26 Maret 2018
On 08.13 by anya-(aydwprdnya) in Barcelona, Easy-Aci Exploring the World, Ex-Berliner, Journey to the West, Travel, Trip No comments
Hola!
Masih dari Barcelona....lucunya, banyak hal mengingatkanku pada...rumah!
Bagian kedua dari catatan edisi Barcelona ini lebih pada catatan pribadiku, yang penting sekaligus tidak penting, selama di berada di kota ini.
- Jalanan di tengah kota Barcelona tidak bersudut. Bangunan yang terletak di titik temu antara dua jalan seperti dipotong atau di "di-crop". Aku sendiri tidak yakin alasan jelas di balik tata kota yang demikian rupa dimaksudkan untuk apa. Namun dari salah satu artikel yang pernah aku baca, konon dulunya pernah dicanangkan untuk moda transportasi tram dalam kota. Nah, karena tram membutuhkan radius lintas yang lebih lebar untuk berbelok, maka tercetuslah ide untuk "memotong" sudut-sudut blok. Kenyataannya hingga sekarang tram hanyalah sekadar wacana di kota ini. Konsekuensinya bagi pejalan kaki seperti aku, di setiap persimpangan kita harus melipir sedikit ke jalan berikutnya jika ingin menyeberang jalan.
- Nah, perihal menyeberang jalan. Ini harus aku bahas karena tata cara menyeberangnya sangat Asia Tenggara (sebisa mungkin aku tidak menyebut sangat Indonesia). Menyeberang jalan di Barcelona, prioritas adalah toleh kanan-kiri, masalah lampu lalu lintas adalah nomor sekian. Untuk aku yang selalu bermasalah dengan menyeberang jalan (bahkan ketika masih di Bali, payah!) ini bukan berita baik. Beberapa kali aku merasa seperti orang bodoh karena menunggu tanda lampu hijau penyeberang jalan menyala.
- Motor diparkir, helm ditenteng kemana-mana. Hm..sounds familiar? Ini akan terdengar berlebihan, tapi selama beberapa bulan terakhir sangat jarang aku melihat helm, apalagi yang ditenteng hingga masuk mall. Di Uni Barcelona, bahkan dosen-dosen juga memajang helmnya di meja depan sepanjang kuliah berlangsung.
- Must-see-spots sampai do-not-pass-corners. Dikenal sebagai kota wisata, aku harus bilang kalau sebagian besar areanya terkesan sangat turistik. Bangunan-bangunan tua, bernuansa gotik akibat pengaruh pendudukan Romawi di masa lampau, hingga fokus pada karya-karya Goudi dengan gayanya yang khas adalah barisan yang muncul jika kita mengetik di google image "enjoy Barcelona". Upside nya, objek-objek tersebut mudah diakses dari dalam kota dan uniknya bercampur baur dengan hunian penduduknya. Di sini aku harus mengklarifikasi sedikit bahwa aku bisa dibilang turis yang sedikit melenceng. Tentu sebagai penggemar bangunan tua aku juga mengisi checklist spot yang wajib dilihat dan dikunjungi. Namun dalam dua minggu ini, aku meluangkan banyak waktu untuk melihat sisi yang jarang ingin dilihat (sebagiannya tentu akibat keahlian membaca peta yang sedikit di bawah rata-rata). Maka, bisa dibilang aku tamat menjelajahi kota Barcelona; indahnya, semaraknya, bersahabatnya, bahayanya, sepinya, bahkan sudut kumuhnya. Aku bisa bilang begitu karena pada suatu malam yang seharusnya aku menikmati waktu bersama teman-teman, alih-alih menikmati tapas aku malah tersasar ke antah berantah dengan ponsel tanpa daya, sampai pada satu persimpangan ditawari mariyuana.
- Aku tidak bisa memilih, tentang di kota mana mariyuana lebih hakiki, Amsterdam atau Barcelona. Di kota yang kusebut kedua, observasiku, aku bisa mencium aroma mariyuana dimana-mana dan di waktu kapan saja. Di zebra cross sesaat di depan Plaza Catalunya saat berangkat kampus pagi hari, di tepi pantai Barceloneta di sore cerah, di pintu masuk atau keluar Metro...seperti kubilang sebelumnya, di mana-mana dan kapan saja.
