Defect, anomali...and perspective

Tampilkan postingan dengan label Cerita Dari Negeri Lain. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerita Dari Negeri Lain. Tampilkan semua postingan

26 Desember 2018

To open this one I would like to say: being persistent is not easy.
[10/30] HOW MUCH WOULD YOU LIKE TO PAY FOR A HAPPINESS?
In recent days, I barely stay home. Never flash in my mind before that Berlin summer could be so harsh, even for me who is coming from a tropical island. Some days earlier, staying at the library the whole day was still convenient to do. Up until last two weeks perhaps. Then my mind form getting more unstable, my inner feeling becoming more inert, following the shortening list of (enjoyable) things to do here. At a glance, that list would look like: 1)unplanned early wake up each morning, 2)first contemplation of the day, 3)try-to-be-busy ritual at the kitchen, 4)second contemplation while cooking something, 5)riding the bus number 100 or 200 (because ringbahn would be so warm since 10 in the morning), 6)get lost while riding my bike in semi-dehydrated state, 7)napping under the tree at the side park of Schloss Charlottenburg, and 8)stepping on and off from one supermarket to another. For the last one, yes, I visit those supermarkets more frequently as they are so chiiiiiillll.....
Yesterday, I went to Edeka, the one supermarket close to where I live. That was kinda last minute shopping just because I forgot to buy Ovomaltine (yeah, my fav choco spread) even though I spent a lot of time to cool down myself at REWE and DM. While queuing at the cashier, there was only three customers left: a girl with a cropped top, an old lady with her walking stick, and me. Right in that order. Turned out, the cashier already closed the bookkeeping for the day made the three of us could only pay in exact change or with the card. So unfortunate for the girl with a cropped top, she didn't bring any cash but a 20 Euro bill and some coins. She had to let go of some of the stuff she meant to buy which are a bunch of scallions and a pack of tomatoes. I was thinking if she is one of the students living in the same student wohnung with me and was planning to offer to pay that for her. But before I could jump into the act, the junior helper slash part timer employee standing behind the cashier guy pulled out some coins from his trousers' pocket, counted, and handed some of those coins to the cashier guy. He then grabbed the scallion and tomatoes, put them in front of the girl with a cropped blouse and said, "es wird besser sein, wenn du damit kochst" or at least that was how I heard it. "That will taste better with them."
I promise you that this wouldn't be a speech about money or guidance on how to be an angel in real life. However, this guy did very well with his one euro 30 cents; he made people happy. One, of course, the girl with a cropped top. Two, me for witnessing the scene. Three, the cashier guy. Four, himself. I don't know how about the old lady with her walking stick and another employee who was doing some cleaning, but after all, those were enough happiness to wrap the day.
* * *
Persisten itu susah, cuy! Hahaha..

