23 Agustus 2015
Seperti hijaunya daun singkong, menu utama malam tadi, yang mengingatkanku padamu. Bukan karena kita pernah duduk berhadapan pada meja makan yang sama. Bukan. Seperti itulah setiap hal kecil yang datang membangkitkan rasaku tentang hal lain yang jaraknya sudah tidak lagi menggunakan satuan mil. Karena kita terbiasa mengaitkan setiap bentukan, menghubungkan setiap lekukan, dan mati-matian menyatukan setiap kemustahilan.
Malam ini pun aku tidur dalam hangatnya selimut kenangan. Tertawakanlah bila kalimat barusan lebih terdengar seperti lirik lagu melayu murahan. Haha.. Tapi sungguh, kali ini aku menuliskannya secara harfiah. Selimut motif loreng cokelat tua dan muda (bukan pramuka) dengan label seekor macan. Berapa kalipun terjadi regenerasi selimut, hanya selimut ini yang selalu membawaku pada 13 tahun masa kecilku. Walaupun buluk, seratnya kadang menimbulkan gatal, walaupun gambar macannya memudar dan bermetamorfosis mendekati bentuk kucing pemakan ikan asin, selimut motif loreng cokelat tua muda ini adalah salah satu alasan tidur nyenyak di rumah.
Baiklah, aku perlu menerbitkan bahasan lain, agar tidak timbul pikiran bahwa parameter kenyamanan hidupku hanyalah masalah tidur dan kasur. Baju lama misalnya. Baju-baju belel yang kadang lubangnya bukan hanya fungsional sebagai tempat masuknya badan dan lengan. Salah satunya ambil andil dalam masuknya angin (lubang abnormal pada area ketiak, robek patologis punggung dan perut, bagaimana tidak masuk angin?) Prinsipnya adalah semakin tua dan jelek bajunya, semakin nyaman dipakainya. Alasannya sejalan dengan mengapa aku kadang mengenakan baju orang yang sudah dipakai (ya..kamu), lagi-lagi demi kenyamanan itu.
Setelah aku pikir-pikir, semua benda di rumah ini berasosiasi dengan hal-hal yang menyenangkan di masa-masa yang sudah lewat. Mengingatkan aku bahwa suatu waktu aku pernah menginginkan, mengusahakan, mendapatkan (walau tak jarang mendapatkan penolakan). Syukurnya waktu adalah jampi-jampi yang dapat mengubah kejadian biasa menjadi memori manis, dan pengalaman pahit menjadi pelajaran yang kurang pahit. Dan rasa, perasaan, sudah tentu inkonsisten. Memudar seperti warna baju-baju yang terlalu nyaman dipakai, makin kuat seperti aroma masakan ibu.
Akhir-akhir ini ada banyak kehilangan dan ketertinggalan. Hari ini dan besok akan banyak diisi dengan berlari, dan mungkin dengan sayur daun singkong.
Begitulah, ternyata ada banyak hal kecil yang dapat rapat menutupi setiap luka yang sedikit lebih besar.
Search
Popular Posts
-
Seperti halnya kisah cinta, tidak semua perjalanan berakhir bahagia. Ini semacam sensasi pahit yang mengikuti tablet bandel yang sulit dite...
-
Bukan semata-mata karena ‘harus’ tinggal sebulan di negeri Sakura maka saya mencoba selihai mungkin dalam mengunakan sumpit. Dari dulu say...
-
Filmnya tentang cinta, tapi aku menulis tentang bantal. Aku tipe orang yang tidur tanpa bantal. Kalau pun aku punya bantal, keberadaanny...
-
Adalah sebuah alasan lain untuk menulis pagi ini yaitu headset yang sudah lelah berfungsi dan dua jam perjalanan yang perlu dibunuhi. Aku b...
-
Jelas ini bukan salah satu ekspresi penduduk Indonesia yang latah euforia tahu bulat. Apalagi download permainannya di Google Store kemudia...
-
Memasuki minggu kedua petualanganku di negeri Sakura. Aku sudah mulai terbiasa dengan dinginnya sapuan angin musim gugur, daun-daun yang be...
Recent Posts
Categories
- [EARGASM]
- 30Hari Bercerita
- Ahmad Wahib
- Aktivitas
- Bahasa
- Barcelona
- Birokrasi
- BYEE
- Cerita Dari Negeri Lain
- Co-ass
- Easy-Aci Exploring the World
- Event
- Ex-Berliner
- Family
- Fiksi Tapi Bukan
- Friendship
- Germany
- Golden October
- Inspirasi
- Japan
- Jerman
- Journey to the West
- Karya
- KKM
- Koas
- Kontemplasi
- Menulis Random
- Movie
- Puisi
- Quality Time
- Refleksi
- Romansa
- Serba-serbi
- Song of the Day
- Sweet Escape
- T World
- Tragedy
- Travel
- Trip
- Tulisan
- Urip Iku Urup
0 comments:
Posting Komentar