20 Agustus 2017
Karena dengan ada di sana, duniaku lebih terbuka. Aku tidak hanya melihat dengan dua mata.
- Bentuk penugasan yang mungkin memang relevan dengan workshop akan lebih optimal dengan evaluasi di tengah masa pengumpulan (bagiku, policy brief bukan jenis tulisan yang begitu familiar denganku.)
- Akan sangat menyenangkan bila bisa terlibat dalam lebih banyak workshop. (Bukannya maruk, tapi aku terhidupkan di dalam workshopnya.)
- Dalam beberapa hal, aku merasa kurang terfasilitasi (dan juga memfasilitasi diri) untuk debat dan simulasi. Merepresentasikan negara yang tidak kita kuasai (walaupun Singapura adalah tetangga, namun sangat jauh berbeda.)
- Urban gardening overlap dengan program utama. Sempat keteteran juga jadinya di sesi regional block.
11 Juli 2017
![]() |
| Model Kebahagiaan (Kehakikian) dari Negeri Dengan Langit Penuh Layang-layang (Segera didapuk sebagai ikon Urip Iku Urup) |
26 April 2017
Pagi hari kemarin, burung kecil menoreh kedua kaki kecilnya,
Dengan tiga sayatan nyaris simetris,
Darinya meleleh darah semi kental nan amis
Ia dengar engkau menyenangi warna merah yang manis.
Pagi tadi, burung kecil meroket menukik di udara,
Melupakan pedih luka setengah menganga,
Mendaratkan cintanya pada sunyi beningnya jendela,
Ia yakin engkau di sana, menyukai hiburan dari balik kaca
Seharian ini, burung kecil mengabaikan setiap biji bulir padi,
Mengacuhkan getir asam perut menabuh bunyi,
Sebelum itu membawanya mati, ia bermimpi tangan hangat akan menenangkan resah hati.
Sayangnya engkau tak peduli. Darah, sunyi, bunyi, liar, lapar...burung kecil tak jua mati.
Perut kosongnya tak kunjung membisu,
Sampai saat ia menelan segenggam mesiu.
Ia yakin engkau menggemari kembang api, maka sembari terbang ia meledakkan warna dan warni.
Nyaris.
Kecuali bahwa tiada yang peduli pada kembang api di senja hari.
Kini, entah kepingan hari yang mana,
Burung kecil rampung mencabuti bulunya,
Kemudian mengenakan jubah rambut serigala.
Apa kini engkau melihatnya?
Seekor serigala mengaum sendu dalam sedihnya.
[Kontemplasi rasa: pecinta yang patah berkali-kali, pendosa pada satu dari banyak hari, perasa dengan sensitivitas tinggi, juga garis sedarah yang seharusnya enyah saja dari atmosfer bumi.]
27 April 2017
26 Januari 2017
Apa yang harus diungkapkan saat diantar sebelum pergi? Sampai jumpa? Doakan aku? Baik-baik selama aku pergi? Dan hal-hal lain yang lebih sering membuatku malah merasa tidak baik-baik.
Hari ini aku di sini lagi, di Bandara Ngurah Rai. Seorang teman (lagi) akan melanjutkan studi, dan aku akan mengantarkannya untuk bertemu sebelum pergi.
Dan...
Tiba-tiba aku sudah di sini, di Bandara Ngurah Rai. Sementara pikiranku masih mengusir rasa tidak nyaman menginjakkan kaki di sini sendiri, bagian lain otakku sudah lebih dulu menggerakkan badan lewat otot dan sendi.
Dan,
tempat ini, di hatiku, terlanjur menjadi satu titik sebelum lenyap, garis akhir sebelum senyap.
15 Januari 2017
Saya tidak punya pengalaman tentang kepemilikan uang yang banyak. Perihal hitung menghitung, jelas bukan bìdang saya, itu keahlian bapak saya yang akuntan, yang saya rasa tidak bersifat herediter, tidak ada sangkut paut genetisnya. Katakanlah saya sering 'main' bendahara-bendaharaan sedari SD untuk pembelian buku penunjang belajar, atau SMP saat entah mengapa dibebani jabatan bendahara OSIS, atau saat SMA memutar otak agar keuangan klub judo stabil. Tapi apa pun, saya tidak dibesarkan sehingga mengerti bagaimana rasanya uang di tangan yang boleh bebas digunakan, atau baunya lembar yang kalau dibelanjakan harus secara hitam di atas putih dipertanggungjawabkan. Pun karena lahir dalam keluarga yang cukup namun tak lebih, kemewahan seperti uang saku (nyaris) tanpa batas adalah kemustahilan yang sering saya dan rekan sepermainan impikan sambil berteduh di sela permainan galah kemudian kami hanyutkan bersama gemericik kali tempat kami menyau kecebong. Kalau kata bapak saya, uang...(nada dramatis), sebanyak apapun, jika bukan milikmu, maka bukan milikmu. Seperti halnya cinta... (saya agak ragu, untuk yang terakhir, apa bapak pernah berkata begitu).
