27 Oktober 2015
* * *
Ini dipicu sebuah cerita berlatar ruang poliklinik di pagi Rabu yang cerah dan tenang. Seorang ibu paruh baya memasuki ruangan dimana aku duduk tegak dengan perut lapar (belum sarapan jam 10 pagi woii, manusiawi).
Ibu Paruh Baya (IPB) : Selamat pagi... (ramah bagai tanpa beban hidup)
Aku : "Selamat pagi ibu.." (ramah balik donk..)
IPB : "Saya mau periksa, ini saya pusing sekali sudah dari dua hari saya pusing nggak bisa bangun. Ini saya paksakan berobat, sampai saya nggak masuk kerja lho Dok sejak dua hari kemarin (wajah IPB berubah berkesan sakit skala berat. Perasaan mulai tidak enak, jangan-jangan mau nodong surat keterangan sakit.)
Scene selanjutnya adalah anamnesis rutin untuk menggali riwayat penyakit si ibu, sacred seven fundamental four lah. Hingga aku simpulkan di kolom diagnosis dengan vertigo perifer (BPPV) dan terapi yang sesuai. Dan detik-detik yang aku prediksi pun tiba. Benar saja,
IPB : "Dok, kasi saya surat sakit, dari dua hari kemarin sudah nggak kerja" (nadanya seperti mendikte yang harus aku lakukan.)
Aku : (Berusaha setenang mungkin) "Begini Bu, saya akan memberikan surat keterangan sakit berdasarkan hasil pemeriksaan hari ini. Karena itu tanggalnya paling mentok untuk hari ini, tidak bisa mundur ke belakang."
IPB : "Lho..kok gitu. Saya kan sudah sakit dari kemarin-kemarin, kenapa nggak bisa?"
Aku : "Iya Bu, mungkin sakitnya Ibu memang sudaj sejak kemarin-kemarin. Masalahnya saya tidak melihat dan memeriksa ibu di hari yang kemarin-kemarin itu. Saya tidak memiliki dasar untuk memberikan keterangan untuk hal yang tidak saya periksa."
IPB "Gimana sih maksudnya? Biasanya saya bisa minta DC nggak ribet begini." (Nada super nyolot, sepertinya lupa dengan keluhan pusingnya.)
Aku : (Mulai bikin gerakan virtual ngelus dada) "Bu, surat keterangan ini surat resmi. Harus dibuat berdasarkan penilaian yang didapat dari hasil pemeriksaan. Karena saya yang mengeluarkan, dengan nama dan tanda tangan saya, maka saya menggunakan penilaian saya."
IPB : "Iya, saya ngerti. Saya ini orang LSM lho Bu dok, kalau di kantor saya yang nerima surat sakit karyawan saya. Saya memang sakit dari kemarin-kemarin kok. Ini saya malu aja kalau saya sakit malah nggak nyerahin surat."
Aku : ""Saya bukan dukun Bu, saya tidak bisa menerawang hal yang tidak saya lihat. Nah, apalagi ibudi bagian kepegawaian, Ibu tentu tidak senang kalau karyawan Ibu minta-minta surat sakit ke dokter."
Adegan berikutnya adalah IPB memberiku tatapan mata penuh kebencian, semacam tatapan penuh dendam ala sinetron Indosiar. Dengan dramatis, melempar kartu berobat ke atas meja.
IPB : "Ya, sudah! Tidak usah!"
Aku : "Owh..begitu, ya sudah obatnya jadi Bu?"
IPB : "Saya masukin koran aja, pelayanan kok nggak bener. Minta surat sakit aja nggak bisa!"
Aku : *senyum semanis mungkin*
IPB : *jalan sambil buang muka*
Aku: "Silahkan Ibu..haknya ibu mengeluhkan bila dirasa pelayanan saya yang kurang. Siapa tahu saya jadi terkenal." *tetap senyum dimanis-manisin* (mungkin lebih seperti i-do-want-to-kill-you-smile)
IPB : *tanpa menoleh lagi, turun tangga, sambil non stop ngomel* "Dasar dokter baru, nggak tau aturan. Nggak punya kemampuan." (Sepertinya totally forgot her dizzines)
Aku : "Terimakasih Bu..semoga cepat sembuh nggih..."
AKU SEDIH. AKU KECEWA. AKU MARAH.
Sedih karena masih ada penduduk Indonesia yang mentalnya demikiam. Kecewa karena punya kewajiban melayani orang yang demikian tanpa kecuali. Marah karena dituduh dengan pernyataan yang menurutku tidak pantas dan aku sedih dan membuatku kecewa, dan marah yang lebih...demikian seterusnya.
