Defect, anomali...and perspective

5 April 2016

On 10.36 by anya-(aydwprdnya) in    No comments
Bicara tentang salah satu yang merindu.
Kamu boleh rindu aku.
Aku pun begitu, boleh rindu kamu.

Tapi rindu milikmu dibatasi prasyarat baku.
Sementara aku, tidak begitu.

Kamu boleh rindu aku, di hari-hari tertentu.
Hari dimana aku ingin dirindu olehmu
Sementara aku, bisa rindu kapan pun aku mau.
Merindumu, sesuka hasrat kumbang dalam perutku.

Rindumu dungu karena mengikutiku
Rinduku gila dan bertingkah tanpa nala.

Rindumu kelu jika kamu uapkan lewat kata mendayu
Rinduku hina, seperti debu yang mengkabutkan senja

Kamu boleh rindu aku,
Sama halnya aku boleh merindukanmu.

Hari ini, siapapun bebas merindu.
Kamu, aku,
sepasang lembu,
sebutir duku,
seekor lemuru
...
Namun besok,
Jangan rindukan aku. 

Masalah rinduku, tak usah kamu tahu.


On 01.21 by anya-(aydwprdnya) in    No comments

Embun itu kias, murni yang menjadi baku walau ia berdusta tentang pagi. Cangkang matahari itu bias, silau yang membungkus rasa sebelum menetas lalu lari. Dalam skenario ini, jalanan tak lebih dari titian aksara yang terjalin rapi dan diaspali udara hangat yang terus berkonveksi...mengingkari jarak, jauh atau dekat.

Apalah artinya aku, sebatang pinang yang ingin kau kerdilkan. Hingga tiba penghujung malam, seuntai mayang menagih janji. Entah absennya embun dan matahari, atau dedaunan yang ritmik menyentuhmu dari satu sisi, ada pucuk yang merindukan tanah yang kau pijaki.

Sebatang pinang, ia masih menggenggam satu permintaan lagi.

25 Maret 2016

On 17.54 by anya-(aydwprdnya) in    No comments

~Senandung nada rendah.
~Angin terlalu enggan menggali sunyi demi menimbun sisa-sisa sepi. Maka mengalunlah segala kesumbangan yang dipaksa harmoni. Seekor tupai nanar berliur memandangi sebatang nyiur, menunggu disela desir yang membaur. Dalam tunggu ia mengetukkan sisi kanan ekornya pada kaleng aluminium yang permukaannya masih berembun. Ritmik, musik, cantik, unik. Notasinya kres dan mol, tumpang tindih berkali-kali.
~Seperti tupai dengan sepasang gigi besarnya, jalang menanti cinta...sesosok manusia tengah sabar menanti berita dan hal-hal biasa lainnya.

9 Maret 2016

On 05.26 by anya-(aydwprdnya) in    No comments
Selamat petang.
Selamat berbahagia.

Langit petang ini begitu indahnya. Langit adalah langit, di atas sana mungkin ia sama saja, malam ini, atau malam-malam sebelumnya. Yang berbeda adalah persepsi dari kedua mata ini, yang malam sebelumnya hanya menangkap bayangan benda kolong langit, dibandingkan malam ini yang memang dengan sengaja berusaha menikmati. Aku tahu aku tidak sendiri.

Saat senja tadi mulai turun, beberapa bintang muncul saat langit belum sepenuhnya gelap. Ada beberapa garis aneh yang sejajar di langit, warnanya putih bersemu oranye. Kami sepakat berasumsi bahwa gambaran di langit ini hanya kejadian ikutan paska gerhana matahari tadi pagi. Gerhana yang gagal kami nikmati. Gerhana yang masih menyisakan tanya, apa benar hari tadi gerhana? Apa radiasi hari tadi memang istimewa dan hanya berulang 300an tahun lagi? Ah, ilmu tentang benda langit, astronomi, yang oleh lidah (atau instingku) kerap kali terucap sebagai gastronomi, aku menyerah hanya berstatus spektator saja. Di setiap pagi dan senja.

