26 Januari 2017
Apa yang harus diungkapkan saat diantar sebelum pergi? Sampai jumpa? Doakan aku? Baik-baik selama aku pergi? Dan hal-hal lain yang lebih sering membuatku malah merasa tidak baik-baik.
Hari ini aku di sini lagi, di Bandara Ngurah Rai. Seorang teman (lagi) akan melanjutkan studi, dan aku akan mengantarkannya untuk bertemu sebelum pergi.
Dan...
Tiba-tiba aku sudah di sini, di Bandara Ngurah Rai. Sementara pikiranku masih mengusir rasa tidak nyaman menginjakkan kaki di sini sendiri, bagian lain otakku sudah lebih dulu menggerakkan badan lewat otot dan sendi.
Dan,
tempat ini, di hatiku, terlanjur menjadi satu titik sebelum lenyap, garis akhir sebelum senyap.
15 Januari 2017
Saya tidak punya pengalaman tentang kepemilikan uang yang banyak. Perihal hitung menghitung, jelas bukan bìdang saya, itu keahlian bapak saya yang akuntan, yang saya rasa tidak bersifat herediter, tidak ada sangkut paut genetisnya. Katakanlah saya sering 'main' bendahara-bendaharaan sedari SD untuk pembelian buku penunjang belajar, atau SMP saat entah mengapa dibebani jabatan bendahara OSIS, atau saat SMA memutar otak agar keuangan klub judo stabil. Tapi apa pun, saya tidak dibesarkan sehingga mengerti bagaimana rasanya uang di tangan yang boleh bebas digunakan, atau baunya lembar yang kalau dibelanjakan harus secara hitam di atas putih dipertanggungjawabkan. Pun karena lahir dalam keluarga yang cukup namun tak lebih, kemewahan seperti uang saku (nyaris) tanpa batas adalah kemustahilan yang sering saya dan rekan sepermainan impikan sambil berteduh di sela permainan galah kemudian kami hanyutkan bersama gemericik kali tempat kami menyau kecebong. Kalau kata bapak saya, uang...(nada dramatis), sebanyak apapun, jika bukan milikmu, maka bukan milikmu. Seperti halnya cinta... (saya agak ragu, untuk yang terakhir, apa bapak pernah berkata begitu).
Maka masa menghasilkan uang sendiri adalah bagai unicorn di mata Agnes, keindahan yang membuatnya mampu dewasa dengan cepat while everybody keep insist her not to grow up. Tapiiiiiii.......... (sepanjang satu napas penuh), saya mohon berhentilah beranggapan bahwa pekerjaan saya sebagai dokter mengizinkan kemewahan instan berlimang uang. Doa tulus saya merepetisi, mungkin belum. Saya dan banyak sejawat yang masa lulusnya sama-sama belum genap lima tahun pernah kerja dengan bayaran sepuluh ribu rupiah per jam. Pernah juga secara kalkulasi kasar dibayar seribu lima ratus perak untuk setiap pasien yang kami tangani. Saya sendiri pernah girang setengah mati setelah mendapat tip dalam mata uang US Dollar bergambar Eyang George Washington sebanyak dua lembar. Begitulah di beberapa waktu saya selalu menghitung dan berhitung.
Paradigma saya tentang uang berubah total, justru ketika saya menghadapi persoalan keuangan dimana ada hasrat untuk menuntut ilmu sampai ke negeri China (not literal) yang tidak diiringi dengan kesanggupan finansial. Beasiswa adalah opsi terbaik yang bisa saya pertaruhkan. Kita akan lewatkan kisah haru biru tentang kegagalan demi kegagalan. Hingga beasiswa LPDP menjawab rencana besar saya dengan kepercayaan untuk membiayai studi master saya, yang 'hanya' perlu saya tukar dengan loyalitas absolut pada tanah air. Easy peasy, benak saya kala itu, saya tidak sama sekali meragukan rasa nasionalisme saya. Pergolakan batin muncul menyusul ketika penyakit lama saya kambuh, menghitung. Saya menghitung detail biaya kuliah, akomodasi, biaya bertahan hidup, dan segala penunjang kelancaran studi lainnya. Saya tidak akan menyebut nominalnya disini, yang jelas naluri ketimuran saya mendominasi: merasa berhutang. Kalkulasi yang segalanya bisa diuangkan, diberikan, saya gunakan, maka sisanya adalah harfiah sebagai hutang. Kegalauan saya bertanya, apakah nasionalisme sebagaimana yang saya pahami adalah nasionalisme yang sama dengan yang dibutuhkan LPDP? Apakah uang yang saya hitung dan akan saya habiskan setara dengan harga badan saya ketika paska studi nanti?
