Defect, anomali...and perspective

20 Desember 2017

On 08.09 by anya-(aydwprdnya) in , ,    No comments
Adalah hal yang lumrah, ketika tidak ada rekan berbagi, dorongan untuk bercerita justru semakin tinggi. Itulah yang terjadi, ketika aku bepergian seorang diri. 

Kali ini aku ingin bercerita tentang awan. Karena tidak seimbang dengan hasratku bercerita, ternyata aku tidak memiliki bahan yang layak untuk diceritakan. Kebetulan saat ini hanya awan, entitas yang cukup memenuhi lapang pandang. 

Jadi, awan. 
Seberapa sering kita memandangi awan, dengan kaki memijak bumi, sambil memikirkan pertanyaan seperti; apakah bentuk awan dari bawah sini sama indah atau lebih indah dari sisi atasnya? Aku, cukup sering. Sebagai penikmat langit biru, awan selalu menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari observasiku. Dalam hal ini, keberadaan awan bisa jadi ambigu sekali. Awan seperti pengganggu, awan seperti benalu, di saat yang sama pada setiap lembar langit biru, awan juga selalu kutunggu. Bahkan ketika kesempurnaan biru tercemari segumpal awan kecil, di luar dugaan, perfeksionismeku tidak terusik sama sekali. 

Kembali ke pertanyaan tadi, kegelisahan tentang sisi atas awan, apa, dan bagaimana.. (setiap pertanyaan adalah kegelisahan). 


Pagi ini aku ada di daftar penumpang penerbangan dari Schonefeld tujuan Brussels. Langit terlalu berkabut, aku sendiri lumayan takut, pesawat kami tertunda sekitar satu jam lamanya. Aku mendapat tempat duduk di sisi jendela (syukurnya), seorang lelaki satu kursi di sebelahku, lelaki lainnya dua satu kursi di sebelahnya. Aku sempat menawarkan permen karet ke lelaki di sebelahku, yang ia terima, dan menyimpulkan bahwa sepertinya tidak akan terjadi percakapan lain diantara kami. Lelaki tersebut mengerjakan sesuatu dengan komputer portabelnya, yang sayup-sayup mengeluarkan nada-nada harmonik yang indah. Maka, aku mengetikkan cerita tentang awan ini sambil diiringi denting-denting musik yang tengah dikomposisi. 

Ah, ya, awan. Awan dari atas sini jauh berbeda dari gumpalan harum manis yang menari-nari. Aku tidak akan membuatnya terdengar luar biasa seakan-akan naik pesawat adalah peristiwa langka. Sesaat setelah lepas landas, awan menutupi seperti permadani, terlihat lembut dan nyaman sekali, hampir seperti yang dideskripsikan lewat episode-episode seri Doraemon. Namun selayaknya pertunjukan teater, awan tidak mengizinkan satu bentuk menetap terlalu lama, kemudian ia berubah menjadi savana. Seperti padang rumput yang luas tiada tara, hanya saja warnanya putih. Beberapa rumpun perdu rebah sesuai arah angin, aku hampir yakin bintik serupa serbuk sari ikut beterbangan di sekitarnya. Belum lama, pesawat agak oleng ke kanan, memberi ruang pada awan berbentuk roti kasur unjuk aksi. Terlihat sangat nyata dan tiga dimensi sampai aku bisa membayangkan isian selai cokelat, keju, dan srikaya di dalamnya. 

Seperti ingin mengalihkanku dari rasa lapar, pertunjukan masuk ke level yang lebih tinggi. Air terjun Niagara! Sangat, sangat, megah, dan mengalir dalam debit yang terlalu presisi skalanya. Kemudian kabut, seperti panggung yang jeda karena para artisnya harus berganti busana. Sayup musik masih terdengar di sebelah kiri. 

