15 Agustus 2016
Masa sebelum kamu, aku bukan pengemar masakan kepiting. Bukan karena tidak suka rasanya (sesungguhnya lebih dari suka), melainkan karena tidak suka kerepotan yang ditimbulkan oleh cangkangnya. Aku bukan orang yang memuja kerumitan ekstra untuk hal yang sederhana, masalah makan adalah salah satunya. Makan adalah aktivitas memanjakan diri, dengan catatan tidak dilakukan sendiri.
Sebuah kalimat yang entah terpungut dari mana, aku menyukai dan menyetujuinya; dua hal yang paling menyedihkan di dunia ini adalah kelaparan dan sendirian. Diferensiasi dari premis tersebut adalah aku tidak suka makan sendirian (dimana logika?)
Masa dengan kamu di dalamnya, adalah sebuah kenyamanan tersendiri untuk menikmati rasa daging kepiting tanpa kerumitan yang aku sebutkan tadi. Seperti layaknya pada berbagai latar cerita yang berbeda, ada kamu, voila! masalahku sirna. Pertanyaannya adalah, apakah segala masalah memiliki tingkat kebebalan setara cangkang kepiting masak telor asin?
Masa dengan kamu yang masih bergentayangan di dalamnya, mohon izin membuatnya jelas dan sederhana. Aku dan kamu dan kepiting dan makanan lainnya dengan diameter radius terbentuk tak lebih dari seratus dua puluh sentimeter. Dalam lingkaran itu, aku adalah pemuja sederhana yang memandangimu berjuang memutus, menekuk, menggigiti, memecahkan lapisan kitosan yang berwarna oranye kemerahan. Aku menunggu, sepasif koala menanti bergantinya hari, dengan kamu adalah lembaran eucalyptusku. Eucalyptus yang ritmik melakukan gerakan menaruh daging kepiting di atas alas makanku. Sedap, bukan lagi rasa yang terkecap lidah, melainkan sensasi yang menyeruak sedikit agak di bawah.
Kepiting salju, kepiting papua, kerang merah, kerang bambu, kerang darah, kepiting bakau, betina, rajungan. Celotehanmu.
* * *
Packing,
Sejauh apapun, selama apapun, bagiku tak pernah mudah. Kadang melihat daftarnya saja membuatku lelah.
Malam ini, di hadapan koper yang masih tidak karuan, aku tak bisa berhenti memikirkan kamu dan cangkang kepiting yang bertebaran.
Ps. Special thanks to Onyun and Robert and my superb gank, Gembulz, Nessya, Pera, Rikco (and his plus one) and Kodok. You've made my night yesterday so I got some 'extra packing spirit' this whole day and night.
Search
Popular Posts
-
Hanya sebuah perjalanan rutin dari Denpasar menuju Tabanan, semata-mata karena ada hati yang merindukan rumah, meski tubuh yang memerangkapn...
-
Bicara tentang salah satu yang merindu. Kamu boleh rindu aku. Aku pun begitu, boleh rindu kamu. Tapi rindu milikmu dibatasi prasyarat ba...
-
Akhir-akhir ini aku sering sulit tidur (bukan cuma akhir-akhir ini saja sih..). Mengisi jam-jam sulit tidur, jadilah yang aku lakukan adalah...
-
Hari ini libur, hari ini tanggal merah, hari ini seharian ngendon di rumah. Itu sajakah? Hey, Bung! Hari ini ada hal yang lebih besar, yang ...
-
Banyak orang yang pernah menceritakan airport ini dengan pujian. Sayangnya, di kesempatan pertamaku menginjakkan kaki disana, aku tidak ...
-
Kemana saja saya selama ini? Saya memeriksa ulang penanggal hari ini, kejanggalan saya merasa terlempar di hari yang salah. Kemana say...
-
Sesuai dengan jadwal perjalanan, rute yang kami tempuh adalah Jakarta-Singapore-Frankfurt (kalau aku ditambah Bali-Jakarta pastinya) ke...
Recent Posts
Categories
- [EARGASM]
- 30Hari Bercerita
- Ahmad Wahib
- Aktivitas
- Bahasa
- Barcelona
- Birokrasi
- BYEE
- Cerita Dari Negeri Lain
- Co-ass
- Easy-Aci Exploring the World
- Event
- Ex-Berliner
- Family
- Fiksi Tapi Bukan
- Friendship
- Germany
- Golden October
- Inspirasi
- Japan
- Jerman
- Journey to the West
- Karya
- KKM
- Koas
- Kontemplasi
- Menulis Random
- Movie
- Puisi
- Quality Time
- Refleksi
- Romansa
- Serba-serbi
- Song of the Day
- Sweet Escape
- T World
- Tragedy
- Travel
- Trip
- Tulisan
- Urip Iku Urup
Aku juga nggak suka makan sendirian, pasti akhirnya memutuskan milih makanan yg bisa dipegang lalu digigit, gausah perlu meja, piring, dan sendok, wkwkwkw
BalasHapusSukses kak anyaaaa, selalu suka baca tulisannyaaa
Sukses Nyanya :D
BalasHapus