- Barceloneta sampai Nude Beach. Kata orang-orang, karena aku lahir besar di Bali, standarku akan keindahan pantai relatif tinggi. Mungkin iya, mungkin juga tidak. Mungkin standarku juga fleksibel, ketika mengunjungi pantai namun pemandangan utamanya justru abang-abang berkeringat di gym area yang transparan, atau ketika jalan terus dan terus seakan tak tahu tujuan padahal tahu pasti bahwa di ujung sana adalah nude beach. Welcome to Barcelona! 😎
- Jam biologis yang anomali. Bagaimana mungkin aku bisa menyesuaikan waktu makanku dengan lokal Barcelona? Tubuhku tidak akan pernah paham. Makan siang normal di Barca adalah setelah lewat pukul 14.00 dan jangan heran jika jam 10 malam, tetangga di apartement baru mulai kelontengan masak untuk makan malam. Beberapa restoran atau rumah makan juga memiliki jam operasional yang 'ajaib'.
- Kota yang tak pernah dikejar waktu. Kata temanku, di Barcelona, tidak ada istilah pagi hari mengejar kereta dengan coffee to go di tangan. Dan memang benar, pagi terasa damai sekali, bahkan di jam berangkat kerja, kita masih bisa melihat orang-orang dengan tas kerja duduk manis menyeruput kopi di kedai sambil bercengkerama.
- Kota yang memang tak berlari, namun juga sekaligus kota yang segera ingin sendiri. Adalah cerita panjang jika membahas mengenai asal muasal perjuangan kemerdekaan Catalonia dari Spanyol. Selama aku di sana pun masih kental aksi protes, unjuk rasa terhadap pemerintahan pusat.
Daftar yang mungkin akan bertambah lagi.
Placa Reial, 20 Maret 2018
25 Maret 2018
Christening Little David
[Satu momen lainnya dimana cinta kasih tidak mengenal teritori.]
Saat aku menerima undangan di acara pembaptisan anak salah satu teman sekelas yang juga merupakan ponakan pertama bagi Charite MScIH kelas 2017, aku langsung bertekad akan datang. Jujur saja aku merasa melewatkan banyak hal selama dua minggu tidak berada di Berlin. Juga ketika aku tiba beberapa hari yang lalu, tiba-tiba semua orang yang aku kenal berada di luar kota, dan ada juga yang pulang ke Indonesia. Praktis, aku agak merasa sendiri. Hari kedua kembali ke kota ini aku melewatkan malam bersama teman-teman di pub sampai pubnya tutup. Sehari setelahnya aku menemani seorang teman lain ke acara ulang tahun yang menjerumuskanku ke sebuah pesta yang penuh dengan pengacara, hakim, prosekutor, dan lain-lainnya yang baunya serupa. Maka aku pikir, muncul di gereja di hari minggu pada momen bahagia seorang teman akan melengkapi kembalinya aku di sini (setidaknya agar berhenti mengeluhkan musim semi yang tidak nampak seminya.).
![]() |
| Bilingual New Testament yang aku beli dari toko buku 1 euro-an, yang sekarang sudah tutup :') |
![]() |
| Penanda rumah ibadah Hausotterstrasse 25 |
Aku yang datang terlambat dengan penuh keyakinan asal masuk ke ruangan yang aku suspek sebagai tempat berlangsungnya acara. Yang terjadi ketika aku masuk? Orang-orang terlihat kaget (yang mana aku juga kaget) karena jelas sekali secara penampakan anatomi aku tidak akan bisa menyaru di sana. Tempat ibadah ini lebih pada tempat ibadah komunitas, yang pengikutnya cenderung homogen yaitu penduduk sekitar dengan latar belakang Afrika Selatan. Selain dari warna kulit, pakaian yang mereka kenakan juga bernuansa afrika. Mentalku agak susut juga, namun di luar dugaan, setelah menyapa singkat orang-orang yang aku lewati semuanya mempersilahkan aku lewat dengan senyum ramah dan bahkan seorang mama membersihkan satu kursi demi agar aku bisa mengikuti acara dengan lapang pandang yang bagus. Ternyata acara juga belum lama dimulai, pendamping pendeta (aku tidak yakin bagaimana harus menyebutnya) mempersilahkan orang-orang yang baru pertama kali beribadah di sana untuk memperkenalkan diri. Termasuk aku juga. Aku tidak ambil pusing sama sekali untuk menegaskan agama yang aku anut, walaupun di data registrasi aku tetap menulis Hindu sebagai latar belakang kepercayaanku. Ini pertama kalinya aku memperkenalkan diri secara formal di dalam rangkaian ibadah gereja dan disoraki, "Sister Anya, you are welcomed!"- berkali-kali.
