26 Januari 2017
On 01.00 by anya-(aydwprdnya) in Refleksi No comments
Perihal antar mengantar di bandara, jelas aku bukan penggemarnya. Aku tidak suka mengantarkan kepergian, sama tidak sukanya dengan diantar setiap akan pergi kemana-mana. Bukan. Ini bukan rasa tidak suka semacam afek antisosial atau kepribadian yang soliter. Bukan pula unjuk aksi bahwa aku mandiri dan melakukan segala hal sendiri. Keduanya, mengantar dan diantar, membangkitkan rasa tidak suka yang lebih masuk ke dalam kategori kecanggungan yang mengarah pada rasa tidak nyaman.
Apa yang harus diucapkan saat mengantarkan keberangkatan ke bandara? Selamat jalan? Semoga perjalanannya menyenangkan? Baik-baiklah disana? Jangan rindukan aku? Menggelikan bagiku karena aku sering mengucapkan itu padahal sesungguhnya aku sangat ingin dirindu.
Apa yang harus diungkapkan saat diantar sebelum pergi? Sampai jumpa? Doakan aku? Baik-baik selama aku pergi? Dan hal-hal lain yang lebih sering membuatku malah merasa tidak baik-baik.
Dan...
Hari ini aku di sini lagi, di Bandara Ngurah Rai. Seorang teman (lagi) akan melanjutkan studi, dan aku akan mengantarkannya untuk bertemu sebelum pergi.
Dan...
Tiba-tiba aku sudah di sini, di Bandara Ngurah Rai. Sementara pikiranku masih mengusir rasa tidak nyaman menginjakkan kaki di sini sendiri, bagian lain otakku sudah lebih dulu menggerakkan badan lewat otot dan sendi.
Dan,
tempat ini, di hatiku, terlanjur menjadi satu titik sebelum lenyap, garis akhir sebelum senyap.
Hari ini aku di sini lagi, di Bandara Ngurah Rai. Seorang teman (lagi) akan melanjutkan studi, dan aku akan mengantarkannya untuk bertemu sebelum pergi.
Dan...
Tiba-tiba aku sudah di sini, di Bandara Ngurah Rai. Sementara pikiranku masih mengusir rasa tidak nyaman menginjakkan kaki di sini sendiri, bagian lain otakku sudah lebih dulu menggerakkan badan lewat otot dan sendi.
Dan,
tempat ini, di hatiku, terlanjur menjadi satu titik sebelum lenyap, garis akhir sebelum senyap.
Ah, tempat ini ramai sekali.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Search
Popular Posts
-
Disclaimer: Bukan tulisan tentang resep level basis untuk bertahan hidup (walaupun mungkin juga bisa iya). Kalau boleh menilai diri s...
-
Hari kemarin musik saya mati, saya sedih karena saya pikir saya tidak akan bisa menikmatinya lagi. Tapi ia meninggalkan sebuah kotak, da...
-
Adalah sebuah alasan lain untuk menulis pagi ini yaitu headset yang sudah lelah berfungsi dan dua jam perjalanan yang perlu dibunuhi. Aku b...
-
Selamat petang. Selamat berbahagia. Langit petang ini begitu indahnya. Langit adalah langit, di atas sana mungkin ia sama saja, malam...
-
Hari kemarin, ia memperkarakan tentang bahagia. Bahkan debu jalanan pun tidak menjawabnya. Apakah memang tak bisa? * * * Di ...
-
Throwback time to four years ago. Bukan masa yang terlalu dirindukan, aku masih dengan setelan merah muda pada kebanyakan hari dalam satu...
-
Pagi hari kemarin, burung kecil menoreh kedua kaki kecilnya, Dengan tiga sayatan nyaris simetris, Darinya meleleh darah semi kental nan am...
Recent Posts
Categories
- [EARGASM]
- 30Hari Bercerita
- Ahmad Wahib
- Aktivitas
- Bahasa
- Barcelona
- Birokrasi
- BYEE
- Cerita Dari Negeri Lain
- Co-ass
- Easy-Aci Exploring the World
- Event
- Ex-Berliner
- Family
- Fiksi Tapi Bukan
- Friendship
- Germany
- Golden October
- Inspirasi
- Japan
- Jerman
- Journey to the West
- Karya
- KKM
- Koas
- Kontemplasi
- Menulis Random
- Movie
- Puisi
- Quality Time
- Refleksi
- Romansa
- Serba-serbi
- Song of the Day
- Sweet Escape
- T World
- Tragedy
- Travel
- Trip
- Tulisan
- Urip Iku Urup

0 comments:
Posting Komentar