Defect, anomali...and perspective

5 Januari 2015

On 19.39 by anya-(aydwprdnya) in ,    No comments
Tahun berganti, kita menanti
Telah lewat hampir seminggu, anehnya aku tetap menunggu.

Apa? Sesuatu pada dirimu?
Atau bergesernya ruang di dalamku?

Tadi pagi aku bermimpi, tentang kita dan kembang api. Kembang api yang semakin waktu semakin kencang. Mendekati dasar akan meledak paling besar. Dan aku ingat kita. Saat ledakan kita terus membesar, kita terpesona pada nyala di angkasa. Terpesona, hingga tidak ingin mengingat berapa letupan yang tersisa.

Aku takut membayangkan sepi tiba-tiba. Sama takutnya dengan senyap yang menyusul hingar-bingar yang lenyap. Sisa mesiu bertebaran di udara, asap pekat yang memerihkan mata. Apa dirimu masih di sana?

Setelah semua tak ada, kita akan kemana?
Jika semua berlalu, apa aku masih boleh menunggu?

[Kepadamu, Pengisi Ruang dan Waktu]



3 Januari 2015

On 00.32 by anya-(aydwprdnya) in    No comments

Selamat sore, Partner.
Akhirnya kita keluar lagi, mencari sedikit kesegaran di sela pekatnya harimu dan penatnya hatiku.
Mencari celah diantara bait-bait hujan deras yang berkejaran, terdengar seperti gaya yang kita tinggalkan sekian lama. Dan perjalanan kita berawal di sebuah tempat makan yang cukup lama tidak kita kunjungi. Seperti hati yang pernah kecewa, kadang kita ingin mencoba kembali untuk bertaruh tentang rasa.

Kita memilih tempat duduk yang tepat. Dari sini aku bisa melihat ke segala arah, menyaksikan bahwa kita bukan satu-satunya pasangan (aku menggunakan kata ini) di dalam ruangan. Setelah kita ada banyak pasangan-pasangan lainnya, bermacam jenis dan rupa. Ah, ini salahmu memilih tempat duduk ini, padahal kamu tahu, Partner, semakin banyak mata ini menerima impuls cahaya, semakin liar pula imajinasi di dalam kepala. Kamu tahu itu, Partner. Kamu sangat tahu.

Arah jam 9.
Tentu saja jarak satu meter di sebelah kiriku tidak menghalangi niat kita melihat diam-diam ke atas meja mereka. Kamu melihatnya juga, dua potong sosis (yang kamu tebak rasanya sintetis) yang bersanding dengan sebentuk mangkok nasi putih. Kita tertawa, berderai. Kapan terakhir kali kita mentertawakan makanan orang lain sementara piring-piring yang kita tandaskan juga tak lebih baik? Kenapa kita (aku) usil sekali sore ini?

Arah jam 12.
Tepat di hadapan kita. Sial aku terlalu banyak menghabiskan waktu dengan Science of Deduction-nya Mr. Watson. Aku mulai menilai, mengajakmu bersama agar segala pikiran konyol ini terurai.
[Lelaki] Sekitar usia 20an, kemapanan masih diragukan namun kita sepakat bahwa ia hanya orang berada yang rendah hatinya (aku bilang semacam Bob Sadino versi ABG puber). Aku beri nilai enam, hanya karena pemilihan celana merahnya yang membuatnya terkesan tidak bisa move on dari kenangan masa sekolah dasar. Aku juga berharap ia sudah mandi, karena tato beraneka rupa (walaupun salah satunya bertuliskan '9 to 5' ) tidak mengurangi kekontrasan dengan makhluk yang duduk berhadapan dengannya.
[Wanita] Cantik kataku, rock-girl nanggung istilahmu. Ya..kamu memang tidak sesering itu memberi penilaian positif terhadap orang lain, Partner. Aku orang yang menghargai liberalitas, dipadukan dengan aliran feminis garis kiri, aku memutuskan untuk tidak memojokkan wanita yang satu itu.
Mereka terlihat dingin dan kurang bahagia. Bagaimana dengan kita?

