Defect, anomali...and perspective

20 Oktober 2016

On 09.13 by anya-(aydwprdnya) in , ,    No comments
Bila ada yang masih menyimpan tanya, tentang kabarku bagaimana, aku dimana, sedang apa, semalam berbuat apa, dan seterusnya... Maka aku harus menjawab bahwa segalanya baik-baik saja, aku kembali bekerja sambil mengantisipasi segala detail perubahan rencana. Aku bekerja. Seperti biasa, mengerjakan hal penting tak penting yang aku suka, sambil di selanya bekerja (menghasilkan uang) demi membiayai penting tak penting yang aku maksud tadi.

Menekan tombol reset, masuk ke mode kerja dengan situasiku bukan hal yang sulit, namun juga tak mudah. Setahun belakangan aku mengalami siklus kerja-resign berkali-kali di berbagai tempat yang berbeda. Menyenangkan karena akhirnya aku kembali menemukan tempat kerja baru untuk bernaung sementara waktu, namun bagaimanapun otak ini perlu beradaptasi dan perlu waktu. Karenanya, begitu Lia, teman lama dari masa SMA, mengajakku untuk bersenang-senang, aku merasa harus menyingkirkan beberapa jadwalku untuk itu. 

Clean Bali Series
Dari judul kegiatannya aku berasumsi bahwa ada rangkaian kegiatan lainnya, selain acara hari Minggu, 16 Oktober 2016 yang kebetulan bertempat di Oemah Apik, Pejeng, Gianyar. Aku mengorek sedikit, modus rangkaian kegiatan ini adalah sejalan dengan namanya, berbasis lingkungan, fokus pada pendidikan lingkungan bagi anak. (Pada titik ini aku merasakan kerinduan yang dalam sekali pada Pondok Buku Genitri, mengingat bagaimana konsep sederhana yang serupa juga kami pikirkan sepenuh hati.) Kelemahan dan kenaifanku yang tak pernah berubah, dimana ada anak-anak tertawa, di sana ada ceria, di sana awal cerita, dan di sana obat mujarab untuk segala sedih. Maka jangan pertanyakan bagaimana aku tiba di sana dengan semangat membara seakan aku tidak jaga malam di sabtu sebelumnya. Terima kasih Google Map yang menunjukkan jalan kebenaran hingga insan ini tidak terlunta di bumi Gianyar. 


Oemah Apik, selayak namanya, apik benar. Sebenarnya tempat ini berformat villa yang dikomersilkan. Hanya saja karena si pemilik memiliki kepedulian tinggi terhadap anak-anak, maka diselenggarakanlah kegiatan Clean Bali Series ini di Oemah Apik ini. Tempat yang menyenangkan untuk menghabiskan hari minggu bila aku masih anak-anak (bahkan juga sebagai wanita 26 tahun). Juga tempat yang indah untuk bertemu dengan Pak Taro, bintangnya kegiatan minggu kemarin.

Pak Taro, Koran Minggu, dan Kisah-kisah Masa Lalu.
Ini kali pertama aku bertemu langsung dengan beliau. Kali sebelumnya, hanya lewat cerita yang aku catut dari koran pagi tanpa seizin beliau atau siaran TVRI. Tak banyak kesempatanku berinteraksi dengan beliau, jelas beliau harus fokus pada anak-anak. Secara sepintas beliau memancarkan aura mengayomi, setelah lewat sebuah dongeng dan beberapa gimmick dengan anak-anak, kesan tambahanku adalah beliau mesti adalah guru yang tegas. Jika aku anak-anak, aku akan berpikir bahwa Pak Taro adalah guru yang galak, haha, maafkan saya, Pak. Saya juga bukan murid yang baik. 


Mendengarkan Pak Taro, melihat fluktuasi emosi anak-anak, mengingatkanku pada masa lalu dimana aku pernah menjadi tanah liat yang dibentuk salah satunya lewat dongeng-dongeng dan cerita lisan maupun tulis. Indah, menyenangkan, masa dimana aku tidak wajib memikirkan masalah dunia.



Apa yang rela kita tukar dengan deretan kartun (yang kini nyaris punah) di hari Minggu pagi?
  • Bertemu teman baru?
  • Bermain di halaman berumput?
  • Tertawa hingga lupa waktu?
  • Melewatkan mandi, lalu bermain lagi?
  • Melupakan ada ulangan esok hari?
  • .....(isi sendiri)



Aku mendapatkan pelarianku di hari minggu pagi. Bersama anak-anak aku merasakan akrab yang tak asing. Aku boleh menjadi apa saja. Aku tidak harus dokter. Aku boleh menjadi teknisi pesawat. Aku bisa menjadi pengrajin kayu. Aku boleh menjadi kolektor batu akik. Aku tidak dilarang mengingkari beban yang menempel sejak awal bulan. Seperti berhenti di ruas jalan tol, keniscayaan yang bebas aku main-mainkan. 