*BaSE, dedikasi cicilan pertama.*
Ternyata banyak kawan penerima beasiswa memiliki pandangan semakna, negara memberi kesempatan bagi kita untuk berhutang, kewajiban kita adalah membayar. Dengan uang? Barang? Menanamkan kaki ke dalam pertiwi? Orang-orang terkasih dalam keluarga penerima beasiswa menyadarkan saya, "Bisa lho, Nya, hutang ini kita bayar dengan komoditas lain, sistem kredit." Maka lahirlah ide BaSE (Bali Scholarship Expo) sebagai cicilan nyata kami yang pertama. Sungguh, berkat keluarga awardee, saya meyakini pandangan baru tentang ini. Segala yang kita hitung dapat kita ganti dengan yang tak terhitung. Poinnya adalah, kapan dan bagaimana kita akan mulai menghitung hal tersebut yang tak terhitung.
*The unaccountable: Keluar Dari Kenyamanan Hanya Memikirkan Diri Sendiri*
Pertemuan demi pertemuan, ide, perdebatan, tawa, sedih, kecewa. Syukurnya, berhenti adalah satu-satunya ekspektasi yang tidak terjadi. Teman, karib, teman baru, kenalan yang jadi teman, kenalan yang tidak berujung kemna-mana, merupakan paket lain yang saya dapati selama BaSE, hampir setahun kemarin. Lucunya, kami yang kuantitasnya tidak melebihi sejumlah jari dua tangan pada awalnya saling lupa usia kami berapa (syukurnya). Saling berbeda profesi dan kerja. Saling beda selera, namun menertawakan lelucon yang sama. Kala itu saya masih bekerja di beda kabupaten, di tiga tempat totalnya. Hingga kini saya masih bertanya-tanya, energi yang membawa saya kesana-kemari datangnya dari mana (walau harus saya akui makan saya satu setengah kali porsi biasa).
Jangan tanyakan bagaimana, kami hanya sama-sama berhutang dan ingin membayarnya.
Kami, kalau boleh saya bilang, saling menyadarkan bahwa alangkah piciknya bila pesan yang tertuang dalam "surat hutang" kami (baca: kontrak beasiswa kami) tidak kami teruskan ke kandidat lainnya. Negara beritikad mencerdaskan kami, tugas kami hanya menggaungkan iklan kepada yang belum maklum, bahwa kesempatan itu ada dan nyata.
Tentang segala hal (yang menurut saya hebat) yang kami lakukan, saya bukan komponen sulkus girus, letak saya bukan kepala. Saya bukan sumber ide dan letupan kebrilianan lainnya. Saya, sekali lagi jika diizinkan memilih, kala itu hanya ibu jari. Menopang sedikit ketika tangan ingin menggenggam, dengan mudah mengacung bila siapapun layak pujian. Saya sama sekali tidak esensial, namun tetap ingin dinanti ketika satu waktu tidak berfungsi. Seperti itu, saya tidak paham sinergi acak ini membawa simpulan bahwa tentang beasiswa ini, saya merasa wajib mengurangi memikirkan diri sendiri. Akh, entah ini variasi ngelindur saya yang stadium lanjut. Ini semacam pengejawantahan rasa bangga dan jumawa tentang pencapaian bersama, yang saya ingin semua rekan penerima beasiswa juga merasakannya. Meraih dana beasiswa adalah hebat, namun bukan level tertinggi dari prestasi. Tingkat itu teramini ketika kita dengan sadar beritikad membayarnya kembali.
Seratus BaSE mungkin belum cukup melunasi akumulasi habis guna dari masing-masing kami. Bagi saya pribadi, BaSE (dan aktualisasi lainnya) memberi saya kesempatan selangkah mendekati lunas. Lebih penting lagi, orang-orang di dalamnya mengajari saya bagaimana cara mulai menghitung hal-hal yang tak terhitung.
Salam, di jeda hitungan yang masih amat panjang.