Beberapa hari belakangan, diam di kamar apartemen yang beralih menjadi sauna adalah tantangan yang berat. Bahkan bagi orang yang selalu mengaku sebagai anak pantai macam aku ini, musim panas ini sungguh keterlaluan. Sebelumnya, main seharian di perpus masih amat sangat menyenangkan. Setidaknya hingga dua minggu sebelum ini. Sampai pada mulai terjadi alterasi bentuk pikir yang kentara labilnya, segala indera yang semakin tidak responsif, mengikuti daftar kegiatan menyenangkan yang sama seperti malam di musim ini, semakin lama semakin pendek saja. Daftar tersebut kurang lebih: 1. Bangun kepagian, walaupun setengah mati ingin bangun lebih siang, 2. kontemplasi pertama, 3. sok-sok sibuk di dapur, 4. kontemplasi lagi sambil tetap sok sibuk di dapur, 5. Muter-muter naik bus nomor 100 atau 200 (karena muter naik kereta sudah tidak senyaman dulu lagi, pengap), 6. tersasar sambil naik sepeda sampai gosong, 7. tidur siang di bawah pohon depan Schloss Charlottenburg (ini museum bagus), dan 8. keluar masuk supermarket demi terkena tiupan pendingin ruangan.
Nah, kemarin kebetulan aku belanja di salah satu supermarket dekat tempat tinggalku, namanya Edeka. Sudah hampir tutup, aku adalah salah satu pembeli terakhir (demi Ovomaltine). Saat mengantre di kasir, tersisa tiga pelanggan saja, berturut-turut: seorang gadis berpakaian cropped top, seorang wanita tua dengan tongkat, dan aku. Ternyata, si mas kasir sudah menutup program pembukuan harian di komputernya sehingga box uang tidak bisa dibuka lagi (mungkin ia sangat ingin cepat pulang, aku bisa mnegerti). Maka pilihan kami hanyalah membayar dengan uang pas atau dengan kartu. Naasnya si gadis berpakaian cropped top ternyata tidak membawa pecahan uang pas, pun tidak menggunakan kartu. Hampir terjadi ia merelakan seikat daun bawang dan satu pak tomat untuk tidak jadi dibeli. Aku berniat membayarkan dua benda tersebut sambil mengingat-ingat mungkin kami tinggal di kompleks apartemen mahasiswa yang sama. Akan tetapi, sebelum aku sempat merealisasikan pikiranku, asisten kasir yang juga pekerja paruh waktu mengeluarkan beberapa koin dari saku celananya, menghitungnya, kemudian menyerahkannya kepada si mas kasir. Diambilnya kembali daun bawang dan tomat yang sempat dipinggirkan, ditaruhnya di hadapan gadis berpakaian cropped top sambil berkata, "Akan lebih enak kalau dimasak dengan ini." (dalam bahasa Jerman).
Ini bukan ceramah tentang keuangan atau pun panduan menjadi malaikat hidup. Hanya saja, lelaki tersebut menggunakan satu euro tiga puluh sennya dengan sangat baik; ia menciptakan kebahagiaan. Satu, bagi gadis berpakaian cropped top tentunya. Dua, bagiku yang menyaksikan adegan tersebut. Tiga, bagi mas kasir yang sempat kebingungan. Empat, bagi dirinya sendiri. Aku tidak yakin bagaimana dengan wanita tua dengan tongkat berjalannya atau salah satu pegawai lain yang tengah membersihkan rak. Bagaimana pun, pada akhirnya, ada lebih dari cukup kebahagiaan di penghujung hari.
Peace, love, berkeringat tengah malam (tapi bukan TB)

A.


27 Desember 2017

Seperti halnya kisah cinta, tidak semua perjalanan berakhir bahagia. Ini semacam sensasi pahit yang mengikuti tablet bandel yang sulit ditelan (tentang peliknya urusan minum obat ini adalah cerita tersendiri). Ya, sensasi pahit yang itu, yang tidak hilang dengan minum air dua gelas, yang hanya sedikit tersamarkan dengan sesendok madu kemudian terasa lagi. Akh..dimana sebenernya bahagia yang tidak ada akhirnya? Setidaknya aroma kopi milik seseorang di kereta pagi ini memberikan kesan bahwa tidak ada buruk yang terlalu buruk juga. 

Mari berbicara tentang hal yang menyenangkan. Hal yang aku suka...hm..anting. Kami bertemu di pasar malam (yang buka sejak pagi hari), salah satu pasar malam Natal dan tahun baru yang kami kunjungi. Standar, ia penjual di salah satu stal, kami pengunjung dan penikmat keramaian. Komoditas yang ia pajang dan jajakan adalah perhiasan buatan tangan. Pun saat aku lihat pertama kali, ia sedang asyik memilah batu-batuan berwarna. Bukan aku yang berinisiatif mendekati stal miliknya. Rekanku penikmat keramaian yang menarikku ke arah situ, dan berhenti bukan hanya untuk melihat. Keputusan yang buruk, tentang anting, aku tidak bisa hanya sambil lalu. 