Selamat malam. Bidang langit seperti diam, sesungguhnya ia bergerak relatif akibat rotasi bumi. Atau dalam pembahasaan yang lain, kitalah yang menari semu di permukaan bumi. Pikiranku melayang pada potongan adegan Interstellar, dan aku sepenuhnya yakin ini juga pengaruh seri keenam Supernova yang seharian tadi menjadi pelarianku dari rasa lapar dan tarikan telepon genggam. Kembali, bidang langit yang diam itu, dalam kasat mata ini hanya semakin gelap...dan gelap. Konsekuensinya, benda langit yang pendar semakin jelas dan terang. Bintang-bintang.

Setiap menyinggung bintang, pikiranku terpaku pada fakta bahwa bintang yang aku lihat malam ini adalah pendar yang eksis ratusan tahun jaraknya. Di saat yang sama aku menikmati cahayanya, bisa jadi bintang itu sudah padam. Di detik aku melihat kerlipnya, bisa saja ia tengah meledak, riuh sejenak, lalu mati.

*   *   *

Mata ini, kedua mata ini. Kedua mata ini sering sekali menipuku. Karena nyaris 100% hidupku mengikuti arah cahaya. Ditambah lagi segala penglihatan duniawi ini bergantung pada kacamata. Dan malam ini, kedua mata yang sering menipuku ini, ditipu oleh kesederhaan sekelas langit malam. Alasannya? Semata-mata karena malam ini malamnya Nyepi, api dan cahaya hanya diizinkan nyala di hati saja.

Aku tidak ingin dibatasi apa pun. Dengan atau tanpa kacamata, setiap bintang terlihat sama. Maka aku melepasnya. Kontemplasi tidak memerlukan dukungan optik berbasis dioptri.

Langit semakin mewah. Ramai. Aku seperti menyaksikan jamuan makan mewah, yang pesertanya mengenakan gaun indah, perhiasan tidak murah. Yang makanannya tidak dalam porsi mengenyangkan, yang minumannya disajikan sepertiga gelas saja, yang aturan makannya menyaingi pasal undang-undang paska amandemen. (Khayalan macam apa ini? Hipoglikemi akibat puasa satu hari?). Yang pasti aku bisa menciptakan bentuk apa saja dengan menghubungkan bintang-bintang. Aku melihat Scooby-Doo, melihat bentuk otoskop, aku menggambar bentuk Minion, bahkan aku bisa melihat Hillary Clinton, dan demi Fahrenheit, apa hanya aku yang merasa bahwa Hillary sangat mirip dengan Angela Merkel?

Khayalanku hilang. Kemewahan ini punah. Bukan oleh jilatan Molly yang basah-basah hangat di kakiku. Melainkan karena bapak sudah menyuruhku masuk. Sepertinya 30 menit menengadah sambil setengah menari di halaman rumah dalam kondisi gelap gulita sedikit mengkhawatirkan bapak.

Selamat Hari Raya Nyepi, Tahun Baru Caka 1938.

Nyepi mengizinkanku menikmati langit yang begitu indah malam ini. Pada hakikatnya aku hanya anak desa yang belakangan ini terlalu lama main di bawah langit kota (mostly are langit-langit). Dan Nyepi kali ini, terasa mewah sekali.

Jika rencanaku berjalan lancar mungkin Nyepi berikutnya aku sudah tidak disini.
(Ditutup dengan doa sepenuh hati.)



Melaporkan langsung dari bawah langit malam. Oleh makhluk yang keberadaannya sering abai tanpa cahaya.

11 Januari 2016

On 00.37 by anya-(aydwprdnya) in    No comments
Berlatar sore hari, cerita ini (lagi-lagi) berawal dari beberapa menit dari salah satu shift jaga sore di klinik. 

Seorang kakek, mungkin sekitar 70an tahun. Sulit menebak usia seseorang, apalagi kondisi sakit seringkali menimbulkan kesan usia yang lebih tua. Seorang kakek, datang ke klinik seorang diri, bukan suatu hal yang istimewa. Kakek tersebut membeli obat batuk sirup dan satu obat lagi, tidak ada yang aneh. Kakek tersebut membayar seharga yang disebutkan oleh petugas apotek, wajar sewajar-wajarnya. Ia pun berlalu.

