenku? Aku alergi tatapan mengancam setiap kucing yang pernah aku temui. Aku alergi tidur dengan alas bantal. Aku alergi lembaran bubble wrap yang gelembungnya habis terpecahkan. Aku alergi masakan pedas. Aku alergi makan sendiri. Aku alergi pada panggilan telepon di hari libur. Aku alergi hari minggu yang terlalu pagi.
Kali ini, apa alergenku? Aku alergi menjawabi dunia saat kamu absen di sini.
Berhentilah menghakimi, bahkan nyeri yang melibatkan 'hati' butuh sensitisasi. Aku sungguh menahan diri untuk memasuki lapang pandangmu, bertahan satu sentimeter di luar kubah transparan yang dibuat atas imajinasiku. Berandai-andai, jika aku berhasil menghubungimu dan menceritakan tentang dua bercak misterius di kulitku, apakah kamu akan menyuruhku minum antihistamin, atau kamu akan memintaku menjauhimu dan berhenti bermain.
* * *
Ini hari Minggu. Aku ingin menonton film kartun seharian sambil menghangatkan ujung kaki di balik selimut sementara tetes hujan memercik sesekali pada jendela kamarku. Aku juga ingin makan otak-otak dan sate ceker di angkringan yang hanya meminta dihargai kurang dari dua puluh empat ribu untuk sepenuhnya perutku. Di saat yang sama aku ingin kesederhanaan setara memelukmu tanpa alasan. Demi jarum jam yang bergerak, ini masih hari Minggu, aku hanya akan menunggu sampai pukul tujuh.
Search
Popular Posts
-
Seperti halnya kisah cinta, tidak semua perjalanan berakhir bahagia. Ini semacam sensasi pahit yang mengikuti tablet bandel yang sulit dite...
-
Bukan semata-mata karena ‘harus’ tinggal sebulan di negeri Sakura maka saya mencoba selihai mungkin dalam mengunakan sumpit. Dari dulu say...
-
Filmnya tentang cinta, tapi aku menulis tentang bantal. Aku tipe orang yang tidur tanpa bantal. Kalau pun aku punya bantal, keberadaanny...
-
Adalah sebuah alasan lain untuk menulis pagi ini yaitu headset yang sudah lelah berfungsi dan dua jam perjalanan yang perlu dibunuhi. Aku b...
-
Jelas ini bukan salah satu ekspresi penduduk Indonesia yang latah euforia tahu bulat. Apalagi download permainannya di Google Store kemudia...
-
Memasuki minggu kedua petualanganku di negeri Sakura. Aku sudah mulai terbiasa dengan dinginnya sapuan angin musim gugur, daun-daun yang be...
Recent Posts
Categories
- [EARGASM]
- 30Hari Bercerita
- Ahmad Wahib
- Aktivitas
- Bahasa
- Barcelona
- Birokrasi
- BYEE
- Cerita Dari Negeri Lain
- Co-ass
- Easy-Aci Exploring the World
- Event
- Ex-Berliner
- Family
- Fiksi Tapi Bukan
- Friendship
- Germany
- Golden October
- Inspirasi
- Japan
- Jerman
- Journey to the West
- Karya
- KKM
- Koas
- Kontemplasi
- Menulis Random
- Movie
- Puisi
- Quality Time
- Refleksi
- Romansa
- Serba-serbi
- Song of the Day
- Sweet Escape
- T World
- Tragedy
- Travel
- Trip
- Tulisan
- Urip Iku Urup
0 comments:
Posting Komentar