* * *
Banyak teman dan kenalan yang melontarkan pertanyaan padaku, apa aku bisa marah? Jelas jawabannya, iya. Iya, aku bisa marah. Aku sering marah, dalam hati. Aku sering marah, marah yang lebih tentram disimpan sendiri. Maafkan karena tulisan ini tertuang diinisiasi oleh marah yang mungkin ingin dikawani, jadi ia mendesakku untuk membagi.
Aku marah karena banyak alasan. Tenang saja, alasannya masih berkisar hal-hal di muka bumi. Paling tidak...akhir-akhir ini hatiku jadi sedikit terasa manusiawi.
Oh ya, satu lagi. Siapapun, tolong jangan sekali-sekali mengajari, meminta, apalagi menyuruh aku berbohong lagi. Itu hal yang sulit untuk aku toleransi.
Sekian.
25 Oktober 2015
9 September 2015
Aku punya teman.. Teman sepermainan.. (Ah..ah..//plak!)
Oke, ulang.
Aku punya teman. Jamak. Kalau sebelumnya aku pernah bercerita tentang teman yang datang dan pergi, dan datang kembali, hilang, datang lagi...mereka juga tak terkecuali.
Aku punya teman. Jamak. Akhir-akhir ini, mereka adalah satelit-satelit terdekat yang mengorbit bahkan saat aku kehilangan gravitasi. Kami berteman, dan begitu saja, kami tidak memiliki kriteria inklusi.
Suatu hari kami merencanakan bertemu, tujuannya bisa menyusul kemudian. Tidak harus ada hari yang diperingati, tidak mesti ada momentum yang dirayakan. Kadang kami sendiri bingung mencari alasan; memanfaatkan freepass sisa karaoke sebelumnya, berselancar dengan tempat makan baru, curhat masalah kerja (dan cinta), memanfaatkan kupon bazzar yang dibeli dengan keterpaksaan atau memenuhi kebutuhan primer untuk menggosipkan apa saja. Plak! Plak!
Jadi kami bertemu. Entah hanya aku atau mereka juga, bertemu menjadi salah satu kebutuhan. Setingkat di atas keinginan. Aku butuh merasa normal di dalam segala ketidakwarasan kami. Aku butuh merasa lurus di tengah labirin cerita yang saling ditukarkan. Aku butuh didengarkan di atas segala bising yang kami dengungkan, sama halnya dengan aku butuh mendengarkan demi segala kesunyian yang kita redam. Plak!
Dan kami bertemu lagi. Salah satu absen pergi, di hari lain yang lain yang tak kembali, di pertemuan yang lain akulah yang tak disini. Kadang A malas, B masih kerja, C ada acara keluarga, D lelah dan malas keluar rumah...plak!plak! Dan kita tetap bertemu. Cerita, rahasia, marah, gembira...sesering apa kita menemukannya dalam piring yang sama?
Aku dan mereka berteman dalam ruang yang tidak terdefinisikan. Lebih tepatnya tidak pernah kami definisikan. Buat apa? Kejamakan ini bukan mie pedas yang dapat dibagi levelnya. Seperti halnya kebutuhan yang lain, ada yang terpenuhi ada yang tidak, bukankah yang seperti itu yang mengingatkan kita akan hidup? Plak! Plak!
Aku punya teman. Ketika aku menulis sambil membayangkan mereka aku malah berakhir menampari diri sendiri. Mungkin hal-hal paradoks ini yang membuatku nyaman memproklamirkan bahwa kami berteman. Ya, paradoks; jengah dalam nyaman, gerah saat cuaca berangin, segan sekaligus tidak tahu malu, mengejek, mengagumi, mencela, menyayangi...hmm apa lagi?
Aku masih menampari diri sendiri. Siapa tahu kita akan segera bertemu kembali. [Lanjut menata mimpi sambil menyanyi//fals//plak!plak!]
30 Agustus 2015
Jadi ceritanya begini: Beberapa hari kemarin, karena suatu alasan yang tidak sanggup aku jelaskan lewat tulisan, aku tidak punya akses moda transportasi pribadi. Tidak ada kendaraan bukan berarti aku boleh ngendon di kost saja (kalau diizinkan sebenarnya sangat berharap), tugas jaga ya tetap jaga, nongkrongin ugd ya mesti tetap dijalani juga. Sarana transportasi publik pun menjadi pilihan. Dengan alasan kepraktisan dan dorongan jiwaku yang kekinian, akhirnya aku memanfaatkan jasa Gojek (yang bukan kebetulan masih dalam masa promo).
Apa istimewanya? Bukan aku saja yang rajin nge-Gojek. Lalu? Rangkaian nge-Gojek beberapa hari kemarin memberikan bentuk kesadaran baru bagiku. Kini hidup tak sama lagi (sumpah, dengan penuh kesadaran ini berlebihan.)
