26 Desember 2018
[4/30] How Special Are You?
There was a scene on a 1979 movie Monty Phyton's Life of Brian that really did something to my mind after a friend reminded me of it yesterday. In that scene, Brian who was wrongly presumed for being a Messiah gave a one minute (or less) speech on how everyone supposes to discover their own way and stop following him.
Then I had this conversation with this friend.
Me: Did you imply that I could be that person who said: "not me"?
Friend: No. I was saying that not everyone is special. But you are of course.
Me: How come? I think everyone is unique their own way.
Friend: No, not everyone.
I do believe that as long as I keep doing my best living my life, I am an exceptional living creature. Means, I hold at least one reason to be significant. Intriguing? Yes. Complicated? No. I must be special in my parents' eyes but means nothing for a stranger on the train. I could be someone for the Turkish fruit seller close to my apartment that he often gives me some extra peach. At the same time, I am nothing to any random Rewe cashier guy. And the list keeps going...I did really want to argue furthermore regarding that matters because as this far this friend has never failed in surprising me with his hilarious way of thinking. Besides, this special-not special topic, as exciting as the proposition about privilege and equity. I have to wait, he is having an important physics exam soon so I would have to left him alone for a while.
If you have a not very usual taste of humor as this friend and me, I suggest you check this movie out. Either my laughter threshold is way too low or what, I was deadly laughing through the whole film.
* * *
Ada satu adegan yang membekas di kepalaku dari film Monty Phyton Life of Brian (1979). Kebetulan bersama seorang teman aku sempat membahas mengenai potongan film ini. Ini adalah adegan di mana Brian, si tokoh utama (ya jelas judulnya saja hidup si brian, ya kali tokoh utamanya si Biggus Dickus). Si Brian tiba-tiba punya banyak pengikut yang menyebalkan karena mereka salah menyangka Brian sebagai Messiah. Agar mereka berhenti mengikutinya, berkothbahlah Brian tentang bagaimana seharusnya kita tidak asal mengikuti orang lain karena pada dasarnya setiap dari kita adalah berbeda, istimewa.
Entah bagaimana aku dan teman ini malah berseberangan pendapat mengenai seberapa istimewa kita sebenarnya. Sementara menurutku setiap orang adalah unik dan istimewa, si teman malah menolak premis tersebut. Kadang-kadang aku merasa terganggu akan perbedaan yang reme temeh seperti ini, apalagi jika aku sangat yakin akan kevalidan pendapatku. Katakanlah bagi orang tuaku aku adalah istimewa (takut bertanya langsung, takut dijawab “enggak tuh” 😆), sementara tidak ada keistimewaan sama sekali bagi orang-orang asing di kereta. Aku bisa jadi pelanggan istimewa bagi penjual buah Turki dekat apartment, jika tidak, mungkin aku tidak akan sesering itu mendapat ekstra buah gratis. Di saat yang sama, aku cuma pembeli biasa bagi mas-mas kasir Indomaret (walaupun mereka rajin menawari pulsa). Dan seterusnya…dan seterusnya… Aku ingin sekali memperpanjang diskusi dengan temanku ini, karena kebetulan isi kepalanya hampir sama ganjilnya denganku dan sejauh ini kami masih berteman walaupun aksis pikiran kami sepertinya berlawanan arahnya. Sayangnya, teman ini akan menghadapi ujian Fisika yang super penting dalam waktu dekat, jadi akan kubiarkan dia hidup damai untuk sementara.
Oh ya, jika kamu punya selera humor yang anomali seperti aku dan temanku ini, aku rekomendasikan untuk menonton Life of Brian. Entah ambang tawaku yang terlalu rendah atau bagaimana, sepanjang film ini aku bisa tertawa. Kocaklah pokoknya.
A.
On 23.05 by anya-(aydwprdnya) in 30Hari Bercerita, Ex-Berliner, Fiksi Tapi Bukan, Germany, Jerman No comments
[3/30] A Guy With Constant Cloud Inside His Head
"Can you imagine that he created such a weird creature and made the main character in his book turned into that thing he describe as 'ungeheures Ungeziefer' (translated as monstrous vermin, euuuh..). What would you do if you woke up one day finding yourself as an insect? You must be freaking out, right? But in this story, he and his family reacted distinctively unusual....", then he continued reading some more line and translating them into English for me. I started understanding this man, he is in love with Franz Kafka. As he expressed his feeling passionately, it contagiously provoked my curiosity...Kafka, Kafkaesque, and this man.
