4 Oktober 2011
![]() |
| Cover depan, mengantar kita untuk turut berandai-andai |
Kita seringkali berandai-andai. Andai saja aku lebih pintar..bila saja aku lebih kaya..coba aku punya lebih banyak kesempatan. Banyak 'andai' yang biasa mengisi pikiran kita dio setiap kesempatan. Namun 'andai' yang ditawarkan buku ini sedikit berbeda. Kategori 'andai' yang bukan hanya mempengaruhi satu individu saja, melainkan juga mempengaruhi penilaian dan perlakuan orang lain terhadap individu tersebut. Ini lebih tentang hubungan satu subyek dengan subyek lain yang tidak hanya terbatas pada hubungan romansa semata.
"Andai Aku Jalan Kaki, Masihkah Engkau Selalu Ada Untukku?" adalah sebuah refleksi yang mendominasi cermin kehidupan masa kini. Memandang dari mata seorang pemuda kaya, pintar, lebih segalanya, yang berandai-andai bila saja dia bukan dia, cerita ini tidak memilih untuk berakhir sebagai cerita picisan. Dengan bahasa yang ringan, santai, cerita yang mengalir bisa jadi membuat kita tanpa sadar bergumam, "Ooo..iya juga ya.." Berasal dari sebuah pengandaian sederhana, menjadi cerita yang sarat makna tentang hubungan sosial, perbedaan, dan penghargaan. Buku wajib baca bagi yang merasa kadar toleransi terhadap sesama mulai terkikis.
Rangkaian yang tidak harus dibaca habis sekali pegang. "Andai Aku Jalan Kaki, Masihkah Engkau Selalu Ada Untukku?" seperti popcorn baru matang pada hari Senin di bioskop. Renyah, ringan, dan kita bisa memilih untuk menghabiskannya segera begitu film dimulai, atau menyimpannya hingga tiba scene yang lebih istimewa.
[Ingin merekomendasikan buku ini untuk beberapa orang, apa boleh?]
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Search
Popular Posts
-
Disclaimer: Bukan tulisan tentang resep level basis untuk bertahan hidup (walaupun mungkin juga bisa iya). Kalau boleh menilai diri s...
-
Hari kemarin musik saya mati, saya sedih karena saya pikir saya tidak akan bisa menikmatinya lagi. Tapi ia meninggalkan sebuah kotak, da...
-
Adalah sebuah alasan lain untuk menulis pagi ini yaitu headset yang sudah lelah berfungsi dan dua jam perjalanan yang perlu dibunuhi. Aku b...
-
Selamat petang. Selamat berbahagia. Langit petang ini begitu indahnya. Langit adalah langit, di atas sana mungkin ia sama saja, malam...
-
Hari kemarin, ia memperkarakan tentang bahagia. Bahkan debu jalanan pun tidak menjawabnya. Apakah memang tak bisa? * * * Di ...
-
Throwback time to four years ago. Bukan masa yang terlalu dirindukan, aku masih dengan setelan merah muda pada kebanyakan hari dalam satu...
-
Pagi hari kemarin, burung kecil menoreh kedua kaki kecilnya, Dengan tiga sayatan nyaris simetris, Darinya meleleh darah semi kental nan am...
Recent Posts
Categories
- [EARGASM]
- 30Hari Bercerita
- Ahmad Wahib
- Aktivitas
- Bahasa
- Barcelona
- Birokrasi
- BYEE
- Cerita Dari Negeri Lain
- Co-ass
- Easy-Aci Exploring the World
- Event
- Ex-Berliner
- Family
- Fiksi Tapi Bukan
- Friendship
- Germany
- Golden October
- Inspirasi
- Japan
- Jerman
- Journey to the West
- Karya
- KKM
- Koas
- Kontemplasi
- Menulis Random
- Movie
- Puisi
- Quality Time
- Refleksi
- Romansa
- Serba-serbi
- Song of the Day
- Sweet Escape
- T World
- Tragedy
- Travel
- Trip
- Tulisan
- Urip Iku Urup

0 comments:
Posting Komentar