* * *
Driver (sebutan kerennya abang ojek) pertamaku di bawah bendera Gojek namanya Bang Nada Wijaya. Nama belakangnya adalah marga yang mengindikasikan daerah asal Sumatera Utara, hampir aku tanya, “Bang, masih sodaraan sama Sammy Simorangkir nggak?” Sebelumnya perlu aku permaklumkan, itu kali pertama aku menggunakan jasa Gojek sebagai ojek, sebelumnya yang aku gunakan adalah jasa antar barang, beli makan, beli makan, ngambil pesanan makanan (kok banyak makanannya ya?). Nah, Bang Nada ini orangnya ramah dan komunikatif. Dari pertama duduk boncengan sampai ke tempat tujuan si abang banyak bertanya dan menjawab. Usut punya usut ternyata Bang Nada ini lulusan Fakultas Hukum yang satu almamater universitas denganku, dan jadi driver Gojek ini hanya pekerjaan sampingan baginya. Walah...pantesan. Perasaanku benar, Batak (hampir selalu) identik dengan hukum, pengacara, jaksa, dll. Sepanjang perjalanan kost-RS Puri Raharja kami ngobrol dan sampainya cepat. Karena pelayanannya bagus, aku vote banyak bintang buat si abang. Ekspektasiku tentang driver Gojek menanjak, “Oke juga Gojek ini ya” pikirku saat itu.
Namun layaknya roller coaster, ada pasang ada surutnya (roller coaster atau ombak Pantai Sanur), ekspektasi yang sudah terbangun dihempaskan oleh driver Gojek berikutnya. Siang terik, jamnya pulang jaga, pesan Gojek, langsung dijemput di pos satpam Puri Raharja. Kesan pertamaku, alamak..motornya. Ternyata sebut saja Bli N, driver Gojek kedua, berbekal motor yang menurut pendapat pribadiku tidak ergonomis untuk boncengan. Ya sudahlah, nasi sudah ditambah lauk, eh sudah menjadi bubur. Ojek sudah kadung dipesan, aku pun diangkut pulang. Entah karena kinerja kelenjar keringat berbanding lurus dengan teriknya mentari atau karena si bli kurang niat mandinya, aku harus menikmati sepoi angin beraroma sepanjang perjalanan (menyesal menolak masker). Bukan hanya tambahan service “aroma terapi” yang membuat hatiku kesal, ternyata si bli juga tidak hapal jalanan Denpasar! Sempat dua kali salah belok, dan nyaris melawan arus di jalan satu arah. Bukan apa-apa, aku bukan ahli arah dan penguasa jalanan, tapi yang tukang ojek siapa??! Alhasil, aku tiba di kost (full arahan dariku, jadi sepanjang jalan lebih mirip aku lagi guiding si bli city tour de Denpasar), bayar Gojek, dan migrain sampai sore.
Hari lain aku pesan Gojek, tujuanku lagi-lagi RS Puri Raharja (ketahuanlah trayek hidupku kost-Puri Raharja-kost). Karena pengalaman pemesanan sebelumnya sangat tepat waktu penjemputannya aku dengan santai memesan 20 menit sebelum jam jaga. Ternyata datangnya 10 menitan setelah konfirmasi, okelah telat-telat dikit bisa dikebut pas jalan, kataku pada diri sendiri untuk menghibur hati. Driver kali ini seorang bapak, lokal alias Bali aseli tapi lama menetap di luar pulau. Si bapak ramah, tidak bau badan, hanya saja caranya mengendarai motor itu lho...pelan banget! Sering kulirik speedometer jarang sekali mencapai angka 40km/jam. Alamak.... Maunya aku suruh kebut, nggak tega, jadilah aku terlambat 20 menit. Maafkan. Driver ketiga ini rasanya sudah di luar analogi roller coaster, akan aku pertimbangkan analogi odong-odong.
* * *
Syukurnya sekarang aku didampingi kendaraan bermotor lagi. Ribet dan tekor juga kalau setiap hari naik Gojek. Seperti aku katakan di atas, pengalaman berGojek-ria mengubah persepsiku tentang perumpamaan hidup. Kalau kata Forest Gump, life is like a box of chocolate, kataku life is like ordering Gojek, you’ll never know till you meet the driver (and good luck).
23 Agustus 2015
Seperti hijaunya daun singkong, menu utama malam tadi, yang mengingatkanku padamu. Bukan karena kita pernah duduk berhadapan pada meja makan yang sama. Bukan. Seperti itulah setiap hal kecil yang datang membangkitkan rasaku tentang hal lain yang jaraknya sudah tidak lagi menggunakan satuan mil. Karena kita terbiasa mengaitkan setiap bentukan, menghubungkan setiap lekukan, dan mati-matian menyatukan setiap kemustahilan.