Namun aku harus subyektif, karena bagaimanapun aku hanya merangkum kembali hari itu yang berkesan bagiku. Juga referensi untuk hari nanti bersama anak yang sama atau beda. Kadang beberapa anak bosan, kadang beberapa anak teralihkan perhatiannya. Di saat yang sama, tentu kita ingin segalanya berjalan sesuai rencana. Mengalah saja, biarkan anak-anak menikmati keriaannya. Aku adalah defender nomor wahid bila seseorang tega merampas senang milik minggu ketika kita terlibat dalam lingkungan yang mengamini setiap anak untuk bersekolah dari senin hingga sabtu. Beberapa kali aku merasa terganggu karena oknum kakak gemas melihat oknum anak yang nyleneh, sulit diatur, dan menolak diperintah. Karena dedikasi hari itu adalah suguhan untuk keceriaan mereka, biarkan mereka kenyang karena senang. Bilapun bosan, tanggungjawab kita semua untuk menyuguhkan menu yang berbeda.

Sisanya, hari minggu kemarin adalah short escape yang membuka pikiranku akan hal-hal besar lainnya. 

Sekali lagi, terima kasih atas perhatiannya. Aku baik-baik saja.

19 Oktober 2016

On 17.57 by anya-(aydwprdnya)   No comments

Sedih yang paling sedih adalah sedih yang tidak boleh ditunjukkan. Sama halnya dengan rasa yang tidak mendapatkan pengakuan. Dan dilema yang ada karena kita izinkan. 

Sedih semacam itu sama seperti aroma aerosol pengharum ruangan, semakin kita hirup semakin cepat wanginya raib. Dan ketika aku berulang kali merasakan sedih yang sama, aku tahu, ini karena aku tak pernah berani menghirupnya terlalu lama, akibatnya ia selalu sisa.

Maka, aku bercerita. 

*   *   *
Gadis kecil tak akan pernah yakin harus memanggilnya apa. Kepala kecilnya kala itu terdoktrin bahwa lelaki itu bukan siapa-siapa, bukan keluarga, dan keberadaannya dalam lapang pandang gadis kecil tidak mengartikan apa-apa. Jikapun gadis kecil menemukan panggilan yang menurutnya pantas, lagi-lagi menurut otak kecil dalam kepala kecilnya, maka itu hanya demi norma dan sebagai bentuk formalitas. 

Gadis kecil tak tahu banyak cerita tentangnya. Selain tentang ia ada, mengenai asal muasal, gadis kecil (hingga ia tidak kecil lagi) hanya pelantun cerita dari bukan sumber pertama. Sebagian besarnya ia yakini sebagai rekaan belaka. Sejujurnya gadis kecil tidak peduli. Bagi anak berumur kurang dari lima, yang terpenting adalah ada hangat ketika tidak sendiri. Pada masa itu, banyak memori yang diracik bersama si lelaki.

Pernah suatu hari, sial menempeli angkot pagi, angkutan pulang taman kanak-kanak gadis kecil, dimana ia bersebelahan dengan ibu-ibu yang baru pulang dari pasar. Si angkot tua tiba-tiba mati. Di pinggiran desa yang terlalu jauh dengan satuan jangkauan kaki. Melihat rumah berkat motor tua yang dipinjam sopir yang bertanggungjawab tidak serta merta membuat segala takut menjadi sirna. Sekantung plastik ikan segar, yang akan menjadi santapan sekeluarga, terlupa. Tergeletak mengait pada salah satu besi lengkung di dalam angkot. Gadis kecil memutuskan kembali. Bersamaan dengan drama hujan menari untuk bumi. Kala itu hanya ada sedikit insan yang mengerti, salah  satunya adalah si lelaki. Payung yang berlubang bahkan kelelahan menahan hujan. Kaki kecil lelah menyerah dalam gendongan. Beratus kali gadis kecil berpikir, andai dalam hal berjalan dan menggendong itu mereka bisa bergantian.

