30 April 2013
Judul kali ini mungkin sedikit serius ya..
Mungkin akibat pengaruh analisa data yang kejar target minggu ini (maklum ya, kan koas..)
Tapi memang benar dan tidak bisa dipungkiri lagi, kisah tentang subyek penderita atau orang teraniaya memang paling sering diangkat dan ajaibnya seringkali menuai lebih banyak perhatian. Termasuk juga kisah tentang koas-koas ini. Jadi apa kita (koas) adalah subyek penderita? Atau pihak yang teraniaya?
Berbeda dengan judul yang sok serius, isi tulisan ini tidak seserius itu.
Berawal dari hasil observasi mendalam saat sore tadi sempat jalan-jalan ke Gramedia (sempet-sempetnya ya...kan koas..), baru sadar ternyata banyak hal yang terlewatkan. Macam timeline yang lama tak terbaca, isi Gramedia sepertinya baru semua. Diantara banyak buku-buku dan penulis-penulis baru, ternyata banyak yang mengangkat tentang suka duka hidup sebagai koas. Bukan hal yang baru sekali sih, tema ini mungkin memang menarik diangkat lewat novel 200an halaman. Khas sekali, bahasanya ringan, lucu beraroma konyol, membacanya memberi kemampuan ekstra untuk menertawakan diri sendiri seperti menertawakan orang lain. Beberapa menampilkan orisinalitas, mungkin juga karena bisa dibilang pelopor penulisan bertema koas-koas-an, atau bisa juga karena sisi dan sudut pandang yang diangkat. Sebut saja Cado-cado atau Koas Racun.
Namun seiring dengan keberhasilan buku-buku pelopor, bermunculanlah buku-buku setema dan serupa. Setema, karena jelas yang diangkat ya pada dasarnya ya cerita koas itu tadi. Serupa, karena sebagian besar muncul dengan cover yang rada-rada mirip: figur berjas putih (ceritanya koas) yang dikelilingi benda-benda medis, dilatari oleh lingkungan yang biasanya komikal. Membludaknya buku-buku setema-serupa tersebut memunculkan pertanyaan penelitian, apakah cerita koas begitu banyaknya hingga seakan tiada habisnya? Mari mengumpulkan data dengan populasi seluruh koas di seluruh FK di Indonesia.
Bukannya ingin memunculkan nada skeptis mengenai buku bertema koas. Namun, tren kemunculannya tidak berbanding dengan variasi dan kualitas humor yang ingin ditampilkan. Cerita tentang koas, ketika diejawantahkan lewat tulisan bergenre humor, terbukti mengeksitasi dan memunculkan hiburan segar baik bagi para koas maupun golongan non-koas. Manfaat lainnya adalah (1)menciptakan ilusi keindahan duniawi melalui cerita yang di-twist disana-sini dan (2)membuka mata dunia lewat beberapa fakta yang diselipkan "Jadi begini lho prosesnya sebelum jadi dokter". Setelah tren terlihat dan mulai melewati nilai median, yang ada adalah humoritas hambar, terutama diduga akibat faktor kurangnya kreativitas dalam pembawaan cerita.
Sebagai koas, tentu akan sangat senang bila kisahnya diangkat (atau terangkat lewat tulisan koas lain) dan dapat menghibur khalayak banyak. Namun di titik ini, sepertinya cerita-cerita tersebut lebih banyak direpetisi demi royalti dan mulai mengesampingkan tujuan awal itu sendiri. Alhasil, post-keliling Gramedia sore tadi, ada tanya yang mudah namun menyakitkan untuk dijawab. Apa kita (koas) adalah subyek penderita? Atau pihak yang teraniaya? Belakangan kisah koas menjadi sumber empuk eksploitasi, terus dikembangkan, walaupun melewati batas esensi.
Saya agak kecewa.
[Saya tidak membeli satu pun buku sore tadi. Bukan karena kekecewaan saya di atas, melainkan lebih karena saya ada dalam mode hemat. Jadi kalau mode hemat kerjanya jalan ke toko buku buat baca di tempat? Yah, maklumlah...kan koas...]
4 April 2013
On 02.16 by anya-(aydwprdnya) 1 comment
Saya ini bukan salah satu manusia penggemar pedas. Agak aneh menurut kawan-kawan saya dari seberang lautan. Menurut mereka, orang Indonesia sudah semestinya adalah penikmat makanan pedas. "Bukan tipikal orang Bali", begitu kata tetangga saya. Yah, apalagi Bali yang identik dengan basa genep, sambel matah, sampai bumbu super pedas lainnya. Kata ibu saya lain lagi, beliau bilang, kalau tidak suka pedas tidak akan bisa masak enak. Saya tidak bisa menemukan logika dalam kalimat tersebut sampai sekarang. Jawabannya mungkin kembali lagi pada pernyataan tak terbantahkan di awal, Indonesia, juga Bali, identik dengan makanan pedas.
Tren masa kini yang membuat orang-orang macam saya semakin terpojok adalah makanan ringan dengan tagline pedas bergradasi yang membuat siapapun yang mengkonsumsinya menjadi superkuereenn. Sebuat saja Maichi, kripik pedas asal Bandung yang punya 10 level kepedasan. Atau mie rawit yang pembelinya boleh memilih jumlah rawit yang diinginkan. Tidak tanggung-tanggung, pilihannya 20 cabe, 30, sampai 60 (Gila...bukan apa-apa, cabe mahal cuy..!). Di dekat kawasan tinggal saya juga ada rumah makan SS (Serba Sambal). Ahh, banyak lagi contoh lainnya. Salah satu teman saya pernah berkata jumawa, "Kemaren aku habis sebungkus Maichi level 9. Sendiri pula." Saya tak seharusnya ambil pusing, hanya saja ia berkata demikian sesaat setelah saya mengeluh, "Busheett, hampir mati ni makan Maichi level 3.." Percayalah, itu pertama dan terakhir kalinya saya mencoba sang kripik pedas asal Bandung.