27 Desember 2016
Hari-hari terakhir menjelang pergantian tahun, hari ini, katakanlah lima hari terakir. Seperti ritual wajib bahwa sebagian besar dari kita mengakumulasikan kewajiban berpikir, berencana, dan berstrategi pada kemampatan waktu di penghujung tahun. Bagiku pribadi, itu merujuk pada hari yang berada di antara perayaan lahirnya Yesus hingga malam pergantian kalender Masehi (keluargaku di rumah secara faktual baru akan mengganti kalender pada awal tahun), dan efek dari proses berpikir-berencana-berstrategi tersebut biasanya mengikuti kaidah penghentian obat-obatan steroid: tappering off.
Ya, ada 365 hari (366 tepatnya di tahun kabisat ini), dan hanya akhir bulan Desember yang paling jumawa muncul menyajikan atmosfer dengan lapisan yang memfasilitasi hal-hal semacam harapan, cita-cita, mimpi...jujur saja, periode akhir tahun ini merupakan penggal waktu paling kuat dimana hasrat seperti menaklukkan dunia terasa paling nyata.
Banyak hal yang terjadi, trending topics bukan parameter yang relevan lagi dalam menentukan skala dampak sejarah. Mungkin kata atau frasa yang paling banyak diminati publik akhir-akhir ini menyangkut teror, nista...atau memuat tentang uang baru, pahlawan. Selain ‘telolet’ tentunya. Aku rasa hal yang tidak absen, sama dengan tahun sebelumnya adalah kaleidoskop. Dan resolusi. Ah, ya, bicara tentang resolusi, aku termasuk korban ide konvensional menumpuk resolusi setahun ke depan, menuliskannya di sudut notes, menulis-ulangkannya pada lembar memo tempel, kemudian merekatkannya di tepi cermin. Atau di pintu lemari buku. Atau di belakang pintu. Riset pribadiku yang tidak berdasar menemukan bahwa dari segala resolusi yang aku janjikan pada diri sendiri, hanya satu atau dua yang benar-benar terjadi. Sisanya tetap menempel hingga berdebu dan kembali menunggu tahun yang baru. Aku berasumsi bahwa setahun tenagaku memang hanya cukup memotori satu atau dua mimpi. Ya, itulah kenapa pendahulu kita menginovasi hal yang disebut prioritas. Bagaimana pun, akhir tahun ini aku masih setia beresolusi, namun tidak sebanyak tahun yang sudah lalu. Fokus lain tenaga dan cadangan NOS akhir tahun ini akan dialihkan menjadi bentuk perenungan, kontemplasi.
Bulan belakangan aku mati-matian menahan diri untuk tidak menuliskan apa yang ingin aku tuliskan. Bila tidak, maka aku hanya akan mereproduksi tulisan kotor yang terinspirasi dari pendapat kotor yang secara sistematis muncul dalam bentuk tautan dengan konten berskala agak kotor hingga sangat kotor yang mengotori berbagai laman sosial media dan media masa. Bayangkan betapa kotornya pikiranku belakangan waktu.
Kotor, hanya sebuah kata yang merepresentasikan bagaimana perasaanku melihat manusia meninggalkan batas yang manusiawi, yang kita dengungkan dalam berbagai asas kehidupan; Pancasila, UUD 1945, Dasa Dharma Pramuka, Tujuh Prinsip Dasar Palang Merah, Sumpah Hippocrates.
Akh, apa benar kita masih sepenuhnya binatang yang disebut manusia?
[Dalam perjalanan menjemput kontemplasi lainnya.]
NB. Tentang kontemplasi ini, sedikit banyak mengikuti anjuran penggunaan antihipertensi: start low go slow.
15 Desember 2016
Memiliki agenda bersampul lucu, saling menukar dan mengisinya dengan segala utopia pertemanan selamanya, atau paling tidak selama lembaran itu masih bertahan digerus tahun baru yang terus datang tanpa tahu malu.
Adakah yang benar-benar ingat apa rasanya?
Beberapa orang kesulitan menyimpan nama. Beberapa lainnya bermasalah dengan identifikasi dirinya.
Sepenggal hal yang layak dimuat di dalam buku semacam itu, adalah sebagai berikut.
Hal yang tidak disukai: tempat berair yang tidak beraroma laut.