Aku mengikuti pembacaan alkitab, yang mana seorang mama baik hati meminjamkan satu buah alkitab agar aku bisa mengikuti. Sebelumnya ia bertanya apa aku ingin ikut membaca, yang aku jawab dengan mengambil holy bible yang disodorkan ke arahku. Aku tidak terlalu mengalami kesulitan mengikuti lompatan-lompatan partisi dan verse yang dibaca oleh pendeta yang sangat bersemangat dan atraktif. Pun, mama yang sama yang meminjamiku bible selalu siaga jika aku kesulitan menemukan bagian yang dimaksud. Tidak terasa pembacaan alkitab dan interpretasi cerita diselingi dengan nyanyian yang menyenangkan, kemudian tiba waktunya pembaptisan. Jangan harap akan menyaksikan bayi mungil diguyur air. Christening di sini lebih pada ceremonial act, simbolisasi diterimanya bayi kecil di komunitas gereja, dan pengukuhan nama. Memang sebelumnya aku sudah bertanya pada Felix, temanku yang ayahnya si David, tentang nama anaknya. Tapi hari ini namanya secara resmi diumumkan. Kemudian tentu saja doa-doa baik untuk si bayi.
![]() |
| Potret bahagia di hari bahagia. Little David anteng sekali. |
Menghadiri christening tadi, mengingatkan aku pada upacara nelubulanin (tiga bulanan) di Bali. Esensinya kurang lebih sama, hanya ceremonial act-nya yang berbeda. Menyenangkan bisa menemukan kesamaannya. Salah satunya yang juga serupa adalah 'after ceremony rejoice', bagian dimana hadirin ikut bersuka cita atas diterimanya anggota baru gereja atau komunitas. Alias, makan-makan!! Karena aku anaknya pemalu, maka aku mengantre jauh di belakang karena banyak anak-anak yang menurutku penting didahulukan. Berkali-kali aku ditawari agar mengambil terlebih dahulu. Berkali-kali juga aku dijelaskan mengenai menu hari tadi, menanyakan preferensi makananku, dan menawarkan untuk mencicipi dulu jika mau. Secara umum, aku diperlakukan istimewa. Pada tiba saatnya giliranku, satu porsi (BESAR) yang menunya komplit menungguku. Ajaibnya, tandas pindah ke saluran cernaku sembari mengobrol dengan Bianca, Maria, Robin dan lainnya, anak-anak yang merubungi aku dan menanyakan banyak hal karena jelas aku nampak 'berbeda'. Mungkin seperti ini perasaan bule yang masuk ke Pasar Kumbasari.
Hingga tiba waktunya aku berpamitan karena perutku sudah penuh, ehm, maksudku karena memang acara sudah usai, aku masih menerima salam dan pelukan dari orang-orang yang belum sempat aku kenal. Aku ragu jika di masa mendatang akan menyusup lagi di tempat itu. Jaraknya terlalu jauh dan dari rumah harus ditempuh dengan berganti kereta tiga kali dan berjalan kaki. Bagaimana pun, selain tentang little David yang anteng sekali, aku akan ingat bagaimana tempat ini dan orang-orangnya memperlakukan aku dengan indahnya. Selangkah sebelum aku pergi, seorang mama memberikan undangan merayakan Paskah bersama, dan memberiku pelukan yang hangat luar biasa.
Aku rasa aku sudah benar-benar kembali di Berlin.