Kemudian aku melihat semacam bentuk lereng pegunungan, tapi juga mirip tembok besar China. Semakin aneh karena ada semacam rumah-rumah kayu tertata rapi di sekitar lereng atau tembok tersebut. Yang paling aneh, ada tanda kehidupan di dalamnya! Asap yang membubung, beberapa sosok yang mirip gnome berlarian mengerjakan hal yang tidak aku pahami. 

Dan, sentuhan di luar sweater di lengan kiriku menyadarkanku bahwa pesawat baru saja mendarat di Brussels. Lelaki di sebelahku sudah rampung dengan laptopnya, dia lah yang menyentuh (atau menyenggol) lenganku saat landing tadi. Ya, ampun, sampai dimana awan-awan tadi nyata, aku tidak yakin. 

Oh iya, ngomong-ngomong, namanya Evan. Seorang musisi. 


Brussels, 20 Desember 2017

18 Desember 2017

On 15.43 by anya-(aydwprdnya) in ,    No comments

Disclaimer: Bukan tulisan tentang resep level basis untuk bertahan hidup (walaupun mungkin juga bisa iya).

Kalau boleh menilai diri sendiri, saya adalah orang yang 'mudah'. Mudah tertawa, juga mudah menangis. Mudah terpicu emosinya, sekaligus mudah dipadamkan dengan beberapa tiupan halus. Mudah diatur, sekaligus mudah mengacaukan segala yang teratur. Mudah memberi, kemudian sadar ataupun tidak, saya mudah mengambil lagi dan membawa pergi. Mudah jatuh hati, (mungkin juga) mudah membenci, tapi kembali mudah lupa kalau seharusnya benci. Mudah menyelipkan diri dalam kelompok apapun, di saat yang sama mudah menghilang tanpa bilang. Ya, saya mudah dalam makna yang seperti itu. Saya mudah karena tangan-tangan ajaib yang melakukan segala hal untuk saya sedari kecil menanamkan cikal bakal yang demikian. Memastikan 'kemudahan' itu tumbuh di lahan yang subur setiap kali menjelang saya tidur. Telaten menyirami bilamana saya mandi. Hingga akhirnya kedua tangan saya ini secara maksimal berfungsi, 'kemudahan' itu sudah bisa merawat dirinya sendiri. 

Dan hidup kelihatan begitu baik-baik saja, bukan? Bukan. Karena mudah untuk segalanya sesungguhnya adalah omong kosong. Di balik layar, ada skenario yang tidak pernah tampil di atas panggung. Dari sebuah draft, ada bab yang tidak akan pernah muncul di lembaran buku yang terbeli di Togamas atau Gramedia atau Dussmann. Karena otak saya memiliki kecenderungan asosiatif dengan makanan, saya menamai skenario dan bab yang tersembunyi tersebut sebagai TELUR ATAU KENTANG, akan terjelaskan kemudian.



$ $ $

Cerita ini akan lebih mudah dipahami jika latar belakang saya sedikit diketahui. Sekilas, saya sedang menempuh studi di Berlin, baru beberapa bulan, baru melewati satu fase studi dan tengah di masa libur, sekaligus berusaha menikmati pergantian musim ke musim dingin. Jujur saja, saya mulai jatuh hati pada kota ini, di saat yang sama, tidak satu hari pun saya lewati tanpa memikirkan Indonesia, Bali, rumah, keluarga, sambel buatan ibu, rujak bulung, dan sebagainya. Hidup masih indah.

Pada waktu tertentu, yang tidak pernah tentu, saya mengunggah foto, tulisan, segala sampah yang memenuhi kepala dan catatan saya lewat media sosial. Menyenangkannya adalah ketika teman-teman di Indonesia memberikan hati atau jempolnya, bukan karena apa, semata-mata hal tersebut membuat saya merasa sedikit lebih dekat dengan rumah atau setidaknya memberi tanda bahwa masih ada tanda kehidupan dari manusia di seberang sini. Sayangnya, kita tidak memilih agar hanya hal menyenangkan yang terjadi di hidup ini. Dan ini lagi-lagi berawal karena saya 'mudah', kali ini mudah sakit hati dan tercederai. Sekian kalinya dalam hidup ini, satu kalimat bisa melukai berhari-hari. 