Hari tidak beruntung lainnya. Gadis kecil bermain terlalu ceria di halaman sekolah, beberapa tahun sejak ia melupakan sekantung plastik ikan saat pulang menumpang angkot dari taman kanak-kanak. Ia terjatuh, tidak sengaja atau iya, ia lupa. Wajahnya berdarah penuh luka, salah satunya menganga. Entah masa itu ada apa dengan P3K, seorang petugas sekolah justru membawanya pulang ke rumah. Tidak ada siapa pun, kecuali lelaki yang bukan siapa-siapa. Diulangi, lelaki yang bukan siapa-siapa. Anehnya, ia yang paling marah. Lelaki mendatangi sekolah (aku lupa apa saat itu ia menggenggam sabit saat marah), menanyai setiap temanku sampai lelah. Hingga akhirnya ia menyadari wajah gadis kecil masih memiliki luka yang meskipun tidak parah, namun tak henti melelehkan darah. Hari itu, gadis kecil mendapat lima atau tujuh jaritan di pelipis dan dagu.

Tahun berganti, gadis kecil mungkin tidak kecil lagi. Ia melihat dunia, ia mengejar cinta, ia menjadi apa yang ia suka. Serangkum masa, dimana sedikit sekali memori yang terekam bersama si lelaki. Sementara gadis kecil beranjak dewasa, lelaki bertambah tua. Tentu saja. 

Lelaki yang beranjak tua, bukan karakter favorit manusia. Ia tidak ramah pada segala tetek bengek dunia. Ia marginal, pada beberapa momentum ia bahkan kriminal. Gadis kecil tidak pernah membencinya, gadis kecil tidak pernah punya nyali untuk membenci. Maka kuncuplah sekuntum dilema disana, baik pada lelaki akan menyulut iritasi pada orang lain di dekatnya. Keras ia berusaha menjadi bukan siapa-siapa, tak pernah bisa. Ia tetap memijati lelaki jika ada waktu luang (ketika usianya masih kecil ia memijat dengan kaki, berjalan di punggung lelaki dan berpura-pura gumpalan otot berbalut kulit gelap milik lelaki sebagai jalan di perbukitan yang menyenangkan). Ia mengantarkan lelaki membeli kebutuhan perut setiap waktunya luang. Ia kadang menyelundupkan makanan, dan bila masih punya, sebelum pergi gadis kecil yang kini sudah besar akan meninggalkan sejumlah uang. 

Bukan hanya pada si lelaki hidup berlaku keras. Gadis kecil juga memiliki prioritas. Gadis kecil mulai lelah menjadi satu-satunya yang tidak abai pada si lelaki. Apalagi ia mulai membicarakan hal yang tidak gadis kecil minati. Hal-hal seperti apa yang lelaki miliki dan bahwa lelaki akan mati. 

Tiga hari. Tiga hari atau lebih ia tidak menampakkan diri. Manusia hidup, seberapa sendiri, wajib berjumpa dengan matahari. Saat itulah gadis kecil bersama mereka lainnya yang bukan siapa-siapa menyadari akan ada hari yang berat. Lelaki, yang entah sejak kapan menjadi sangat tua, sekarat. 

Waktu menyimpan misteri mengenai kapan ia lalu, tapi apalah manusia yang tidak pernah tahu. Hari dimana gadis menemukan lelaki sekarat, ia tidak tahu harus apa. Ia menyiapkan air gula, menyuapinya dengan bubur dan telur, membersihkan kotoran di alas tidurnya, berpikir tapi tak bisa merangkum apapun. Lelaki tua berkata, "Apa kamu bisa meminta satu hari libur?". Tidak, lelaki tidak berkata, ia meminta. Gadis kecil menjawab sambil menyuapkan air gula dengan sendok logam yang gagangnya mengkonveksikan panas, "Tidak bisa, aku harus bekerja."

Hari berikutnya, gadis kecil dan lelaki bertemu, sudah tidak ada lagi kata. Lelaki sudah tidak ada di dunia. Sedih itu, ya, sedih yang sama persis dengan yang kadang muncul sewaktu-waktu. Seperti varicela yang dorman dan muncul bila imunitas terganggu. Lelaki, yang akan selalu bukan siapa-siapa, pergi. Gadis kecil bertanya, apa rasanya berkabung seorang diri. Selama beberapa hari, gadis kecil menjaga nyala lilin dari lintingan kapas terendam minyak agar tak mati. Selain dalam wujud jasad pucat pasi, setengah hatinya ingin si lelaki ada disini.