Maka masa menghasilkan uang sendiri adalah bagai unicorn di mata Agnes, keindahan yang membuatnya mampu dewasa dengan cepat while everybody keep insist her not to grow up. Tapiiiiiii.......... (sepanjang satu napas penuh), saya mohon berhentilah beranggapan bahwa pekerjaan saya sebagai dokter mengizinkan kemewahan instan berlimang uang. Doa tulus saya merepetisi, mungkin belum. Saya dan banyak sejawat yang masa lulusnya sama-sama belum genap lima tahun pernah kerja dengan bayaran sepuluh ribu rupiah per jam. Pernah juga secara kalkulasi kasar dibayar seribu lima ratus perak untuk setiap pasien yang kami tangani. Saya sendiri pernah girang setengah mati setelah mendapat tip dalam mata uang US Dollar bergambar Eyang George Washington sebanyak dua lembar. Begitulah di beberapa waktu saya selalu menghitung dan berhitung.
Paradigma saya tentang uang berubah total, justru ketika saya menghadapi persoalan keuangan dimana ada hasrat untuk menuntut ilmu sampai ke negeri China (not literal) yang tidak diiringi dengan kesanggupan finansial. Beasiswa adalah opsi terbaik yang bisa saya pertaruhkan. Kita akan lewatkan kisah haru biru tentang kegagalan demi kegagalan. Hingga beasiswa LPDP menjawab rencana besar saya dengan kepercayaan untuk membiayai studi master saya, yang 'hanya' perlu saya tukar dengan loyalitas absolut pada tanah air. Easy peasy, benak saya kala itu, saya tidak sama sekali meragukan rasa nasionalisme saya. Pergolakan batin muncul menyusul ketika penyakit lama saya kambuh, menghitung. Saya menghitung detail biaya kuliah, akomodasi, biaya bertahan hidup, dan segala penunjang kelancaran studi lainnya. Saya tidak akan menyebut nominalnya disini, yang jelas naluri ketimuran saya mendominasi: merasa berhutang. Kalkulasi yang segalanya bisa diuangkan, diberikan, saya gunakan, maka sisanya adalah harfiah sebagai hutang. Kegalauan saya bertanya, apakah nasionalisme sebagaimana yang saya pahami adalah nasionalisme yang sama dengan yang dibutuhkan LPDP? Apakah uang yang saya hitung dan akan saya habiskan setara dengan harga badan saya ketika paska studi nanti?
*BaSE, dedikasi cicilan pertama.*
Ternyata banyak kawan penerima beasiswa memiliki pandangan semakna, negara memberi kesempatan bagi kita untuk berhutang, kewajiban kita adalah membayar. Dengan uang? Barang? Menanamkan kaki ke dalam pertiwi? Orang-orang terkasih dalam keluarga penerima beasiswa menyadarkan saya, "Bisa lho, Nya, hutang ini kita bayar dengan komoditas lain, sistem kredit." Maka lahirlah ide BaSE (Bali Scholarship Expo) sebagai cicilan nyata kami yang pertama. Sungguh, berkat keluarga awardee, saya meyakini pandangan baru tentang ini. Segala yang kita hitung dapat kita ganti dengan yang tak terhitung. Poinnya adalah, kapan dan bagaimana kita akan mulai menghitung hal tersebut yang tak terhitung.
*The unaccountable: Keluar Dari Kenyamanan Hanya Memikirkan Diri Sendiri*
Pertemuan demi pertemuan, ide, perdebatan, tawa, sedih, kecewa. Syukurnya, berhenti adalah satu-satunya ekspektasi yang tidak terjadi. Teman, karib, teman baru, kenalan yang jadi teman, kenalan yang tidak berujung kemna-mana, merupakan paket lain yang saya dapati selama BaSE, hampir setahun kemarin. Lucunya, kami yang kuantitasnya tidak melebihi sejumlah jari dua tangan pada awalnya saling lupa usia kami berapa (syukurnya). Saling berbeda profesi dan kerja. Saling beda selera, namun menertawakan lelucon yang sama. Kala itu saya masih bekerja di beda kabupaten, di tiga tempat totalnya. Hingga kini saya masih bertanya-tanya, energi yang membawa saya kesana-kemari datangnya dari mana (walau harus saya akui makan saya satu setengah kali porsi biasa).