25 Maret 2018
21 Januari 2018
On 11.38 by anya-(aydwprdnya) in Ex-Berliner, Germany, Kontemplasi, Menulis Random, Romansa No comments
Ingin cepat namun juga ingin lambat. Dilema rutin seumpama menunggu sekaligus juga berpacu. Terlebih lagi, ini adalah buah karya dari sebentuk otak yang sejak beberapa hari mempertanyakan hal-hal yang bagi kelangsungan umat manusia dan alam semesta, terkategori: tidak bermakna. Misalnya, empat hari yang lalu, merenungkan mana yang lebih nestapa: lapar atau sendiri. Atau kemarin lusa, menghabiskan tiga menit sia-sia untuk mencerna bintik di tepi jaket apakah salju atau ketombe (kesimpulan akhirnya adalah salju, sungguh!). Atau tadi sore, manusia dua puluh tujuh tahun macam apa yang tidak memiliki intuisi sama sekali untuk membedakan antara mimisan dengan ingusan.
Pantas saja, kata ibu, banyak hal yang dari bungkus luarnya yang kelihatannya seolah-olah pintar namun sesungguhnya selalu perlu dievaluasi ulang, setidaknya dengan ditanyai, "Apa kabar?". Mungkin aku bisa mengerti.
Tapi adalah fakta, ketika seseorang memulai kalimat dengan kata-kata yang muatannya lebih eksesif daripada muatan truk barang yang melaju di jalur Denpasar-Gilimanuk, maka bodoh dan pintar itu hanya aspal kualitas rendah yang dikutuk oleh manusia-manusia lapar. Kata-kata yang aku maksud, salah satunya adalah sore, senja, rumput, ilalang, lagu, juga segala hal romantis lainnya.
Terlihatkah bagimu seberapa besar usahaku?
Sore yang datangnya terlalu pagi #1 Lagu-lagu yang liriknya memantul di udara sampai kulit yang mati rasa.
Sore yang datangnya terlalu pagi #2Anak-anak tangga berlari, aroma angin kering mengikuti dari jarak tiga senti, dan membran tipis yang membatasi jauh dari tinggi.
Sore yang datangnya terlalu pagi #3Garis residual dari ekor pesawat yang melintas sehari delapan belas kali, tirai jendela yang terbuka abadi (siapa yang suka melewatkan matahari?), surat yang sampai namun tak kembali, dan lain-lain.
Berlin 21.01.2018
A.
12 Januari 2018
Ada suatu tempo yang spesifik dimana otakmu gagal memaklumi apa yang Kau ingini sementara segala kendali diambil alih oleh kaki. Ya, kau tentu pahami, sepasang kaki cendekia yang tahu segalanya. Kaki yang membawaku naik dan turun kereta. Kaki yang pernah berjanji untuk mengikutimu berbelok entah kanan atau kiri. Kaki yang selalu Kau telanjangi, setiap kali aku bergerak pergi. Tapi toh nyatanya kaki ini terlalu keras kepala (frasa ini terasa aneh karena kita sedang membicarakan tentang kaki), kaki yang tak bisa menuruti apa yang Kau suka, kaki yang menari dalam dentuman luka. Sore tadi kaki yang sama membawaku masuk dari satu toko ke toko lainnya, semata-mata karena otakku menolak untuk bekerja namun menginginkan dopamin instan dengan semena-mena. Ia mendapatkannya! Dalam sebuah tas jinjing kecil yang harus kubayar dengan 50 sen ekstra. Namun kaki tidak ambil pusing, ia tidak ingin tahu berapa uang yang melayang dari kantongku. Ia hanya tahu bagaimana menggesek hangat bagian dalam sepatu, yang konstan walaupun tidak mengikuti rumus baku. Ah, tahukah Kau, betapa riuhnya sore ini dengan kesendirianku dan juga perang dingin (sedingin udara kota sore tadi) antara penggila buku dan penikmat sepatu; kepala dan kakiku.
Aku tiba di sebuah taman. Aku menjilat sekilas ujung telunjuk dan mengacungkannya ke udara, bermaksud menyapa angin dan menguntit arahnya. Seperti berkompromi dengan angin, seorang asing lebih dahulu menyapa. "Maaf, menunggu lama..", ucapnya. Telingaku masih tersumbat earphone yang entah sejak kapan sudah tidak menyalurkan suara. Aku menatapnya heran, aku tidak menunggu siapa-siapa. Pun aku tidak berencana kemana-mana. Seperti yang Kau duga, otakku kehilangan dominasinya hingga teguk espresso yang kedua. Aku dan Seorang Asing bertukar cerita, tentang apa saja dari hal yang paling tetek hingga hal yang kelewat bengek. Juga perihal benda-benda yang terbangnya ngalor sampai yang tidurnya ngidul. Kalau Kau percaya bahwa aku mencintai Tuhan di atas segalanya, maka gelas-gelas kopi yang kosong adalah saksinya.
