20 Desember 2017
Adalah hal yang lumrah, ketika tidak ada rekan berbagi, dorongan untuk bercerita justru semakin tinggi. Itulah yang terjadi, ketika aku bepergian seorang diri.
Kali ini aku ingin bercerita tentang awan. Karena tidak seimbang dengan hasratku bercerita, ternyata aku tidak memiliki bahan yang layak untuk diceritakan. Kebetulan saat ini hanya awan, entitas yang cukup memenuhi lapang pandang.
Jadi, awan.
Seberapa sering kita memandangi awan, dengan kaki memijak bumi, sambil memikirkan pertanyaan seperti; apakah bentuk awan dari bawah sini sama indah atau lebih indah dari sisi atasnya? Aku, cukup sering. Sebagai penikmat langit biru, awan selalu menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari observasiku. Dalam hal ini, keberadaan awan bisa jadi ambigu sekali. Awan seperti pengganggu, awan seperti benalu, di saat yang sama pada setiap lembar langit biru, awan juga selalu kutunggu. Bahkan ketika kesempurnaan biru tercemari segumpal awan kecil, di luar dugaan, perfeksionismeku tidak terusik sama sekali.
Kembali ke pertanyaan tadi, kegelisahan tentang sisi atas awan, apa, dan bagaimana.. (setiap pertanyaan adalah kegelisahan).
Pagi ini aku ada di daftar penumpang penerbangan dari Schonefeld tujuan Brussels. Langit terlalu berkabut, aku sendiri lumayan takut, pesawat kami tertunda sekitar satu jam lamanya. Aku mendapat tempat duduk di sisi jendela (syukurnya), seorang lelaki satu kursi di sebelahku, lelaki lainnya dua satu kursi di sebelahnya. Aku sempat menawarkan permen karet ke lelaki di sebelahku, yang ia terima, dan menyimpulkan bahwa sepertinya tidak akan terjadi percakapan lain diantara kami. Lelaki tersebut mengerjakan sesuatu dengan komputer portabelnya, yang sayup-sayup mengeluarkan nada-nada harmonik yang indah. Maka, aku mengetikkan cerita tentang awan ini sambil diiringi denting-denting musik yang tengah dikomposisi.
Ah, ya, awan. Awan dari atas sini jauh berbeda dari gumpalan harum manis yang menari-nari. Aku tidak akan membuatnya terdengar luar biasa seakan-akan naik pesawat adalah peristiwa langka. Sesaat setelah lepas landas, awan menutupi seperti permadani, terlihat lembut dan nyaman sekali, hampir seperti yang dideskripsikan lewat episode-episode seri Doraemon. Namun selayaknya pertunjukan teater, awan tidak mengizinkan satu bentuk menetap terlalu lama, kemudian ia berubah menjadi savana. Seperti padang rumput yang luas tiada tara, hanya saja warnanya putih. Beberapa rumpun perdu rebah sesuai arah angin, aku hampir yakin bintik serupa serbuk sari ikut beterbangan di sekitarnya. Belum lama, pesawat agak oleng ke kanan, memberi ruang pada awan berbentuk roti kasur unjuk aksi. Terlihat sangat nyata dan tiga dimensi sampai aku bisa membayangkan isian selai cokelat, keju, dan srikaya di dalamnya.
Seperti ingin mengalihkanku dari rasa lapar, pertunjukan masuk ke level yang lebih tinggi. Air terjun Niagara! Sangat, sangat, megah, dan mengalir dalam debit yang terlalu presisi skalanya. Kemudian kabut, seperti panggung yang jeda karena para artisnya harus berganti busana. Sayup musik masih terdengar di sebelah kiri.
Kemudian aku melihat semacam bentuk lereng pegunungan, tapi juga mirip tembok besar China. Semakin aneh karena ada semacam rumah-rumah kayu tertata rapi di sekitar lereng atau tembok tersebut. Yang paling aneh, ada tanda kehidupan di dalamnya! Asap yang membubung, beberapa sosok yang mirip gnome berlarian mengerjakan hal yang tidak aku pahami.
Dan, sentuhan di luar sweater di lengan kiriku menyadarkanku bahwa pesawat baru saja mendarat di Brussels. Lelaki di sebelahku sudah rampung dengan laptopnya, dia lah yang menyentuh (atau menyenggol) lenganku saat landing tadi. Ya, ampun, sampai dimana awan-awan tadi nyata, aku tidak yakin.
Oh iya, ngomong-ngomong, namanya Evan. Seorang musisi.
Brussels, 20 Desember 2017
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Search
Popular Posts
-
“ Even it is just a few giving (alms), with the thirst and desire of your heart it will bring great benefits; whereas the bigger amou...
-
Throwback time to four years ago. Bukan masa yang terlalu dirindukan, aku masih dengan setelan merah muda pada kebanyakan hari dalam satu...
-
Bulan paling terang adalah sehari setelah purnama. Selalu. Dan kita berdua tahu itu. Misiku sepanjang seratus kaki dari mimpi; menjaga bul...
-
Sudah beberapa orang menertawai aku untuk satu alasan yang serupa: takut bekerjasama (baca:mencontek) saat ujian. Ya, untuk segumpal alasan ...
-
Setiap pertama pastilah tidak mudah. Bagiku tidak pernah mudah. Pertama itu adalah kebodohan di tengah rasa ingin tahu, rasa segan disela ...
-
Hari ini harusnya aku menikmati hari libur tenang nan menyenangkan. Harusnya hari ini aku ada di salah satu pusat perbelanjaan, walau hanya ...
-
Jadi ceritanya begini: Beberapa hari kemarin, karena suatu alasan yang tidak sanggup aku jelaskan lewat tulisan, aku tidak punya akses moda ...
Recent Posts
Categories
- [EARGASM]
- 30Hari Bercerita
- Ahmad Wahib
- Aktivitas
- Bahasa
- Barcelona
- Birokrasi
- BYEE
- Cerita Dari Negeri Lain
- Co-ass
- Easy-Aci Exploring the World
- Event
- Ex-Berliner
- Family
- Fiksi Tapi Bukan
- Friendship
- Germany
- Golden October
- Inspirasi
- Japan
- Jerman
- Journey to the West
- Karya
- KKM
- Koas
- Kontemplasi
- Menulis Random
- Movie
- Puisi
- Quality Time
- Refleksi
- Romansa
- Serba-serbi
- Song of the Day
- Sweet Escape
- T World
- Tragedy
- Travel
- Trip
- Tulisan
- Urip Iku Urup

0 comments:
Posting Komentar