Jangan tanyakan bagaimana, kami hanya sama-sama berhutang dan ingin membayarnya.
Kami, kalau boleh saya bilang, saling menyadarkan bahwa alangkah piciknya bila pesan yang tertuang dalam "surat hutang" kami (baca: kontrak beasiswa kami) tidak kami teruskan ke kandidat lainnya. Negara beritikad mencerdaskan kami, tugas kami hanya menggaungkan iklan kepada yang belum maklum, bahwa kesempatan itu ada dan nyata.
Tentang segala hal (yang menurut saya hebat) yang kami lakukan, saya bukan komponen sulkus girus, letak saya bukan kepala. Saya bukan sumber ide dan letupan kebrilianan lainnya. Saya, sekali lagi jika diizinkan memilih, kala itu hanya ibu jari. Menopang sedikit ketika tangan ingin menggenggam, dengan mudah mengacung bila siapapun layak pujian. Saya sama sekali tidak esensial, namun tetap ingin dinanti ketika satu waktu tidak berfungsi. Seperti itu, saya tidak paham sinergi acak ini membawa simpulan bahwa tentang beasiswa ini, saya merasa wajib mengurangi memikirkan diri sendiri. Akh, entah ini variasi ngelindur saya yang stadium lanjut. Ini semacam pengejawantahan rasa bangga dan jumawa tentang pencapaian bersama, yang saya ingin semua rekan penerima beasiswa juga merasakannya. Meraih dana beasiswa adalah hebat, namun bukan level tertinggi dari prestasi. Tingkat itu teramini ketika kita dengan sadar beritikad membayarnya kembali.
Seratus BaSE mungkin belum cukup melunasi akumulasi habis guna dari masing-masing kami. Bagi saya pribadi, BaSE (dan aktualisasi lainnya) memberi saya kesempatan selangkah mendekati lunas. Lebih penting lagi, orang-orang di dalamnya mengajari saya bagaimana cara mulai menghitung hal-hal yang tak terhitung.
Salam, di jeda hitungan yang masih amat panjang.
Search
Popular Posts
-
Kita akan menggigiti delapan, delapan sudah terlalu lama mendominasi figur tak terbatas, dari kasta kemajemukan yang paling atas. Delapan,...
-
Jadi ceritanya begini: Beberapa hari kemarin, karena suatu alasan yang tidak sanggup aku jelaskan lewat tulisan, aku tidak punya akses moda ...
-
Kemarin aku kembali (ini untuk kedua kalinya) mengunjungi Sanur Village Festival 2011. Iseng saja sebenarnya, selain karena aku te...
-
Masa sebelum kamu, aku bukan pengemar masakan kepiting. Bukan karena tidak suka rasanya (sesungguhnya lebih dari suka), melainkan karena tid...
-
Beberapa hari yang lalu, seorang teman bertanya, "Nya, nggak ngeri ya, jadi dokter zaman sekarang? Rentan dituntut, kok bisa gitu ya?...
-
Sudah malam lagi, menjadikannya genap satu rotasi bumi terlewati. *status: pinjaman. Pikiranku tidak begitu ingat kapan terakhir ...
-
Akhir-akhir ini aku sering sulit tidur (bukan cuma akhir-akhir ini saja sih..). Mengisi jam-jam sulit tidur, jadilah yang aku lakukan adalah...
Recent Posts
Categories
- [EARGASM]
- 30Hari Bercerita
- Ahmad Wahib
- Aktivitas
- Bahasa
- Barcelona
- Birokrasi
- BYEE
- Cerita Dari Negeri Lain
- Co-ass
- Easy-Aci Exploring the World
- Event
- Ex-Berliner
- Family
- Fiksi Tapi Bukan
- Friendship
- Germany
- Golden October
- Inspirasi
- Japan
- Jerman
- Journey to the West
- Karya
- KKM
- Koas
- Kontemplasi
- Menulis Random
- Movie
- Puisi
- Quality Time
- Refleksi
- Romansa
- Serba-serbi
- Song of the Day
- Sweet Escape
- T World
- Tragedy
- Travel
- Trip
- Tulisan
- Urip Iku Urup