Ia bilang, "Mudah ya, hidup jadi kamu."

Dan saya, "Wow."

Aneh sekali, ketika saya bicara tentang diri saya yang serba mudah, terasa lumrah sekali. Namun ketika satu orang mengatakan hal yang sama tentang saya, rasanya berbeda. Tidak menyenangkan. 
Saat itu saya sedang tidak ingin berceramah panjang lebar tentang bagaimana tidak terimanya saya terhadap satu kalimat tersebut. Egoisme manusia. Defensif. Alih-alih saya berusaha kembali ke hakekat saya, menjadi mudah, ironisnya, sebagaimana yang orang tersebut labelkan terhadap hidup saya. 

Saya memulainya setelah seminggu. Salah satu kunci menepikan satu kegelisahan adalah dengan mengantinya dengan kegelisahan lain yang kadarnya hampir sama namun masih bisa dinalarkan sakitnya. Tiba-tiba sebuah cerita lama terputar di kepala saya, akar kegelisahannya adalah saya rindu setengah mati pada kehidupan praktis sebagai dokter setelah sekian bulan saya tinggalkan.

Di suatu sore praktek di salah satu klinik tempat saya dulu bekerja, saya ingat betul bahwa hari tersebut ada dalam rentang minggu dimana saya merasa jenuh dengan keseharian saya. Sederhananya, masa-masa tidak produktif dimana saya banyak menghabiskan waktu dengan menonton video tidak berbobot di youtube, menelusuri laman facebook dari atas ke bawah hingga atas lagi, hingga membaca tuntas komentar netizen di akun gosip instagram. Seorang anak perempuan datang diantar oleh kedua orang tuanya, menangis sambil memegang belah tangan kanan dengan tangan kirinya. Sang ibu menjelaskan singkat mengenai apa yang terjadi: sebuah cincin emas dimasukkan paksa ke jari yang ukurannya tak beda dengan diameter cincin tersebut. Alhasil, cincin berhasil masuk tak bisa dilepaskan. Riwayat dicoba tarik paksa, sabun, dan deterjen yang alih-alih membuat jari tengah si anak bengkak dan semakin tidak bisa dikeluarkan. Saya tak ingin langsung menyerah dengan mengirim anak tersebut ke UGD Bedah.
  • Percobaan pertama: melumurkan gel ke jari bermasalah, bertaruh pada kelicinan gel. Gagal.
  • Percobaan kedua: berimprovisasi dengan pinset, juga gagal bahkan sebelum mencoba karena si anak sepertinya mengasosiasikan pinset dengan aksi kekerasan.
  • Percobaan ketiga: (mereferensikan diri pada video yang entah dari facebook atau instagram) dengan lugas menginstruksikan sang ayah untuk mencari benang. Kemudian kami mengerjakan tepat seperti yang dilakukan dalam video berikut.



Berhasil!
Hal yang saya pikirkan saat itu adalah, ini adalah hal yang tidak pernah saya pelajari selama pendidikan dokter. Ini adalah pelajaran hidup yang ternyata saya peroleh lewat bermalas-malasan menonton video yang faedahnya diragukan. Dan jujur saja, rasa terima kasih yang diungkapkan oleh kedua orang tua dan anak itu sendiri, dalam pendengaran saya, tak berbeda dengan terima kasih dari seorang yang tertolong nyawanya. Kali itu juga, saya sadar, mudah itu relatif. Bagi saya kala itu mudah melilitkan benang di jari anak tersebut sambil menyanyikan lagu naik-naik ke puncak gunung (don't blame me over the song of choice), namun bagi mereka, bisa terlihat luar biasa. Mereka sekeluarga pulang dengan gembira. Saya pun merasa bangga. 