*   *   *

Aku terlalu memperkarakan apa,
Aku selalu memperhitungkan siapa,
Sementara aku sibuk mempertanyakan segalanya, aku lupa bahwa kami pernah sama-sama manusia.

Andai menuliskannya akan membuatku kembali lupa.

Belum setahun bersedih sendiri, 19 Oktober 2016

19 September 2016

On 08.11 by anya-(aydwprdnya) in ,    3 comments

Kita akan menggigiti delapan,
delapan sudah terlalu lama mendominasi figur tak terbatas, dari kasta kemajemukan yang paling atas.
Delapan, fleksibilitas yang enggan berubah rupa. Seperti dingin dari secangkir kopi hangat yang menyusupi ujung jari di bawah meja. Kepastian yang selalu diragukan.

Kita akan merobek delapan, 
Sang Bentuk dari cacat dan hina yang dipuja dan disempurnakan. Lembaran daur ulang yang terlukai sekaligus dibanggakan. Ada noda lama yang menunggu hilang lenyap. Tapi ia? Kita? Senyap.

Kita sepakat akan memecahkan delapan.
Memperlakukannya seperti suara sumbang dari deretan merdu yang terdustakan. Meninggalkannya dengan tidur lelap tepat ketika kisahnya klimaks tentang bintang nan kerlap. Mengisinya dengan cair dan udara, kemudian menghapus sidik jari kita yang tertinggal di permukaannya. Atau skenario yang paling sadis, kita akan membiarkannya nyala hingga menyublim habis. 

Kita akan menyayat delapan,
Iya, delapan yang sama yang mencerahkan langit demi melenyapkan pelangi.
Delapan yang juga memarkirkan kendaraannya di pinggir jalan sesuka hati.
Delapan yang merayu mawar agar mengizinkannya menjadi duri.

Aku akan membunuh delapan.
bukan demi kita atau mengatasnamakan kebenaran.
Semata-mata karena delapan sudah terlalu lama berada di antara tujuh dan sembilan.

Maafkan, Delapan.

[Delapan hanyalah pilihan acak yang menjadi kambing hitam atas rasa muak yang memuncak. Tenang saja, akan segera ada "There is No Good in Goodbye" milik The Script dalam playlistmu. Tentu saja kita akan mengenang bagaimana perdebatan yang menyenangkan sepanjang perjalanan sepulangnya kita setelah menonton Train to Busan dan memperdebatkan nilai moral dari Bad Moms. Satupun tidak berkaitan dengan Delapan. Sekian]

18 September 2016

On 00.41 by anya-(aydwprdnya)   No comments

Sejak dua belas hari yang lalu, setiap malam, hal yang terbilang aneh terjadi padaku. Sejak dua belas hari yang lalu, setiap pukul tujuh, dua bercak merah muncul di lengan bawah sisi dalam sebelah kiri. Sejak dua belas hari yang lalu, selalu. Sepenuh hati aku mensyukuri fenomena ini. Paling tidak dua belas malam sudah, tanda ini menyeretku mendekati gelisah, namun sekaligus membebaskanku dari kompilasi malam yang terlampau resah. Tanyakan padaku, bagaimana mungkin udara mengizinkanku lepas dari tanya? Dua bercak merah, ada, begitu saja. Jikalau tanda ini peninggalan naluriah semacam serangga, bagaimana bisa hadirnya selalu pada bidang anatomi yang sama? Katakanlah memang sejenis nyamuk yang mencumbu, apa penjelasanmu tentang kesamaan jumlah yang seperti menyandikan rindu? Kalau pun sesuatu itu begitu normatif menghajar sistem limbikku dengan skema yang terlampau rapi, jahat itu tetap di genggamanmu, yang tak henti bertanya di kala aku terlalu kosong untuk menjawabnya.

Namun...
Namun... Selalu satu atau sepasang pengecualian untuk kompleksitas yang disamarkan sebagai harapan. Percaya saja, hal-hal magis hanya satu dari jutaan rahasia tata surya. Yang sulit diterima adalah sensasi yang menyenangkan hati pada banyak kali tertaut limitasi. Seperti bercak ini, muncul pukul tujuh, lenyap sesaat setelah jam sepuluh. Ya, begitu saja, menyaingi banyak keanehan lainnya di dunia.

Anomali adalah muse, provokator yang ditujukan untuk memulai tanya, sementara repetisi adalah modal awal yang cukup untuk menganalisa.