He grabbed another book from his book self, an old book he showed me through a picture some days earlier. I guessed that book come from 1800 something, he thought that might be older. It was typed in such medieval font, maybe Gothic, Deutsch Gothic, or Germanica, I was not sure. Of course, it was in German. I wonder where did he got that book, I wish he didn't steal that from the city library. He stretched the particular nuance all over the room, almost beat the vanilla fragrance from a candle I lighted an hour earlier, on how much he valued the book. I could relate, when it comes to some books, things can be about life and death.
Beers and philosophical talk seemed to be a perfect match. I occupied the couch in his middle apartment room for three nights in a row and that time felt like a vacation to me, instead of an emergency evacuation plan. Too bad that if I asked to, I am about sure that I wouldn't be able to reach his place again without Google map. Done with those 'recess' period, I realized that I was succesfully recruited as a new Kafkaesque worshiper.
* * *
"Coba bayangkan, ia menggambarkan sosok serangga yang aneh, mengerikan, hampir tidak masuk akal, dan membuat tokoh utama dalam ceritanya tiba-tiba berubah menjadi serangga tersebut pada suatu pagi saat bangun tidur. Apa yang akan kamu lakukan jika kamu bangun tidur dan mendapati dirimu adalah serangga? Mesti heboh, kan? Tapi di cerita ini,si tokoh utama dan keluarganya malah bereaksi dengan cara yang tidak biasa...bla..bla.. ", ia melanjutkan membacakan dan mentranslasi ke bahasa Inggris untukku. Aku mulai mengerti orang ini, ia penggemar berat Franz Kafka. Karena ia mengekspresikan kecintaannya dengan sepenuh hati, aku pun jadi penasaran...Kafka, Kafkaesque, dan juga lelaki ini.
Ia mengambil satu buku lain dari rak bukunya, salah satu buku tua yang pernah ia tunjukkan lewat foto beberapa hari sebelumnya. Aku tebak buku tersebut berasal dari tahun 1800an, ia bilang bisa jadi lebih tua. Buku tersebut ditulis dalam bahasa Jerman dengan pilihan huruf yang sangat medieval, mungkin font-nya Gothic, Deutsch Gothic, atau Germanica, aku tidak begitu yakin. Aku bertanya-tanya, dimana ia mendapatkan buku tua tersebut, aku harap ia tidak memilikinya dengan cara yang ilegal. Nuansa kebanggaannya terhadap buku tersebut terasa memenuhi ruangan, mengalahkan aroma vanila dari lilin yang aku nyalakan satu jam sebelumnya. Aku bisa mengerti. Bagiku pribadi, beberapa buku bisa jadi berujung pada perkara hidup dan mati.
Bir dan obrolan filosofis sepertinya adalah pasangan yang serasi. Aku berhutang pada lelaki ini untuk sofa ruang tengah yang aku kuasai selama tiga malam berturut-turut, yang membuatnya lebih terasa seperti berlibur daripada mengungsi. Jika aku harus mengingat kembali jalan menuju alamat apartementnya (tanpa Google map), aku yakin aku tak bisa. Yang aku khawatirkan, dalam tiga hari itu aku berhasil didoktrin menjadi pengikut Kafkaesque.
A.
On 23.02 by anya-(aydwprdnya) in 30Hari Bercerita, Ex-Berliner, Fiksi Tapi Bukan, Friendship, Germany No comments
[2/30] The Monday Dinner-ers
When I moved here almost one year ago, I was like that girl described in Journey's song Don't Stop Believing: felt lonely, tried hard, and I literally took a lot of midnight trains going anywhere. I was so excited about living a new chapter of my life far away from home but also confused that I became suddenly distant with my inner circle.
The first two weeks wasn't so enjoyable. I've been 'kicked' here and there during the process of securing my life on papers, felt insulted, got yelled for not knowing things, and so and so. Yet, I took that as Berlin sincerity in welcoming me. Till the day my school day began, I started meeting people with whom I feel belong. As a person who can't really enjoy the meal alone, life was restarted at that point.
This particular group isn't about a bunch of people having dinner every Monday. It just happened that our first 'officially planned' dinner was on one winter cold Monday evening some months ago. Some of our dinners wasn't even that kind of meal session you have in your thought; we supposed to study for the next day exam (we did study, of course), cooked (mostly pasta), played some games (ugh..should I skip this one?), and spent the long nights together. It really warms my heart that this Monday dinner thingy has developed into some routine get together for any reason we could find.