Malam ini pun aku tidur dalam hangatnya selimut kenangan. Tertawakanlah bila kalimat barusan lebih terdengar seperti lirik lagu melayu murahan. Haha.. Tapi sungguh, kali ini aku menuliskannya secara harfiah. Selimut motif loreng cokelat tua dan muda (bukan pramuka) dengan label seekor macan. Berapa kalipun terjadi regenerasi selimut, hanya selimut ini yang selalu membawaku pada 13 tahun masa kecilku. Walaupun buluk, seratnya kadang menimbulkan gatal, walaupun gambar macannya memudar dan bermetamorfosis mendekati bentuk kucing pemakan ikan asin, selimut motif loreng cokelat tua muda ini adalah salah satu alasan tidur nyenyak di rumah.
Baiklah, aku perlu menerbitkan bahasan lain, agar tidak timbul pikiran bahwa parameter kenyamanan hidupku hanyalah masalah tidur dan kasur. Baju lama misalnya. Baju-baju belel yang kadang lubangnya bukan hanya fungsional sebagai tempat masuknya badan dan lengan. Salah satunya ambil andil dalam masuknya angin (lubang abnormal pada area ketiak, robek patologis punggung dan perut, bagaimana tidak masuk angin?) Prinsipnya adalah semakin tua dan jelek bajunya, semakin nyaman dipakainya. Alasannya sejalan dengan mengapa aku kadang mengenakan baju orang yang sudah dipakai (ya..kamu), lagi-lagi demi kenyamanan itu.
Setelah aku pikir-pikir, semua benda di rumah ini berasosiasi dengan hal-hal yang menyenangkan di masa-masa yang sudah lewat. Mengingatkan aku bahwa suatu waktu aku pernah menginginkan, mengusahakan, mendapatkan (walau tak jarang mendapatkan penolakan). Syukurnya waktu adalah jampi-jampi yang dapat mengubah kejadian biasa menjadi memori manis, dan pengalaman pahit menjadi pelajaran yang kurang pahit. Dan rasa, perasaan, sudah tentu inkonsisten. Memudar seperti warna baju-baju yang terlalu nyaman dipakai, makin kuat seperti aroma masakan ibu.
Akhir-akhir ini ada banyak kehilangan dan ketertinggalan. Hari ini dan besok akan banyak diisi dengan berlari, dan mungkin dengan sayur daun singkong.
Begitulah, ternyata ada banyak hal kecil yang dapat rapat menutupi setiap luka yang sedikit lebih besar.
Search
Popular Posts
-
Kita akan menggigiti delapan, delapan sudah terlalu lama mendominasi figur tak terbatas, dari kasta kemajemukan yang paling atas. Delapan,...
-
Jadi ceritanya begini: Beberapa hari kemarin, karena suatu alasan yang tidak sanggup aku jelaskan lewat tulisan, aku tidak punya akses moda ...
-
Kemarin aku kembali (ini untuk kedua kalinya) mengunjungi Sanur Village Festival 2011. Iseng saja sebenarnya, selain karena aku te...
-
Masa sebelum kamu, aku bukan pengemar masakan kepiting. Bukan karena tidak suka rasanya (sesungguhnya lebih dari suka), melainkan karena tid...
-
Beberapa hari yang lalu, seorang teman bertanya, "Nya, nggak ngeri ya, jadi dokter zaman sekarang? Rentan dituntut, kok bisa gitu ya?...
-
Sudah malam lagi, menjadikannya genap satu rotasi bumi terlewati. *status: pinjaman. Pikiranku tidak begitu ingat kapan terakhir ...
-
Akhir-akhir ini aku sering sulit tidur (bukan cuma akhir-akhir ini saja sih..). Mengisi jam-jam sulit tidur, jadilah yang aku lakukan adalah...
Recent Posts
Categories
- [EARGASM]
- 30Hari Bercerita
- Ahmad Wahib
- Aktivitas
- Bahasa
- Barcelona
- Birokrasi
- BYEE
- Cerita Dari Negeri Lain
- Co-ass
- Easy-Aci Exploring the World
- Event
- Ex-Berliner
- Family
- Fiksi Tapi Bukan
- Friendship
- Germany
- Golden October
- Inspirasi
- Japan
- Jerman
- Journey to the West
- Karya
- KKM
- Koas
- Kontemplasi
- Menulis Random
- Movie
- Puisi
- Quality Time
- Refleksi
- Romansa
- Serba-serbi
- Song of the Day
- Sweet Escape
- T World
- Tragedy
- Travel
- Trip
- Tulisan
- Urip Iku Urup