Namanya Lora, wanita sekitar 30an, berambut merah yang membuat bentuk rahang perseginya kontras. Lebih kontras lagi adalah topi bertelinga kelinci yang ia kenakan, seperti penanda bahwa ada sesuatu di balik kelincahan jemarinya memindahkan bentuk-bentuk biji dari satu wadah ke wadah lainnya. Di luar dugaan, ia punya ciri kepribadian periang yang kentara. Kami pun mudah akrab seperti sudah saling mengenal sebelumnya. 

Lora adalah penduduk asli kota itu, Antwerp, menikah dengan pria asal Prancis dan menjalani kesehariannya di negara keduanya tersebut. Ia mengambil kesempatan berjualan di pasar ini antara lain juga agar memiliki alasan untuk pulang dan bertemu teman-teman di kota kelahiran. Menyenangkan mendengarnya bercerita sambil tak henti bekerja dan matanya juga berbicara. Sampai pada bagian bagaimana ia rindu suami dan hewan-hewan peliharaannya di Prancis selama ia menjadi salah satu vendor di sana, aku seperti punya perasaan pada level yang sama. Rekanku penikmat keramaian, aku yakin sadar akan itu karena aku mulai berusaha mengalihkan perasaanku dengan meniupi gelas kertas berisi coklat panas yang sudah lama mendingin (di sana, kecepatan pendinginan minuman cokelat berbanding lurus dengan angin yang memberantakkan rambut). 

Lora adalah seorang akuntan, maksudku punya latar belakang pendidikan sebagai akuntan, yang punya mimpi untuk mengerjakan hal-hal yang cinta; berkreasi membuat perhiasan. Tiupan ke gelasku semakin meningkat frekwensinya. Tanpa aku niatkan. 

Rekan penikmat keramaianku, mengambil alih dengan bercerita tentang bagaimana perhiasan-perhiasan buatan tangan tersebut begitu mengingatkannya pada rumah, terutama ibunya yang juga gemar membuat pernak pernik dan perhiasan buatan tangan. 

Kata Lora, visi di balik idealisme perhiasannya adalah tidak ada perhiasan yang percuma dan sia-sia. Prinsip. Maka semua karya yang ia jual sore itu adalah hasil daur ulang dari perhiasaan lain yang tidak terpakai, atau tidak ingin diingat lagi, atau ingin dikenang namun dalam bentuk yang berbeda (kadang kita sangat lihai menemukan alasan untuk mengenang sesuatu bukan dalam bentuk orisinalnya). 

Lora salah memahami kami sebagai pasangan, mengomentari bagaimana kami terlihat serasi. Tidak ada satupun dari kami yang berniat mengoreksi. Setidaknya bagi Lora, bisa jadi kami juga adalah sebentuk memori yang tidak orisinal sejak pertama. Lucunya, menjiwai perannya, rekanku penikmat keramaian mengamati dengan seksama deretan anting di hadapanku sebelum akhirnya memilih satu. Menyodorkan ke arahku, memberi isyarat untuk mencobanya, mengabaikan mulutku yang membentukkan "really?" tanpa suara.


Tentu sebagai penjual, Lora harus memuji bahwa anting tersebut terlihat bagus di telingaku, dan memang iya, Lora memujiku dan selera rekanku penikmat keramaian. Sesaat suasananya hangat seperti teman lama yang bertandang ke rumah. Kiranya beberapa Euro (bukan Euro-ku) tidak lenyap tanpa makna. 

Yah, itu tentang Lora dan sepertujuhbelas perjalanan di hari kedua di Antwerp. 
*   *   *
Kereta ini menuju Berlin Hauptbahnhof, hari kemarin aku masih membayangkan berada di bus menuju Munchen. Begitulah banyak hal berubah tanpa kita minta. Tapi, 
tidak ada buruk yang terlalu buruknya. Bahkan bagian-bagian sedih dari cerita Lora. Bahkan kopi yang tidak nikmat pun pada akhirnya tetaplah kopi. Surga. Dan aku perlu segelas kopi juga.