Contohnya,
(1)perjalanan di sepanjang Tol Bali Mandara,
(2)jalanan Denpasar saat hujan terlalu lama,
(3)keran kamar mandi yang terbuka dan terlupa,
(4)pipi-pipi berotot tipis milik sang patah hati dan si jatuh cinta,
(5) lain sebagainya.
Hal yang disukai: segala lembab yang berbau laut.
Contohnya,
(1)pantai,
(2)wakame salad,
(3)senyum(bibir)mu,
(4) sebuah kursi di depan Indomaret,
(5) lainnya yang tidak menuntut proses berpikir ekstra untuk tertawa.
Aku mungkin akan terlalu malu jika seorang teman masih menyimpan dan menemukan kembali tulisanku.
Bukan tentang kenangan dan aib yang naif dan lugu.
Melainkan karena tahu, betapa jauhnya aku telah berjingkat dari masa lalu.
Siang ini langit mempermainkanku.
ada banyak warna putih tertelan tepian menganga biru.
Kita membisu,
angin terlalu semarak seperti konser Coldplay di hari sabtu.
...dan salah, seperti biasa.
Bukan langit yang bermain warna.
para awan lah yang beranjangsana,
dengan kanvas maha hampa sebagai tamannya.
Di luar dugaan, mereka jenaka.
Bayangkan saja, segumpal besar keabuan membentuk pesawat udara,
tepat menyanding seekor Thai Air yang mengangkasa.
Bayangkan lagi, lebih ke utara ia melukiskan rupa Ganesha,
hanya kali ini lebih merupa gajah lucu milik Tiara Dewata.
Aku hampir tertawa.
Kita tidak membahas cuaca. Kita tidak membahas pertandingan bola.
Kita mungkin ingin, tapi menahan diri untuk menyentuh agama.
juga menyentuhmu karena dimensi kita tak sama.
Salah satu dari kita, mungkin aku, mendengungkan lagu latar sebuah drama Korea,
yang kita santap bersama sarapan yang kumasak terlalu lama.
Salah satu lainnya, mungkin dirimu, membiarkan kata tersangkut di udara.
Kita memilih melakonkan cakrawala,
pada panggung yang arahnya jelas berbeda.
Kita, berdua
Kita tidak bicara.
Search
Popular Posts
-
Saya tidak punya pengalaman tentang kepemilikan uang yang banyak. Perihal hitung menghitung, jelas bukan bìdang saya, itu keahlian bapak say...
-
“Seseorang dapat menyempatkan diri mengunjungi Meksiko Utara dan bersedia menunggu 20 tahun demi melihat sekuntum Queen Victoria Agave me...
-
Konon katanya, dalam salah satu dari 13 partisi Confessions, St. Augustine mempertanyakan sebuah retorika massal; apa itu waktu? Terny...
-
Aku punya sebuah kotak make up. Iya, serius. Ini sedikit cerita dari dalamnya. Judulnya saja kotak make up. Nyatanya isinya tidak dima...
-
Jadi ceritanya begini: Beberapa hari kemarin, karena suatu alasan yang tidak sanggup aku jelaskan lewat tulisan, aku tidak punya akses moda ...
-
Sudah malam lagi, menjadikannya genap satu rotasi bumi terlewati. *status: pinjaman. Pikiranku tidak begitu ingat kapan terakhir ...
-
Setiap pertama pastilah tidak mudah. Bagiku tidak pernah mudah. Pertama itu adalah kebodohan di tengah rasa ingin tahu, rasa segan disela ...
Recent Posts
Categories
- [EARGASM]
- 30Hari Bercerita
- Ahmad Wahib
- Aktivitas
- Bahasa
- Barcelona
- Birokrasi
- BYEE
- Cerita Dari Negeri Lain
- Co-ass
- Easy-Aci Exploring the World
- Event
- Ex-Berliner
- Family
- Fiksi Tapi Bukan
- Friendship
- Germany
- Golden October
- Inspirasi
- Japan
- Jerman
- Journey to the West
- Karya
- KKM
- Koas
- Kontemplasi
- Menulis Random
- Movie
- Puisi
- Quality Time
- Refleksi
- Romansa
- Serba-serbi
- Song of the Day
- Sweet Escape
- T World
- Tragedy
- Travel
- Trip
- Tulisan
- Urip Iku Urup

