29 Desember 2015
13 Desember 2015
Aku harap bukan hanya kebetulan semata, bahwa pemilihan kepala daerah serentak yang diklaim sebagai yang pertama terjadi i Indonesia ini bertepatan dengan Hari Anti Korupsi. Sembilan Desember dua ribu lima belas. Tiada maksud menjadikan hari ini istimewa. Bukan pula berniat mengecilkan maknanya. Jujur saja, ada rasa skeptis yang membekas di hati ini setiap kali bersentuhan dengan segala prosedural dan seremonial politik. Harap tidak serta merta menghakimiku sebagai insan cuek politik. Aku perduli, bahkan pada beberapa titik perduli yang sejadi-jadinya (baca: hingga sering sakit hati). Kalau boleh meminjam jargon masa sekarang: aku lelah.
Aku dan orang-orang di sekelilingku mengharapkan pemerintahan yang baik menurut kami. Di saat yang sama harapan tersebut dihancurkan dengan visi bahwa perubahan itu akan membutuhkan waktu yang lebih panjang lagi.
Aku dan orang-orang di sekelilingku menginginkan perubahan ke arah yang membaik. Dan keinginan tersebut dikalahkan oleh rasa malu melihat tabiat oknum-oknum pengempu pemerintahan kita saat ini.
Ah, warga negara macam apa aku ini. Mengeluh, tanpa solusi yang nyata. Bahkan aku lancang sekali merepresentasikan diriku dengan 'orang-orang di sekelilingku'.
Sebenarnya aku menulis ini dengan perasaan yang bercampur aduk. Dagelan politik hanya satu dari sedikit faktor yang mempengaruhi arus pikirku akhir-akhir ini. Sebenarnya juga aku lebih ingin membahas tentang dokter layanan primer yang jelas-jelas mengusik ketenanganku. Hanya saja aku belum cukup membaca referensi untuk dijadikan dasar argumentasi. Kebetulan juga aku sedang enggan menelaah bacaan berat (kan sudah kubilang tadi aku lelah.) Sebab lainnya adalah pikiranku tidak tenang, harap-harap cemas menunggu sebuah pengumuman.
Yah, pilkada ini mungkin berlalu sebagai momentum untukku berkeluh kesah. Terutama bila pemenangnya di Tabanan sepertinya sudah menyiapkan pesta besar-besaran.
[Ya Tuhan, limpahkanlah kebesaran hati dan kelapangan dada untuk menghadapi apapun yang harus kami hadapi.]
Search
Popular Posts
-
Memiliki agenda bersampul lucu, saling menukar dan mengisinya dengan segala utopia pertemanan selamanya, atau paling tidak selama lembaran i...
-
Aku selalu menyukai September. Sejak lama, September selalu menyisipkan hal-hal baik untuk terjadi dalam salah satu atau dua dari tiga puluh...
-
Sudah beberapa orang menertawai aku untuk satu alasan yang serupa: takut bekerjasama (baca:mencontek) saat ujian. Ya, untuk segumpal alasan ...
-
Banyak orang yang pernah menceritakan airport ini dengan pujian. Sayangnya, di kesempatan pertamaku menginjakkan kaki disana, aku tidak ...
-
Seperti halnya kisah cinta, tidak semua perjalanan berakhir bahagia. Ini semacam sensasi pahit yang mengikuti tablet bandel yang sulit dite...
-
“Seseorang dapat menyempatkan diri mengunjungi Meksiko Utara dan bersedia menunggu 20 tahun demi melihat sekuntum Queen Victoria Agave me...
-
Siang ini langit mempermainkanku. ada banyak warna putih tertelan tepian menganga biru. Kita membisu, angin terlalu semarak seperti konse...
Recent Posts
Categories
- [EARGASM]
- 30Hari Bercerita
- Ahmad Wahib
- Aktivitas
- Bahasa
- Barcelona
- Birokrasi
- BYEE
- Cerita Dari Negeri Lain
- Co-ass
- Easy-Aci Exploring the World
- Event
- Ex-Berliner
- Family
- Fiksi Tapi Bukan
- Friendship
- Germany
- Golden October
- Inspirasi
- Japan
- Jerman
- Journey to the West
- Karya
- KKM
- Koas
- Kontemplasi
- Menulis Random
- Movie
- Puisi
- Quality Time
- Refleksi
- Romansa
- Serba-serbi
- Song of the Day
- Sweet Escape
- T World
- Tragedy
- Travel
- Trip
- Tulisan
- Urip Iku Urup