Yes, people do come and go. That's how the world works, face it! Every single person belongs to the same cohort with mine bond with each other in such ways I wished I had a little bit more time with them (not for the core course, please). This Monday dinner-ers? We can't stand not hugging each other and throwing "how are you?" although we just met a day before. That what makes them one of my lovely support systems.
Later later, there will be no more midnight rush to catch our ride home, there will be no chaotic drinking games while arguing about some sense to nonsense, and enjoying the grilled cheese-stuffed bell paper will never be the same. Anyway, it would still be a Monday Dinner as WhatsApp group and would always be one jewel in the crown of my exBerliner journey. Thank you!
(Too much for a sober toast, huh? 😆😆 )
The picture was taken by Mr. Santiago on Badeschiff visiting day, after a big portion of schnitzel, and those smiles plus blushing cheeks.. entirely sober.
* * *
Waktu pertama kali menginjakkan kaki di kota ini, aku benar-benar seperti sosok yang dideskripsikan di dalam lirik Don’t Stop Believing miliknya Journey: merasa sendiri, mencoba stabil dengan isi kepala yang mondar-mandir, dan benar-benar sering naik kereta sampai tengah malam tanpa tujuan yang jelas. Yah, semacam kombinasi dari semangat yang menggebu sekaligus juga perasaan yang tiba-tiba jauh dari rumah.
Minggu-minggu pertama terasa kurang mengenakkan. Selain dilempar kesana kemari untuk urusan legalitas, kala itu aku belum terbiasa dengan situasi dimana orang benar-benar tidak saling menyapa di jalan raya (ya kali Nya di jalan raya minta disapa). Tapi begitulah cara kota ini menyambutku tahun lalu. Hingga kemudian masa perkuliahan dimulai, aku mulai kenal teman baru (sebelumnya hanya kenal Jojo, my hero…). Sebagai orang yang tidak suka makan sendiri, hidup mulai terasa lebih baik.
Tentang grup Monday Dinner, bukanlah sekelompok orang yang kerjanya makan setiap malam senin (walaupun senin memang selalu makan, gimana sih Nya). Kebetulan makan malam bersama kami adalah pada salah satu malam senin nan dingin di musim bersalju. Jangan bayangkan makan malam yang mewah atau semacamnya, pada dasarnya hari-hari tersebut adalah malam dimana kami harus belajar untuk ujian hari besoknya, sementara kami lapar jadi masak pasta, kemudian kami bosan jadi kami main-main (sambil belajar tentunya), dan pada akhirnya mengobrol (semoga tentang materi ujian) sampai pagi. Yang aku suka adalah Monday Dinner bertumbuh menjadi pertemuan regular tanpa alasan yang jelas dan semata-mata karena kami saling membutuhkan satu sama lain.
Ini hidup. Orang datang dan pergi silih berganti. Aku sangat beruntung karena kelompok kuliah kami yang berjumlah 26 orang saling terikat satu sama lain dengan cara yang menyenangkan. Sayang kini sebagian besar dari kami sudah terpencar di berbagai belahan bumi padahal lagi saying-sayangnya (eh). Ah ya, tentang manusia-manusia Monday Dinner ini, kami selalu saling memberi pelukan hangat dan bertanya kabar, tak peduli kami baru bertemu di hari sebelumnya. Menurutku itu manis sekali.
Ah, nanti nanti di masa mendatang, tentu tidak lagi kami berlarian mengejar kereta malam agar bisa pulang, tidak lagi ribut-ribut mendebatkan hal penting tak penting, juga paprika panggang isi keju tidak akan pernah sama lagi. Akan tetapi, Monday Dinner akan tetap jadi Monday Dinner di grup WhatsApp (kecuali ada yang iseng mengganti namanya) dan juga akan selalu menjadi bagian dari ceritaku sebagai exBerliner.
Cheers,
A.
[1/30] FORTUNE COOKIES
"Sie sollten mal wieder ausschlafen."
"You better sleep off!"
I'm a big fan of fortune cookies. As I also am patronising horoscope and Berlin weather forecast. Doesn't mean that I'm fully believer, no. I'm still a person with trust issue. For me, sneak peaking our fortune for couple days or week a head just sounds like a lot of fun.