Tertanda, bajak laut dengan eye patch kedodoran. 
Berlin, aku pulang lebih awal, 28.12.2017

7 Desember 2017

On 00.57 by anya-(aydwprdnya) in ,    No comments

[Dunia T. Dunia ini baru sama sekali, hangat menyambut para penghuni.]

Kita menyala, tidak ada siapa yang menemukan siapa.
Hanya nyala.

Mata biru, rambut perak. 
Di sisi sebaliknya, hanya legam dan legam
Dingin gelap dan hati lantak,
Jeda sedetiknya, hanya genggam dan genggam.
Ini mudah sekali. Nyala ini mudah sekali.

Mulut yang tak berhenti mencatat, 
Mulut yang sama yang menyesap teh herbal dari cangkir yang cacat.

Sedikit di atasnya, hidung yang merasa segala residu di udara 
Udara yang selisih atas langkah panjang dan naif yang mengimbanginya.

popcorn yang hambar, bir yang kurang dingin,
tawa satir tertukar, film lawas mengumbar ingin.
Ini Berlin. 

Di jarak lima belas menit,
Visualisasi adalah hal terakhir yang bisa dipercaya.
sebilah tangan yang terdengar gemetar,
bibir manis yang beraroma retakan awal musim,
badan yang meliuk di tengah spasi...dan hal-hal yang tak bisa terlihat dengan mata.
Kecuali, kulihat bukumu di atas rak yang entah sejak kapan kosong.

Dan,

Kita menyala, tidak ada siapa yang menemukan siapa.
Hanya nyala.
Hari ini, semua kereta masih lintas di jalurnya. 

.A
(featuring RD, the one and only.)

26 Agustus 2017

Membuat rekening bank baru bukan agenda favorit Aci. Ada banyak data yang harus diisikan ke dalam formulir. Ada banyak identitas yang harus dicocokkan. Ada banyak informasi yang harus didengarkan. Pada banyak kesempatan, beberapa hal harus diberi anggukan kepala, walaupun sulit dicerna. Itu pengalaman selama ini mengurus akun bank di Indonesia. Di Jerman? Hal menjadi lebih rumit lagi.

TERMIN. Lagi-lagi kata ini. Sesaat setelah memegang Anmeldung di tangan, aku pikir akun bank bisa dibuat segera, tinggal datang, mengantre seperti biasa. Pilihan bank aku rasa hampir sama, kecuali status student dengan usia kurang dari 25 (unfortunate me!), dapat membuat akun student yang tanpa biaya bulanan. Tanpa alasan yang krusial, Berliner Sparkasse menjadi pilihan. Setidaknya warna merah dan logonya mudah dikenali. Namun, mendatangi cabang terdekat Berliner Sparkasse ternyata tidak menyelesaikan segalanya, terutama jika ingin mendapat pelayanan dalam bahasa Inggris. (Tentu aku bersiap dengan bekal Deutsch for Dummy bagian 'Conversation at Bank', nyatanya, tidak cukup untuk penjelasan panjang lebar dengan untuk mengerti seluk beluk perbankan dasar. Fuhh.)

Secara total, aku mendatangi, mari kita hitung...1,2,3... 7 kantor cabang Sparkasse!

16 Agustus 2017

Kantor cabang Wilmersdorf (terdekat dari Burgeramt tempatku menuai Anmeldung). Jawaban yang aku terima, tidak ada staf berbahasa Inggris yang lowong hari itu. Disarankan membuat TERMIN, yang adanya di 10 hari kemudian (whaaat?). Kemudian berpindah.


