4 Januari 2012
Aku tidak seindah itu hingga mematrikan deretan milestones demi menandai setiap checkpoint dalam hidupku. Mungkin bila aku melakukannya, suasananya tak akan jauh dari lalu lintas ibu kota-padat,penuh,sesak. Mau bagaimana lagi, selalu ada momentum menarik di setiap hariku, terutama sejak kau masuk dalam kehidupanku. Lagipula aku tidak ingin dibatasi waktu. Waktu hanyalah sarana rekaan manusia untuk mempermudah hidup mereka saja. Karenanya aku memilih hari ini, hari kelima dari ambang tirai tahun yang baru saja terbuka. Bukan apa-apa, justru karena penanggal 5 di bulan Januari ini sama-sama bukan hari yang istimewa, baik untukku maupun dirimu. Bukan hari ulang tahunku, bukan hari pertama bertemu (sejujurnya aku lupa kapan itu), bukan pula hari jadi, hari batal, atau hari apa pun. Yah, di kehidupanku yang lain mungkin aku makan dari idealisme dan menyembah optimisme sebagai agama kedua. Namun, ada kalanya aku luluh pada tetek bengek romantisme dan kegalauan hati wanita di usia awal dua puluhan.
1 Januari 2012
Hari kemarin musik saya mati,
saya sedih karena saya pikir saya tidak akan bisa menikmatinya lagi.
Tapi ia meninggalkan sebuah kotak,
dan sepucuk surat dalam amplop putih.
Saya mendapat wasiat dari musik saya yang mati tanggal kemarin.
Seorang teman saya berkata, "Buka saja kotaknya, untuk apa selembar kertas bila kau punya kotak?"
Saya yakin itu bukan cara yang tepat untuk menangani bentuk wasiat.
Teman saya yang lain menasehati saya agar membaca surat itu.
Mudah, hanya enggan melakukannya.
Kalau begitu berikan saja wasiatnya untuk orang lain. Lagi-lagi tidak patut.
Cium! Ciumi amplop itu! Jilat! Gigit! Telan! Karena ketika sesuatu dii sekitarmu mati. itu adalah hal tterakhir yang ia inginkan...
Kawan lama datang, musiknya juga pernah mati.
Katanya saya hanya perlu menunggu.
Saya pun menunggu. Tidak ada yang terjadi.
Saya kalut karena terlalu lama menunggu,
Amplop terobek oleh tangan saya yang kacau.
Tidak mengejutkan dari sebentuk musik yang telah mati, amplop itu berisi nada dan harmoni
Dunia terang.
Kini saya tahu,
yang seharusnya saya lakukan hanyalah mendengarkan.
dengan mendengar saya melihat
dengan mendengar saya mencium
dengan mendengar saya mengecap
setelah mendengar kalut saya berubah lega
setelah mendengar,
dengan mendengar saya tahu bagaimana berbagi.
Denpasar, 1 Januari 2012
[Sebuah resolusi di tahun baru, menjadi pendengar yang lebih baik. Selamat tahun baru 2012 semuanya!]
Langganan:
Komentar (Atom)
Search
Popular Posts
-
Katakanlah tulisan ini semacam lanjutan dari tulisan Neuro: My 1st Lab. Tanpa ada maksud membuat kreasi cerita bersambung, setelah beberap...
-
Banyak orang yang pernah menceritakan airport ini dengan pujian. Sayangnya, di kesempatan pertamaku menginjakkan kaki disana, aku tidak ...
-
“ Even it is just a few giving (alms), with the thirst and desire of your heart it will bring great benefits; whereas the bigger amou...
-
Hanya sebuah perjalanan rutin dari Denpasar menuju Tabanan, semata-mata karena ada hati yang merindukan rumah, meski tubuh yang memerangkapn...
-
Kebahagiaan, seharga sepuluh ribu rupiah. Kata mereka hal-hal abstrak seperti rasa senang, bahagia, atau cinta tidak bisa dihargakan dengan...
-
Hari ini libur, hari ini tanggal merah, hari ini seharian ngendon di rumah. Itu sajakah? Hey, Bung! Hari ini ada hal yang lebih besar, yang ...
-
Memiliki agenda bersampul lucu, saling menukar dan mengisinya dengan segala utopia pertemanan selamanya, atau paling tidak selama lembaran i...
Recent Posts
Categories
- [EARGASM]
- 30Hari Bercerita
- Ahmad Wahib
- Aktivitas
- Bahasa
- Barcelona
- Birokrasi
- BYEE
- Cerita Dari Negeri Lain
- Co-ass
- Easy-Aci Exploring the World
- Event
- Ex-Berliner
- Family
- Fiksi Tapi Bukan
- Friendship
- Germany
- Golden October
- Inspirasi
- Japan
- Jerman
- Journey to the West
- Karya
- KKM
- Koas
- Kontemplasi
- Menulis Random
- Movie
- Puisi
- Quality Time
- Refleksi
- Romansa
- Serba-serbi
- Song of the Day
- Sweet Escape
- T World
- Tragedy
- Travel
- Trip
- Tulisan
- Urip Iku Urup