More about fortune cookies, lately I managed to get them for my self at every Asian shop around (sometimes at regular supermarket and one friend even bought me one at zoo) . Buying a fortune cookie after one shopping session at one of those shops gives me such an after-shopping perk, which helps me maintain my sanity. Of course I do enjoy doing grocery in Asian style, obtaining some tofu and oriental herbs in their fresh form is still something gratifying in my head. Spending money on them is another thing. As wandering around the shop is such a pleasureable moment while doing the payment is not. Hehe.. Funny that mostly, they put the fortune cookies section on the last aisle closest to the cashier line. Like they already knew that I, or we, need that.
However, if 60 cents can bought me a temporary extra happiness, I would do that. Yeah, my happiness is that cheap. Also, I get some back up fellows who sent me weekly horoscope from my local homeland newspapers. Life is still good.
* * *
"Sie sollten mal wieder ausschlafen."
"Tidur lu, Nya!!"
Kata fortune cookie yang kubeli siang kemarin.
Aku ini penggemar fortune cookies (kue keberuntungan ala-ala yang di dalamnya ada kertas dengan kata-kata bijak, biasanya). Sama halnya dengan kesukaanku pada ramalan zodiak dan ramalan cuaca Berlin dan sekitarnya (akurat, cyiinn...). Bukannya percaya sepenuhnya, tapi mengintip keberuntungan seminggu ke depan kadang juga menyenangkan.
Tentang fortune cookie ini, di Berlin sendiri biasa didapat di toko-toko Asia, beberapa supermarket biasa, bahkan pernah di belikan teman di kebun binatang. Bagiku, fortune cookie ini sangat membantu menstabilkan mood setelah bayar-bayar belanjaan di kasir. Maklumlah, otak ini terlanjur bebal mengkonversi segala nominal ke rupiah, dan hal tersebut sangat mengancam kewarasan. Singkatnya, keliling dengan troli belanja di Go Asia sangat menyenangkan, kadang ada bahan makanan yang biasa kita temui di pasar tradisional di Bali. Sayangnya, perkara bayarnya tidak semenyenangkan itu. Yang menarik adalah bungkusan fortune cookie ini biasanya ada di deret terakhir sebelum kasir. Seakan mereka mengerti, manusia seperti aku butuh asupan kewarasan dari sebungkus kue yang bahkan rasanya tidak seenak itu.
Bagaimanapun, 50 atau 60 sen bisa juga membeli kebahagiaanku. Juga, aku tak lupa kepada para penyalur (dan mantan penyalur) ramalan bintang mingguan asuhan Wong Kam Fu yang masih berbaik hati mengirimkan kabar saban minggu. Hidup yang indah.
A.
8 Mei 2018
Mencintai satu bahan makanan adalah suatu persoalan di antara banyak persoalan lainnya. Kita tidak akan pernah memaksa lidah untuk setia, kemudian di hari yang sama menghujatnya sebagai peselingkuh di hadapan media. Hanya saja kadang kita yang tidak ingin mengerti, rasa adalah selalu tentang preferensi. Sejauh yang kita mampu adalah berasumsi; tentang tangan yang meraciknya misalnya, tentang kapan pertama mengecapnya misalnya, tentang... akh..bagaimana mungkin Engkau tidak melarangku mengetikkan segala misal yang kita sama tahu tidak pernah akan berkesudahan.
Masakan ibu adalah yang terbaik. Aku tahu pasti, tidak akan ada yang menyangkalnya, tidak ada yang punya hati untuk itu. Tapi hidup ini tidak digariskan demi membahas yang pasti, atau yang tidak terbantahkan. Jika iya, mungkin setiap hariku akan terisi dengan doa agar dapat segera moksa. Hidup ini, setidaknya hidupku, bertahan terapung hanya karena mempertahankan idealisme konyol yang bisa patah hanya dalam satu petikan senar. Di lain waktu, demi menyangga massa-massa tak bertuan yang beterbangan di jalanan. Maka, tanpa mengurangi cintaku pada ibuku, hari ini, sama seperti hari lain sejak bulan delapan tahun yang lalu, tidak ada masakan ibu.