Sebuah alasan. Hanya perlu sebuah alasan. Entah reka atau nyata yang tidak ada korelasinya. Ketika rasa ingin-baik-baik-saja mengantarkanmu pada titik dimana akhirnya tidak apa jika terlihat tidak-baik-baik-saja. Jadi, bisakah kamu mengerti bagaimana dua makula misterius mengalihkanku dari segala gila yang semakin serius?

Ini alergi. Ya, ini seharusnya adalah reaksi alergi. Reaksi alergi, boleh juga disebut hipersensitivitas, pada dasarnya adalah aktivitas berlebihan dari sistem kekebalan tubuh...dan tidak akan ada kilas balik kelas imunologi disini. Maka, apalagi kalau bukan alergi. Aku ingat bagaimana secara naluriah melontarkan kata itu setiap kali berhadapan dengan hal yang sulit dijelaskan. 

Apa alergenku? Aku alergi tatapan mengancam setiap kucing yang pernah aku temui. Aku alergi tidur dengan alas bantal. Aku alergi lembaran bubble wrap yang gelembungnya habis terpecahkan. Aku alergi masakan pedas. Aku alergi makan sendiri. Aku alergi pada panggilan telepon di hari libur. Aku alergi hari minggu yang terlalu pagi. 

Kali ini, apa alergenku? Aku alergi menjawabi dunia saat kamu absen di sini. 

Berhentilah menghakimi, bahkan nyeri yang melibatkan 'hati' butuh sensitisasi. Aku sungguh menahan diri untuk memasuki lapang pandangmu, bertahan satu sentimeter di luar kubah transparan yang dibuat atas imajinasiku. Berandai-andai, jika aku berhasil menghubungimu dan menceritakan tentang dua bercak misterius di kulitku, apakah kamu akan menyuruhku minum antihistamin, atau kamu akan memintaku menjauhimu dan berhenti bermain.

*   *   *

Ini hari Minggu. Aku ingin menonton film kartun seharian sambil menghangatkan ujung kaki di balik selimut sementara tetes hujan memercik sesekali pada jendela kamarku. Aku juga ingin makan otak-otak dan sate ceker di angkringan yang hanya meminta dihargai kurang dari dua puluh empat ribu untuk sepenuhnya perutku. Di saat yang sama aku ingin kesederhanaan setara memelukmu tanpa alasan. Demi jarum jam yang bergerak, ini masih hari Minggu, aku hanya akan menunggu sampai pukul tujuh.



10 September 2016

On 01.48 by anya-(aydwprdnya) in ,    No comments

Aku selalu menyukai September. Sejak lama, September selalu menyisipkan hal-hal baik untuk terjadi dalam salah satu atau dua dari tiga puluh hari di dalamnya. Bisa aku katakan di sini, hal terhebat pertama yang dihadiahkan oleh September dalam hidupku adalah tidak tertukarnya aku sesaat setelah aku dilahirkan. Aku sangat bersyukur untuk itu. Selanjutnya, September tidak pernah absen menawarkan kebahagiaan. Seperti penanggal yang umum dipercaya dimulai pada Januari, bagiku, tahun baru adalah pada bulan September. Segala rencana (yang menurutku) hebat, pencapaian yang aku rasa pantas untuk dirayakan, mimpi-mimpi besar, sama seperti aku, lahir di bulan September. Selalu, hingga kita tiba di tahun ini. 

Untuk pertama kalinya, September belum memberi tanda untuk sebuah euforia. 
*   *   *

Entah kupelajari dari mana, sejak kecil aku memiliki pemahaman dalam otakku bahwa ketika aku menemukan uang secara kebetulan, dan ingin memungutnya, maka aku harus menukarnya dengan nominal yang lebih kecil. Misalnya, lembaran sepuluh ribu ditukar dengan logam seratus rupiah, letakkan tepat di titik yang sama. Kekanak-kanakanku kala itu mengartikan si logam penukar sebagai harga beli  kebahagiaan yang aku rasakan saat menemukan uang (See? Harga kebahagiaan masa kecilku sedemikian murahnya). Seorang teman penggemar fisika menyebutnya sebagai kekekalan energi. Tidak ada penambahan dan pengurangan di semesta ini, yang ada hanya wujud yang berganti dan kemunculan yang tidak pasti. Kalau aku ingin memperpanjang masalah ini maka akan aku coba menjabarkannya dengan dasar ilmu probabilitas. Namun aku sedang tak ingin. Maka kita kembali saja pada perubahan-perubahan acak yang terjadi di muka bumi. 