Kenyataannya saat ini saya kangen bertemu mereka yang pulang ke rumah dengan gembira setelah bertemu saya. Amarah tentang masalah mudah-tak-mudah redup mereda. Apalagi mengingat relativitas dari mudah itu sendiri. 

$   $   $

Panas yang sama yang mengeraskan telur adalah juga panas yang melunakkan kentang. Kita tidak akan memperdebatkan fakta bahwa telur dan kentang yang dimakan bersama dapat memberikan kenikmatan tiada tara (apalagi ditambah siomay, yummy!). Poin saya adalah, pada praktisnya, kita banyak menyalahkan lingkungan yang memperlakukan kita seperti ini dan itu. Lingkungan yang terlalu panas, lingkungan yang terlalu bulat, lingkungan yang terlalu abu-abu, lingkungan...blablabla. Saya sendiri meyakini, lingkungan dan apapun yang dilakukan olehnya terhadap kita hanya satu diantara sejuta hal essensial lainnya. Saya mulai berhenti menyalahkan dan banyak menerima (yang ternyata sangat-sangat menyenangkan) sejak saya secara sadar melewati panas dengan fase memilih; menjadi telur atau kentang. Menyenangkan lagi, karena tidak ada batasan memilih setiap kali. Sama halnya dengan memilih menu yang sama sepanjang hari atau berganti hingga tiga empat kali. 

Kemarin sore saya kentang. Siang ini, telur. 

9 Desember 2017

On 06.40 by anya-(aydwprdnya) in    No comments
For me, it is forever superficially physical on how I capture you in my mind.

Blue eyes,
Dark silver hair,
Long legs,
Heavy voice.

I would never involved in this game if I know it could be so intimidating.
Owh, you don't like that word; intimidating. As you never like elevator and narrow space.

Till the end of the day, I was sure something beautiful works on some full time job inside your hemispheres. I found that was very appealing.

(The first encounter.)
On 06.30 by anya-(aydwprdnya) in    No comments
I was standing in front of book self of your friend while you were texting your other friend. It was a very long story on how we end up in your friend's room in a corner of the city. I tried my best not to be awkward, at least I think I did.

"You're so ambitious."
"No, I am not."
"I mean ambitious in good way."
"No. Believe me, I am not."

Either I am a denial, or a big liar. You could tell.

(The first encounter.)

7 Desember 2017

On 00.57 by anya-(aydwprdnya) in ,    No comments

[Dunia T. Dunia ini baru sama sekali, hangat menyambut para penghuni.]

Kita menyala, tidak ada siapa yang menemukan siapa.
Hanya nyala.

Mata biru, rambut perak. 
Di sisi sebaliknya, hanya legam dan legam
Dingin gelap dan hati lantak,
Jeda sedetiknya, hanya genggam dan genggam.
Ini mudah sekali. Nyala ini mudah sekali.

Mulut yang tak berhenti mencatat, 
Mulut yang sama yang menyesap teh herbal dari cangkir yang cacat.

Sedikit di atasnya, hidung yang merasa segala residu di udara 
Udara yang selisih atas langkah panjang dan naif yang mengimbanginya.

popcorn yang hambar, bir yang kurang dingin,
tawa satir tertukar, film lawas mengumbar ingin.
Ini Berlin. 

Di jarak lima belas menit,
Visualisasi adalah hal terakhir yang bisa dipercaya.
sebilah tangan yang terdengar gemetar,
bibir manis yang beraroma retakan awal musim,
badan yang meliuk di tengah spasi...dan hal-hal yang tak bisa terlihat dengan mata.
Kecuali, kulihat bukumu di atas rak yang entah sejak kapan kosong.

Dan,

Kita menyala, tidak ada siapa yang menemukan siapa.
Hanya nyala.
Hari ini, semua kereta masih lintas di jalurnya. 

.A
(featuring RD, the one and only.)