16 Juni 2016
On 05.12 by anya-(aydwprdnya) in Puisi No comments
TILL WE MEET AGAIN
Ketakutan adalah tatapan yang bila diulang tak lagi sama
Ketakutan adalah kesempatan yang terlalu langka, bahkan untuk dikarantina
Ketakutanku adalah tidak mengucapkan selamat tinggal dengan sempurna.
Karena sepucuk rasa takut, maka terambillah sebilah pisau paling tajam yang ditempa dengan rasa yang paling keras dan buta. Tanpa memalingkan muka, sebuah gerakan pasti memenggal satu-satunya tali yang memegang bulan agar tetap dalam tatapan.
Bulan tenggelam. Segera lenyap dari jangkauan, bergegas memasuki lapang pandang mata yang lain.
Satu, dua menanti, namun bulan tak kembali, karena ini adalah masa bulan mati.
Air pasang akan mengingatkan setiap insan di pinggiran.
Penanda masif oleh bulan di sepanjang Pantai Selatan
Yang bahagia, tak menginginkan apa-apa
Yang menanti, mengukir pasir sambil malu-malu menyentuh ombak yang meninggi.
[Hanya karena tiga hari ini langit secara konstan meneteskan batangan jerami, bukan jaminan bahwa rasa yang terbabat habis tak kan tumbuh lagi.]
"Aku takut setelah hari ini kita tidak menemukan waktu lagi."
"Aku takut perpisahan ini tidak terjadi berkali-kali."
Ketakutan adalah tatapan yang bila diulang tak lagi sama
Ketakutan adalah kesempatan yang terlalu langka, bahkan untuk dikarantina
Ketakutanku adalah tidak mengucapkan selamat tinggal dengan sempurna.
Karena sepucuk rasa takut, maka terambillah sebilah pisau paling tajam yang ditempa dengan rasa yang paling keras dan buta. Tanpa memalingkan muka, sebuah gerakan pasti memenggal satu-satunya tali yang memegang bulan agar tetap dalam tatapan.
Hari kemarin kataku mengikhlaskan.
Hari ini katamu kita biarkan. Riuh, rendah, redam.
Bulan tenggelam. Segera lenyap dari jangkauan, bergegas memasuki lapang pandang mata yang lain.
Satu, dua menanti, namun bulan tak kembali, karena ini adalah masa bulan mati.
Air pasang akan mengingatkan setiap insan di pinggiran.
Penanda masif oleh bulan di sepanjang Pantai Selatan
Yang bahagia, tak menginginkan apa-apa
Yang menanti, mengukir pasir sambil malu-malu menyentuh ombak yang meninggi.
Seekor burung ingin menanti.
Gaung dari karang berteriak, "Pergi!"
Waktumu tak sisa, aku masih ingin bersama
Waktuku memuai, namun takut tak akan terbuai.
Di bawah hujan,
Pisau di tanganku masih sama tajamnya.
[Hanya karena tiga hari ini langit secara konstan meneteskan batangan jerami, bukan jaminan bahwa rasa yang terbabat habis tak kan tumbuh lagi.]
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Search
Popular Posts
-
Seperti halnya kisah cinta, tidak semua perjalanan berakhir bahagia. Ini semacam sensasi pahit yang mengikuti tablet bandel yang sulit dite...
-
Bukan semata-mata karena ‘harus’ tinggal sebulan di negeri Sakura maka saya mencoba selihai mungkin dalam mengunakan sumpit. Dari dulu say...
-
Filmnya tentang cinta, tapi aku menulis tentang bantal. Aku tipe orang yang tidur tanpa bantal. Kalau pun aku punya bantal, keberadaanny...
-
Adalah sebuah alasan lain untuk menulis pagi ini yaitu headset yang sudah lelah berfungsi dan dua jam perjalanan yang perlu dibunuhi. Aku b...
-
Jelas ini bukan salah satu ekspresi penduduk Indonesia yang latah euforia tahu bulat. Apalagi download permainannya di Google Store kemudia...
-
Memasuki minggu kedua petualanganku di negeri Sakura. Aku sudah mulai terbiasa dengan dinginnya sapuan angin musim gugur, daun-daun yang be...
Recent Posts
Categories
- [EARGASM]
- 30Hari Bercerita
- Ahmad Wahib
- Aktivitas
- Bahasa
- Barcelona
- Birokrasi
- BYEE
- Cerita Dari Negeri Lain
- Co-ass
- Easy-Aci Exploring the World
- Event
- Ex-Berliner
- Family
- Fiksi Tapi Bukan
- Friendship
- Germany
- Golden October
- Inspirasi
- Japan
- Jerman
- Journey to the West
- Karya
- KKM
- Koas
- Kontemplasi
- Menulis Random
- Movie
- Puisi
- Quality Time
- Refleksi
- Romansa
- Serba-serbi
- Song of the Day
- Sweet Escape
- T World
- Tragedy
- Travel
- Trip
- Tulisan
- Urip Iku Urup
0 comments:
Posting Komentar