Sparkasse Alexanderplatz. Ini cabang yang terbesar aku rasa. Kebetulan aku bertemu langsung dengan staf yang bisa melayani dalam bahasa Inggris dan gemar mengedipkan mata sebelah kirinya. Masih belum beruntung, TERMIN harus dibuat untuk hari besoknya, padahal besoknya aku harus menghadiri YLH conference. Dengan terpaksa pembuatan termin ditunda, sampai lewat masa rusuh conference. Namun aku sudah diyakinkan bahwa rekening dapat dibuat karena kelengkapannya berupa passport dan Anmeldung sudah ada.


Masih ada sisa waktu, aku melompat ke Sparkasse cabang terdekat, dengan harapan mungkin masih ada kesempatan jika aku beruntung bertemu dengan staf bank yang bisa melayani tanpa termin. Melompat bus, kemudian turun lagi begitu melihat siluet logo S dengan titik di atasnya. Aku bahkan lupa cabang mana, yang pasti aku mendapat penolakan juga. 


21 Agustus 2017

Mendedikasikan hari untuk membuat rekening bank, aku kembali ke Alexanderplatz, tempat dimana dinyatakan bisa. Jawaban yang aku terima, "You should go to Sparkasse branch near Charlottenburg, because you're living there." Akh, ini semacam, "Bu, tidak bisa bikin rekening di Jakarta, soalnya KTP Ibu domisili Bali. Bikinnya juga yang cabang deket rumah ya...jangan yang nyebrang kabupaten." Hatiku patah lagi. Tapi ngikut juga ke cabang arahannya, salah satunya yang nomor 5.


Theodor-Heuss-Platz. Semua staf berbahasa Inggris cuti. Good timing.


Martin-Luther Strasse. Disambut dengan keyakinan, "Bisa, tunggu 5 menit". Apa yang kami dapat setelah 5 menit? "Ini resident permitnya tidak bisa untuk akun bank, harus cari lagi semacam surat keterangan di Auslanderbehorde." Lemaslah aku, appointment lain lagi? Membayangkan ribetnya appointment di Auslanderbehorde membuatku terpikir, apa ada cara lain bertahan hidup tanpa akun bank...jualan siomay ikan tenggiri, mungkin?


Grunewaldstrasse. Nihil.


Nollendorfplatz. Bertemulah dengan Pak Olaf (yang belakangan aku ketahui juga membantu pembuatan rekening beberapa kawan di Berlin.). TERMIN untuk keesokan harinya jam 10 pagi. 


22 Agustus 2017

Mendatangi Pak Olaf. Mendapat penjelasan detail tentang rekening Berliner Sparkasse. Dan yes! Rekening di tangan (kartunya belum). Terima kasih Pak, jasamu tidak akan terlupakan, juga karena Bapak berkenan mengantar Anya ke toilet. 

Pesan moral: membuat akun bank, baik di Indonesia, di Jerman, dan mungkin di mana pun, seperti uji keberuntungan. Keberuntungan kamu kasuk ke cabang bank yang mana. Keberuntungan kamu datang di hari apa. Keberuntungan kamu bertemu dengan staf bank yang bagaimana. Ingin sekali colekin temen anak bank, Onyun, Gembulz, Nechan. Jadilah sebaik Pak Olaf. 

11 Juli 2017

On 23.48 by anya-(aydwprdnya) in , ,    No comments
Hari kemarin, ia memperkarakan tentang bahagia. 
Bahkan debu jalanan pun tidak menjawabnya.
Apakah memang tak bisa?

*   *   *
Di banyak tempat, orang merayakan bahagia dengan melempar tanda. Mencatat rupa kombinasi angka, juga menyerukan pujian suka. 
Di negeri, di mana langit penuh dengan layang-layang, segalanya berbeda.
Mereka memperingati bahagia dengan menari dan menyalakan dupa. 