Arah jam 2.
Mereka sedang kasmaran. Hey! Kamu tanya bagaimana aku tahu? Pandangan yang mengkonduksi arus listrik tanpa resistor, sentuhan malu-malu yang dibuat seakan-akan tidak sengaja, cubitan gemas di hidung, saling suap, bertukar minuman tanpa berganti sedotan...apa namanya kalau bukan kasmaran? Mereka duduk tak lama. Aku tahu mereka akan berpindah ke tempat lain, entah bangku taman, atau kedai gelato. Seperti karakteristik love bird pada umumnya, mereka akan menebar bau cinta dimana-mana.

Arah jam 3.
Sebelumnya mereka ada di jam setengah dua. Pindah untuk sebuah rencana duduk yang lebih lama, tebakanku.
Aku bisa bilang apa? Just a princess (wanna be) and her prince charming. Ya, semacam pasangan yang muncul dalam salah satu episode barbie yang tayang di pagi Natal. Hanya saja mereka duduk menyebelahi kita, seorang pria yang sibuk berperang dalam gadget tersayang, dan wanita yang autis tenggelam dalam tulisan sambil berharap bisa menghilang.

*   *   *
Mungkin awal ini harus kita lanjutkan ke tempat berikutnya (dimana?).

Dihadapan sisa mashed potato milikku, bulir nasi yang tidak habis terambil olehmu, dan jelly grass yang terbenam dalam sepatnya teh, kita sibuk pikiran masing-masing dan masih bisa mengomentari orang lain. Aku benar-benar tidak ingin menuliskan tentang nama waitress ataupun poni lempar mas waiter (maaf :p)

Ada sesuatu yang mendesak mengakhiri awalan ini, aku rindu.

(7 of 10, mungkin ada kesempatan lain untuk tempat ini.)

31 Desember 2014

On 06.08 by anya-(aydwprdnya)   No comments
Aku takut esok hujan,
Dan tidak ada sepasang tanganmu menadah air di atas kepalaku
Aku takut esok pasang,
Dan tidak ada tubuhmu kokoh tempat kusandarkan pilu
Aku takut esok angin bertiup kencang,
Dan tidak ada lengan hangat melingkar di bahuku
Kengerianku adalah gelap pagi, saat matamu tak pijar bahkan untuk sekadar redup
Ketakutanku adalah terik siang, ketika terbawa angin lalu hilang kata-katamu sejuk
Keenggananku sekali lagi semburat senja, bila aku mesti buta dan hanya hawa memanjamu yang meyakinkanku hidup.

Dengar, pahamkah?
Lihat, mengertikah?

Aku mimpi mengarung angin, walau kau ingin hanya duduk berdamping
Aku khayalkan beribu ingin, tepat di titik sederhana kau utus mengiring
Dengar, dan kata mencari
Lihat, dan kata menjawab
Akankah esok hujan pasang berangin kencang?

Dari seorang yang penuh ketakutan, salam.

[Sebuah catatan dari Bulan September tahun ini.]

30 Desember 2014

On 18.44 by anya-(aydwprdnya)   No comments

Seperti katamu, aku berusaha memberi sedikit kesempatan pada kata.

29 Desember 2014

On 07.19 by anya-(aydwprdnya)   No comments

Cangkir Pertama. Espresso.

Sesapan pertama meninggalkan rasa pahit hangat sekaligus rindu yang menyengat. Ternyata aku memang membutuhkan sejumlah kafein untuk mendobrak sekat yang membatasi pikiran ini untuk memikirkan tentang kita. Aku ingin lagi dan lagi, rasa pahit yang bertubi akan menjembatani kenangan yang seharusnya masih di sini. Setelah tegukan ketiga, aku kecewa. Toleransi rasa lidah ini menjadikan pahit yang awalnya nikmat semakin lama semakin memudar. Semakin ingin kutahan rasanya di pangkal lidah, semakin aku menyadari, mungkin beberapa hal yang terlanjur pergi memang tidak ditakdirkan untuk kembali.

Ya..aku sengaja. Aku memang sengaja meninggalkan cangkir ini setengah isi untuk waktu yang lebih lama dari yang seharusnya. Karena tidak ada sebentuk abstraksi pun yang secara nyata bisa kugenggam, paling tidak cangkir pertama mewakili perasaanku yang ingin merengkuhmu, seperti caranya mewadahi cairan hitam pekat yang semakin lama semakin dingin.