Aku di atas kereta, Seorang Asing juga. Hey! Ini kereta yang membawaku ke arah yang tidak semestinya! Tapi ini satu malam sebelum sabtu, dan kafein gagal mengembalikan fungsi otakku, dan Seorang Asing mulai merayu. Aku tidak menemukan apa-apa, sama seperti ujung jemariku, hatiku mati rasa. Aku biarkan saja Seorang Asing meracau seenaknya. Aku tahu, kami tidak akan kemana-mana.
Aku di salah satu kafe Shisha di sudut jalan yang hanya kakiku yang tahu ini dimana, Seorang Asing juga. Tidak satupun dari kami adalah penikmat Shisha (sebuah tanya kenapa di tempat ini kami tiba), dan kami mengulang hal yang sama, berbicara. Berbicara sambil menangkapi aneka rupa aroma asap dan udara yang keluar masuk dari paru-paru berbagai manusia.
- Aku ingin melihat ke dalam matanya yang berwarna sama denganku.
- Aku merasakan napasnya sedikit di atas garis dagu.
- Aku melupakan ponsel di jendela toilet kafe itu.
- Kami berdiri dan menari
- Dengan musik dan gerakan yang tidak selaras sama sekali
- Dengan degup jantungnya yang dirasakan makin keras dan cepat oleh telapak tanganku.
- Ponselku kembali
- Ponselnya hampir mati.
-Aku berusaha. Aku tidak merasakan apa-apa. Kami tidak kemana-mana.-
Kami berdiri di persimpangan yang memisahkan kafe Shisha dengan apartemen Seorang Asing (terjawab sudah mengapa). "Ingin minum sesuatu?",ajakan terakhirnya sebelum aku meninggalkan deretan nomor di ingatannya. Aku berusaha. Tapi aku tetap tidak merasakan apa-apa. Kami tidak kemana-mana. Hangat di pipi kananku pun tak menunggu detik untuk hilang tak bersisa.
Ini kota yang selalu menyimpan cadangan dimensi tak terduga. Segala yang berlalu sore tadi adalah hal yang biasa. Aku pun berkeyakinan, tentang Seorang Asing, bahwa sebentar lagi aku akan lupa. Aku tiba di rumah,sambil memasukkan anak kunci kutatap bayanganku sendiri memantul di permukaan kaca, aku menemukan Seorang Asing menatap tepat di lintasan mataku melihatnya.
Mungkin aku tidak akan lupa.
(Mungkin aku tidak gila.)
Hanya salah satu malam di hari Jumat.
A.
6 Januari 2018
On 12.31 by anya-(aydwprdnya) No comments
Tentang seorang perempuan yang membuat segalanya terlihat mudah.
Ini aneh sekali. Aku merasa sedih untuk alasan yang bahkan tidak menempatkan aku pada subyek kesedihannya sendiri. Mungkin inilah mengapa sebuah hubungan bisa sangat berbahaya. Aku mengerti empati, tapi kali ini aku gagal menahannya di batas aman sesaat sebelum ia berubah menjadi simpati. Kemudian aku mulai menunjukkan afek sedih dan merasa sendiri. Dan orang yang lebih pantas sedih, rasanya juga pantas mengutukiku dalam hati.
Ya, orang ini.
Kami saling mengenal belum terlalu lama. Jika seumpama bayi, hubungan kami bahkan belum berbicara, kira-kira sudah bisa tegak kepala. Situasi yang mendekatkan kami, kondisi yang mensyaratkan kami bertemu hampir setiap hari. Untuk setiap pertemuan dan perkenalan, organ pencernaan kita biasanya memberikan firasat apakah akan menjadi pertemuan tanpa faedah, berujung teman, atau berakhir lebih dari sekadar teman. Aku sendiri tidak yakin dengannya, tapi bagiku sendiri, aku tahu kami akan saling membutuhkan sejak mengenalnya pertama kali.