Karena aku sudah kehilangan kekanak-kanakan yang sungguh aku rindukan, persona dewasa muda berumur dua puluh enam ini justru bermain analogi dengan jejak karbon (baca: carbon footprint), dan belakangan hari lebih nyaman menjelaskan (pada diri sendiri) segala fenomena dengan jabaran Tat Twam Asi. September ini mungkin tidak begitu ramah padaku, namun aku masih bisa menawarkan September terbaik yang orang lain bisa miliki. 

Akhir Pekan dan Boboiboy Game Card

Khilaf karena merasa dicurangi September berimbas pada afek keseharian kita. Benar, karenanya jangan main-main dengan September. Kejanggalan yang terjadi bisa berupa jatuh cinta pada hari kerja, mengusir akhir minggu agar segera lalu, dan mengutuk tanggal merah dan segala cuti bersama. Hari kerja memberi harapan, memberi spasi menunggu yang maknanya bisa diperdebatkan, makna yang susut ketika matahari Jumat lengser perlahan. Kemudian malam minggu, kemudian Minggu, keduanya tetap memaksa untuk ditunggu namun memuaikan waktu dalam ilusi yang buntu. Aku seperti kehilangan harapan pada kedua hari itu. Kini semua pekerja Senin-Jumat(Sabtu) akan mulai menyumpahiku. 

Hanya memikirkan keegoisanku saja sudah membuatku merasa hina. Siang ini aku sedikit mengubahnya. 

Aku sedang membeli makan siang yang terlalu sore di warung depan rumah kost. Sembari menunggu, aku menelaah setiap pengunjung yang juga datang ke warung. Baiklah, alih-alih menelaah, katakan saja aku memberi sedikit konteks sosial pada khayalan soliter yang mulai kehabisan wadah. Hingga datang seorang anak berusia sekitar enam atau tujuh tahun. Anak itu membeli satu Choki-choki yang ternyata sedang dijual dengan promosi kartu bermain edisi Boboiboy. Setiap membeli satu Choki-choki akan diganjar dengan sebuah kartu bermain dengan sistem blind. Mengingatkan aku pada Forest Gump dan sekotak cokelatnya. Aku sangat mengerti perasaan anak itu. Sebagai ex pengumpul banyak seri kartu bergambar hingga tazos, mendapat kartu dengan gambar yang sama adalah petaka. Nah, anak tersebut membeli satu Choki-choki sehingga berhak atas satu kartu acak. Jantungku keluar dari ritme sinus sesaat ketika anak itu mengambil dua kartu. Mungkin napasku terlalu dekat atau ia merasakan pandanganku hingga ia menoleh, dan mata kami bertemu. Dan jatuh cinta. Dan tamat. *ups.

"Eh, kok dua... ", ujarnya perlahan, dan mengembalikan satu kartu ke tempatnya semula seiring dengan senyumku yang semakin lebar. Ketika semua pesanan makananku rampung, anak itu masih di warung itu. Aku membayar semua barang yang aku beli dengan menambahkan dua ekstra Choki-choki. Aku tidak berencana mengambil kartu Boboiboy (hey! Masaku sudah lewat.) Tiba-tiba, si anak menghampiriku, "Tante, dapat kartu apa?". "Tante nggak ambil kartunya, Sayang. Tolong diambilkan ya.. "."Ini, Tante, dapatnya dua kartu."."Untuk Adik aja ya.. Dibagi juga sama temannya." Saat aku menoleh ke belakang, kulihat ia sedang menyodorkan sebuah kartu (yang aku yakini dengan gambar yang paling tidak ia suka) pada seorang anak lain. 

1. Aku merasa turut andil menggelitik bibit kejujuran pada anak itu. 
2. Aku memberi sedikit rasa senang dengan menyumbang tambahan koleksi kartu 
3. Aku menyentil sedikit rasa ingin berbagi paling tidak serupa dengan yang aku miliki. 
4. Aku tidak marah walaupun anak tersebut memanggilku tante. 

Begitulah hal terbaik yang terjadi padaku hari ini.

Hai Anak Penggemar Boboiboy, semoga September selalu ceria untukmu.
Hai, keegoisan yang membuatku hina, pada setiap kemunculanmu aku akan mulai tertawa. Tertawa sekerasnya sampai keluar airmata. Tiba-tiba, aku begitu saja ingin menjemputmu pulang, tertawa bersama sembari membahas dan menganalisa episode-episode drama Korea dengan Lee Seung Gi di dalamnya. 

Masih ada dua puluh hari lagi di bulan ini.