Meminta. Salah satu kelemahanku, otakku selalu meminta. Dorongan yang sangat kuat untuk menyaksikan dasar cangkir pertanda bukan hanya aku yang gagal di meja ini, hingga akhirnya isinya tandas. Aku tidak berhasil menyimpulkan apapun, kecuali bahwa espresso yang telah dingin sekalipun masih menyimpan aroma yang sama dengan saat pertama ia diletakkan di atas meja. Kamu juga gagal, Cangkir Pertama.



Cangkir Kedua. Arabica, Double Cream.

Aku ingat perdebatan terakhir kita. Seperti biasa aku akan mengambil peran banyak bicara. Menyalahkan, mengungkit masa lalu, menaruh segala beban di pundakmu. Ya, harus ada salah satu dari kita yang mengambil peran itu. Lihat? Bagaimana aku berkorban mengambil pilihan peran yang tidak akan kamu ambil. (Apa ini juga bagian sifatku yang tidak pernah kamu suka?)

Seperti biasa juga, hanya ada napas berat yang bertukar melalui alveoli paru-parumu yang aku tebak hampir meledak mendengar muntahan kata-kataku. Aku membayangkan pandanganmu yang lurus ke depan semacam posisi ancang-ancang sprinter sebelum mulai putaran 150 meter. Benar saja, saat tembakan itu bergema, segala logikamu (yang kuakui benar), semua argumen (yang tanpa cela), beragam alasan (yang satupun tak mampu aku patahkan)...berlompatan, berlarian, menjadikanku seperti siaran radio tua yang mengulang-ulang cerita lawas. Pada meter ke 149, aku mati lemas.

Seperti krim ini. Perasaan yang tidak terima disalahkan menjelma seperti krim dalam mulutku. Tidak memberiku pilihan selain membiarkannya bertahan selama mungkin di antara geligi dan lidahku.
Bahkan sisa krim yang bertahan di Cangkir Kedua masih tidak membawaku kemana-mana.

Cangkir Ketiga. White Coffee.

Beralih pada sebuah keistimewaan yang lain. Seperti melompat dari satu ranting teduh, ke ranting rindang lainnya selama bersamamu yang seperti pohon sejuta buah. Ya..aku simpanse yang memiliki jaminan hidup sejahtera tanpa perlu membaca ketentuan polis ataupun membayar premi. Kamu seistimewa itu, kalau kamu belum tahu. Yang kita lupakan bersama adalah dalam kungkungan hutan (yang mungkin tipe hutan hujan tropis) yang kita ciptakan berdua, ada banyak akar lain yang merambat lewat bawah tanah, ada banyak hewan lain yang sekadar lewat saat bermigrasi ataupun memutuskan berdomisili. Sebagai substansi yang menggantungkan harapan pada titik embun di pagi hari, kita tidak bersiap untuk itu, bukan?

Ah, mungkin akan lebih menguntungkan bila aku adalah luwak dan kamu adalah pohon kopi yang tengah berbiji. Paling tidak, aku bisa mengisi Cangkir Ketiga ini tanpa perlu melihat harganya.

*   *   *

Di luar masih gerimis. Aku, dan tiga buah cangkir kosong. Seharusnya ini momentum Cangkir Keempat, yang tak pernah tiba di meja ini.
Bukan tatapan pengunjung lain yang terasa mengarah kesini saat aku berusaha tetap hanya peduli pada layar netbook (dan tentu saja juga peduli padamu yang entah dimana). Bukan pula waitress yang seperti tak sabar ingin mendengar berita besar; apa aku akan memesan lagi atau segera angkat kaki dari sudut yang kujajah selama tiga jam ini. Tidak pula penunjuk waktu yang menggaungkan suara seperti ‘pulang...pulang..pulang’.

Ini hanya aku, yang terlalu takut untuk menemukan jawaban di Cangkir Keempat.


[A Coffee Shop, Renon. Akan sangat sulit tidur malam ini.]