Tentu aku tahu banyak cerita superfisial tentangnya, begitu juga sebaliknya. Kami juga mulai saling mengerti apa yang membuat kami berbeda, apa yang serupa. Hal yang aku suka adalah aku bisa sesuka hati mengambil peran sebagai kakak dari adik perempuan (satu-satunya adik kandungku adalah lelaki, jelas tidak bisa didandani), bahkan mungkin tanpa ia setujui. Hal lainnya lagi adalah aku juga merasa bebas menunjukkan kemanjaan yang menjadi-jadi karena setiap aku butuhkan, voila! ia berubah jauh lebih mandiri.
Kami melewati banyak gradasi emosi; senang, sangat senang, hiper-senang, kesal, sedih, terharu...juga aku banyak membagi perasaan dan ekspresi dari segala masalah hidup yang kalau boleh jujur, aku harap ia lupakan begitu saja. Hal-hal memalukan, segala drama, pertanyaan hidup, hingga momentum minim emosi saat kami di ruangan yang sama; aku membaca dan ia menonton drama Korea. Melewati tetek bengek tersebut, tiba-tiba hadir emosi yang sulit dibagi dan lebih parahnya tidak bisa aku pahami...aku sedih, dimana seharusnya tidak. Argh. Maaf karena aku malah jadi emosional.
Ada lagi yang aku suka darinya. Ia adalah seorang perempuan yang melihat masalah dengan mudah.
Aku sering merasa bersalah karena jika kami tersesat (yang pasti karena aku) ia selalu nrimo, katanya, nggak apa..masih mending tersesat berdua. Haha..
Aku malah membuat tulisan ini terdengar seperti perpisahan, padahal maksudku tidak demikian. Aku hanya, seperti yang ia juga tahu, kadang sulit mengungkapkan emosi secara frontal. Ketahuilah, aku tidak menangis di malam setelah bertemu denganmu, kalaupun iya, itu karena aku terlalu banyak belanja. Hai, teman main, teman belanja, adik kecil, obyek foto, suplier cemilan, mamak bawel, manusia yang tidak peka, orang (yang heran deh) tidak suka tahu, si bunga kecombrang, it won't be any help here, but please remember, mimpi dan impian itu selalu ada, ini hanya tentang seberapa betah kita menari sambil menutup mata.
Love. Love.
A
Langganan:
Postingan (Atom)
Search
Popular Posts
-
Kita akan menggigiti delapan, delapan sudah terlalu lama mendominasi figur tak terbatas, dari kasta kemajemukan yang paling atas. Delapan,...
-
Jadi ceritanya begini: Beberapa hari kemarin, karena suatu alasan yang tidak sanggup aku jelaskan lewat tulisan, aku tidak punya akses moda ...
-
Kemarin aku kembali (ini untuk kedua kalinya) mengunjungi Sanur Village Festival 2011. Iseng saja sebenarnya, selain karena aku te...
-
Masa sebelum kamu, aku bukan pengemar masakan kepiting. Bukan karena tidak suka rasanya (sesungguhnya lebih dari suka), melainkan karena tid...
-
Beberapa hari yang lalu, seorang teman bertanya, "Nya, nggak ngeri ya, jadi dokter zaman sekarang? Rentan dituntut, kok bisa gitu ya?...
-
Sudah malam lagi, menjadikannya genap satu rotasi bumi terlewati. *status: pinjaman. Pikiranku tidak begitu ingat kapan terakhir ...
-
Akhir-akhir ini aku sering sulit tidur (bukan cuma akhir-akhir ini saja sih..). Mengisi jam-jam sulit tidur, jadilah yang aku lakukan adalah...
Recent Posts
Categories
- [EARGASM]
- 30Hari Bercerita
- Ahmad Wahib
- Aktivitas
- Bahasa
- Barcelona
- Birokrasi
- BYEE
- Cerita Dari Negeri Lain
- Co-ass
- Easy-Aci Exploring the World
- Event
- Ex-Berliner
- Family
- Fiksi Tapi Bukan
- Friendship
- Germany
- Golden October
- Inspirasi
- Japan
- Jerman
- Journey to the West
- Karya
- KKM
- Koas
- Kontemplasi
- Menulis Random
- Movie
- Puisi
- Quality Time
- Refleksi
- Romansa
- Serba-serbi
- Song of the Day
- Sweet Escape
- T World
- Tragedy
- Travel
- Trip
- Tulisan
- Urip Iku Urup


