Hari ini adalah tentang rebung, yang juga tidak hadir, kecuali di pikiran acakku. Musim semi minggu ketiga, cuaca cerah, udara gerah di luar jendela dan aku memikirkan tentang rebung. Ya, rebung yang sama dengan yang hampir tidak pernah aku suka. Aku tidak suka rebung, Engkau tahu, aromanya yang terlalu kuat jarang bisa diselamatkan oleh rasanya yang konon bisa nikmat. Aku tidak suka rebung. Tapi aku masih ingat bagaimana aku luluh bersamamu setiap kali Engkau membawaku ke kedai Loempia Semarang yang tersohor se-ibu kota. Suara yang sering nyinyir di kepalaku bersorak terlalu kencang hingga gendang telingaku seperti digedor dari dalam, "Dungu! Itu namanya cinta". Aku tidak menyangkal, itu cinta. Padamu tentunya, bukan pada rebung.
Aku tidak suka dan mengubahnya karena aku tahu Engkau suka, semata-mata agar padaku yang telah suka pun Engkau akan suka. Lihat, beginilah akibatnya jika terlalu banyak suara yang bermain, berselancar, bahkan berdiam di organ-organmu. Tapi...aku tidak ingin memaksamu agar jatuh suka pada apa yang aku suka, hanya agar rasa sukaku padamu lestari. Yang mana kemudian berujung pada kesalahan pertama, aku menghitung. Aku tidak pernah berhenti menghitung setelah gigitan rebung yang pertama, dan kedua, dan seterusnya. Kesalahan besar pertama yang kemudian menyeretku pada kesalahan-kesalahan berikutnya. Ini seperti matematika, yang mana aku salah pada formula pertama, dan Engkau tahu apa yang terjadi selanjutnya. Aku menghitung sampai aku tahu, dalam cinta, kita tidak mengenal angka. Sayangnya, setelah bertahun-tahun, berhitung telah menjadi perkara otonom, tidak ada yang bisa membuatku berhenti.
Kita tidak makan rebung bersama lagi walaupun sel-sel penghitung di tubuhku tetap otonomi, hanya saja aku biarkan dengan harapan mereka akan segera atropi. Jika pun nanti aku kembali, entah apa aku masih bisa menikmati rebung di dalam loempia, atau rebung dalam masakan lainnya. Mungkin saja aku malah mulai menghitung keju dalam paprika.
Tentu aku suka rebung yang dimasak oleh ibu, karena...karena itu masakan ibu. Tapi rebung lainnya, Engkau tahu, jika tidak ada perasaan besar di baliknya maka aku lebih baik mulai belajar menghitung dengan cara yang berbeda.
Berlin,
Beberapa saat sebelum tabir surya,
A.
Langganan:
Postingan (Atom)
Search
Popular Posts
-
Kita akan menggigiti delapan, delapan sudah terlalu lama mendominasi figur tak terbatas, dari kasta kemajemukan yang paling atas. Delapan,...
-
Jadi ceritanya begini: Beberapa hari kemarin, karena suatu alasan yang tidak sanggup aku jelaskan lewat tulisan, aku tidak punya akses moda ...
-
Kemarin aku kembali (ini untuk kedua kalinya) mengunjungi Sanur Village Festival 2011. Iseng saja sebenarnya, selain karena aku te...
-
Masa sebelum kamu, aku bukan pengemar masakan kepiting. Bukan karena tidak suka rasanya (sesungguhnya lebih dari suka), melainkan karena tid...
-
Beberapa hari yang lalu, seorang teman bertanya, "Nya, nggak ngeri ya, jadi dokter zaman sekarang? Rentan dituntut, kok bisa gitu ya?...
-
Sudah malam lagi, menjadikannya genap satu rotasi bumi terlewati. *status: pinjaman. Pikiranku tidak begitu ingat kapan terakhir ...
-
Akhir-akhir ini aku sering sulit tidur (bukan cuma akhir-akhir ini saja sih..). Mengisi jam-jam sulit tidur, jadilah yang aku lakukan adalah...
Recent Posts
Categories
- [EARGASM]
- 30Hari Bercerita
- Ahmad Wahib
- Aktivitas
- Bahasa
- Barcelona
- Birokrasi
- BYEE
- Cerita Dari Negeri Lain
- Co-ass
- Easy-Aci Exploring the World
- Event
- Ex-Berliner
- Family
- Fiksi Tapi Bukan
- Friendship
- Germany
- Golden October
- Inspirasi
- Japan
- Jerman
- Journey to the West
- Karya
- KKM
- Koas
- Kontemplasi
- Menulis Random
- Movie
- Puisi
- Quality Time
- Refleksi
- Romansa
- Serba-serbi
- Song of the Day
- Sweet Escape
- T World
- Tragedy
- Travel
- Trip
- Tulisan
- Urip Iku Urup