Perhatianku muncul setelah selang beberapa menit kemudian si kakek datang lagi.
"Ini obat batuk harganya 6000 kenapa jadi 11.000?", tanya si kakek
"Memang segitu harganya, Pak."
Kurang lebih begitu dialognya. Entah seseorang pernah menjual obat yang sama dengan harga yang salah, atau orang lain keliru memberi label harga pada obat batuk tersebut. Dari wastafel, sambil mencuci tangan aku tidak bisa fokus mendengar detail percakapan si kakek dan petugas apotek. Namun aku dengan jelas dapat melihat penampakan si kakek, merekam setiap detailnya karena percakapan tersebut berlangsung cukup lama. 

Tua, kurus, keriputnya lebih kentara daripada lipatan tambahan bajuku yang tidak disetrika, bahkan dari jarak lebih dari lima meter tempatku berdiri. Yang membuatku tidak tahan adalah ekspresinya; bingung, kalut, semakin bingung, seperti kecewa. entahlah, aku hanya tidak nyaman melihatnya. Petugas apotek menutup pembicaraan dengan menyatakan bahwa memang sudah benar besaran harga obat tersebut, kakek beranjak dari kursi registrasi, namun kembali terduduk di kursi antrean. Iya, duduk lesu yang dramatis sambil memandangi obat sirup di tangannya. 

Aku menyudahi acara cuci tangan yang panjang sudah sekitar 6 langkah dikali 4. Kakek tersebut masih mengisi pikiranku. Apa yang dipikirkan oleh kakek itu? Apa karena selisih uang 5000? Apa 5000 itu begitu berharga baginya? Apa 5000 itu bagian dari uang terakhir yang ia punya? 

*   *   *

Seorang kenalan yang belum lama aku kenal mengatakan hal yang mengusik benakku dalam sebuah disskusi via sosial media. Kala itu topik diskusi adalah tentang pelayanan kesehatan gratis bagi masyarakat. Menurut beliau, pelayanan kesehatan gratis tidak mendidik masyarakat. Kepalaku mengangguk setuju, namun hatiku berontak. Kenyataannya kesehatan itu memang mahal, setiap orang seharusnya memahami hal tersebut dan tidak begitu saja sakit dengan harapan tanggungan akan dibayar oleh pihak ketiga (misalnya pemerintah lewat program layanan kesehatan, atau asuransi kesehatan). Masyarakat kita memang masih menganut budaya dependen, tergantung. Contoh nyatanya, alih-alih lebih berusaha menjaga kesehatan, masyarakat lebih fokus memilah pelayanan kesehatan kalau sakit. Misalnya lagi, ini dari pengalaman pribadiku, setiap ada pelayanan kesehatan gratis semua insan turun ke lokasi, sakit-tidak sakit tujuannya satu: minta obat. Nah, didikan yang bagaimana yang dapat kita lakukan untuk kondisi seperti itu?

Dari sudut pandang hatiku yang berontak, referensinya adalah kebahagiaan melihat orang bahagia mendapat pelayanan dari kita. Di luar masalah kesehatan mereka, aku percaya ketika mereka mendapat perhatian kita salah satunya lewat pelayanan kesehatan gratis, paling tidak beberapa saat mereka dapat lupa dengan tetek bengek hidup yang jauh lebih rumit daripada nenek sehat yang minta suntik vitamin. Haduh, pikiranku belum lepas dari kakek di klinik sore itu.

*   *   *

Aku bisa saja mengganti 5000 rupiah milik kakek itu, entah akan membuatnya senang atau tidak, tapi tidak aku lakukan. Aku sendiri, jujur saja bingung jika memaknai uang 5000 di masa sekarang ini. Sebungkus nasi, maka hanya nasi putih yang kita peroleh. Premium, maka hanya cukup untuk pulang dari Denpasar ke Tabanan kota, risiko bensin kandas jika dilanjut sampai Bajera. Aku malu mengakui bahwa satu menu makanan seharga 20.000 sangat bisa aku toleransi, entahlah dengan kakek itu. 

Kita tidak bisa membantu menyelesaikan setiap kesulitan. Kita tidak bisa menyenangkan semua orang. Di tengah popularitas video lucu mempertanyakan kadar greget yang viral di media sosial, mungkin boleh kita sisipi sebuah pertanyaan mengenai seberapa arti uang lima ribu bagimu.


[Dua hari setelah kakek itu, tetap tidak bisa lupa. Haduh, hati ini lemah sekali. Fetal position, try not to cry, cry alot T.T]