Ini merupakan kisah pembuka, dari negeri yang langitnya penuh dengan layang-layang. Kisah pertama yang terizinkan melompat keluar dari jendela salah satu penghuni yang juga adalah penerbang. Penerbang layang-layang. Tidak ada dokumentasi autentik, tiada peninggalan artefak antik. Segalanya berasal dari sumber pencerita, yang terbahasakan, dan terharap membahagiakan. Bukankah bahagia adalah awal dan akhir dari segala?

Ini negeri di mana langit normalnya dipenuhi layang-layang. Negeri dimana angin tak pernah surut namun tidak segala hal diciptakan untuk terbang. Pada hari yang indah, penghuni dan juga penerbang akan menjilat ringan salah satu dari sepuluh jari tangan, kemudian mengacungkannya tinggi ke udara. Sebuah ritual, agar dengan angin mereka dapat bersua. Begitu pentingnya ritual tersebut, semua penghuni menguasainya tanpa mempelajari. Begitu sakralnya ritual tersebut, atas berkat para dewa, menjadi refleks pertama yang ditemui pada bayi-bayi. Penghuni negeri berevolusi, ditakdirkan untuk memuji angin di terik matahari. 

(Sembari bercerita, sang narasumber terlihat membasahi telunjuk tangan kiri dan mengangkatnya tinggi.)

Siang yang belum matang, banyak jari unjuk pada tangan-tangan terentang. Angin sedang menghembuskan senang. Semua yang tidak sedang berkepentingan di dalam rumah, berhamburan di halaman, di jalanan, di pematang di antara jejeran jagung yang bulirnya berwarna-warni. Dengan jemari terangkat tinggi, mereka menari. Menari dan tertawa. Menari hingga lupa. Menari dan dalam pikirannya nikmat bercinta. Menari dan bercinta, dibalut gulungan asap dupa. Asap dupa adalah hak milik para tetua. Kaum sepuh membakar dupa, sebagai ganti sendi yang tidak mampu lagi menari. Asap dupa akan menggantikan gerak mereka dan angin akan tetap riang menerima. Tepat setelah semua merasa bahagia sampai ke puncaknya, masih dalam tawa, layang-layang akan mulai mengudara. Selanjutnya, cerita adalah milik layang-layang, dan angin tentunya.

(Secara meyakinkan, narasumber menunjukkan tanda cinta buta pada angin. Cukup kenalkah Engkau dengan angin?)

*   *   *

Untuk angin yang bertiup terlalu kencang, kita semua menyalahkan barat. Untuk keruntuhan, untuk perlawanan,...untuk perubahan, kita semua menyalahkan barat.

Apakah angin timur memang terlalu lembut dan kemayu? Apa tidak mungkin angin hanya ada satu, namun ia gemar menipu. Menjadi barat kala pikirannya penat, kembali timur ketika sayup tenang menjelang tidur. 

Dan pertanyaan. 
Yang terus dilempar, terus menampar.
Seperti angin yang hanya satu namun gemar menipu, terus menampari layang-layang yang memenuhi langit. Penerbang layang-layang bersorak, saling mengakui liukan layang-layang masing-masing. 

Jauh di atas sana, tamparan makin sering dan keras. Angin makin keras tertawa. Hingga awan berkumpul dengan sesamanya karena iri hatinya. Mereka ingin ikut menampar, kelihatannya menyenangkan. Angin mencibir. Tak ada yang peduli bagaimana layang-layang perih dan mulai menangis. Angin dan awan, berdebat mengenai hal-hal seperti siapa yang pantas merajai langit. Menyatir tentang keindahan dan menyindir dengan sengit.

Layang-layang menangis. 

Jauh di bawah sana, tepat dimana sebelumnya mereka bersuka dan bercinta, semua makhluk berlarian. Mereka takut akan hujan. 

[Selesai untuk cerita pertama.]

Model Kebahagiaan (Kehakikian) dari Negeri Dengan Langit Penuh Layang-layang
(Segera didapuk sebagai ikon Urip Iku Urup)