Apa sih nikmatnya pedas? Katanya pedas bisa membangkitkan selera makan, meningkatkan produksi air liur. Saya setuju dengan yang kedua tapi menyangkal yang pertama. Ada juga yang bilang ini bukan hanya tentang sensasi pedas, melainkan juga aroma cabai yang gimana gitu. Saya abstain untuk pendapat tersebut. Namun saya sempat mencoba menambah paprika dalam green salad saya. Notabene paprika adalah saudara sekandungnya cabai (mungkin satu ibu beda ayah). Nyatanya...saya juga tidak suka paprika.
Bagaimanapun orang memaksa saya "belajar" makan makanan pedas, setelah hidup 22 tahun saya masih belum bisa menikmatinya. Pedas itu bukan budaya, tapi selera. Kalau budaya, saat lahir di dalamnya ia akan mengaliri lumen pembuluh nadi saya. Tapi karena ia adalah esensi dari selera, maka saya merasa berhak memilih untuk tidak suka. Tapi tentu saja, di bawah tekanan, saya terus berusaha mencoba.
Belakangan ini muncul produk mie instant yang menonjolkan ikon cabe ijo (dan warnanya, agak mengherankan, memang hijau). Siang tadi saya coba, aromanya memang sangat cabai. Saya makan, habis. Tidak sepedas warna hijaunya memang, saya kurang suka aromanya, tapi tetap heran karena secara ganjil saya merasa macho.
Ahh... Indonesia akhir-akhir ini lebih mementingkan selera sepertinya.
Tren masa kini yang membuat orang-orang macam saya semakin terpojok adalah makanan ringan dengan tagline pedas bergradasi yang membuat siapapun yang mengkonsumsinya menjadi superkuereenn. Sebuat saja Maichi, kripik pedas asal Bandung yang punya 10 level kepedasan. Atau mie rawit yang pembelinya boleh memilih jumlah rawit yang diinginkan. Tidak tanggung-tanggung, pilihannya 20 cabe, 30, sampai 60 (Gila...bukan apa-apa, cabe mahal cuy..!). Di dekat kawasan tinggal saya juga ada rumah makan SS (Serba Sambal). Ahh, banyak lagi contoh lainnya. Salah satu teman saya pernah berkata jumawa, "Kemaren aku habis sebungkus Maichi level 9. Sendiri pula." Saya tak seharusnya ambil pusing, hanya saja ia berkata demikian sesaat setelah saya mengeluh, "Busheett, hampir mati ni makan Maichi level 3.." Percayalah, itu pertama dan terakhir kalinya saya mencoba sang kripik pedas asal Bandung.
Apa sih nikmatnya pedas? Katanya pedas bisa membangkitkan selera makan, meningkatkan produksi air liur. Saya setuju dengan yang kedua tapi menyangkal yang pertama. Ada juga yang bilang ini bukan hanya tentang sensasi pedas, melainkan juga aroma cabai yang gimana gitu. Saya abstain untuk pendapat tersebut. Namun saya sempat mencoba menambah paprika dalam green salad saya. Notabene paprika adalah saudara sekandungnya cabai (mungkin satu ibu beda ayah). Nyatanya...saya juga tidak suka paprika.
Bagaimanapun orang memaksa saya "belajar" makan makanan pedas, setelah hidup 22 tahun saya masih belum bisa menikmatinya. Pedas itu bukan budaya, tapi selera. Kalau budaya, saat lahir di dalamnya ia akan mengaliri lumen pembuluh nadi saya. Tapi karena ia adalah esensi dari selera, maka saya merasa berhak memilih untuk tidak suka. Tapi tentu saja, di bawah tekanan, saya terus berusaha mencoba.
Belakangan ini muncul produk mie instant yang menonjolkan ikon cabe ijo (dan warnanya, agak mengherankan, memang hijau). Siang tadi saya coba, aromanya memang sangat cabai. Saya makan, habis. Tidak sepedas warna hijaunya memang, saya kurang suka aromanya, tapi tetap heran karena secara ganjil saya merasa macho.
Ahh... Indonesia akhir-akhir ini lebih mementingkan selera sepertinya.
29 Desember 2012
Beberapa tahun yang lalu aku mengenal seorang gadis. Ia sangat membenci
warna pink, merah muda, sangat,
sangat benci. Tak satu pun barang yang dimilikinya berwarna merah muda. Pun
dalam setiap hal yang dilakukannya sehari-hari ia sebisa mungkin menghindari
warna yang satu itu. Untuk buku yang berwarna merah muda ia akan menyampulnya.
Hadiah pakaian merah muda, ia akan dengan senang hati memberikannya kepada
kerabat atau tetangga. Bahkan bila langit senja tak sengaja merefraksi warna
mendekati merah muda, ia sebisa mungkin menahan diri untuk menatap ke atas,
sebagaimanapun cintanya ia pada menit-menit tenggelamnya mentari.
Ia, gadis yang pernah aku kenal beberapa tahun yang lalu, tidak memiliki
alasan atas kebenciannya pada warna merah muda. Tidak ada kejadian traumatis,
tidak ada kenangan pahit, ia hanya benci. Baginya, merah muda adalah warna
feminitas garis kiri. Merah muda identik dengan lemah-manja hati wanita. Merah
muda adalah lambang perasaan berbunga yang membuat lupa segala. Merah muda
selalu diidentikkan dengan cinta, kisah-kasih, hari Valentine, dan segala
keabsurdan lain yang tak pernah bisa ia mengerti. Gadis yang pernah aku kenal
itu sangat anti dengan bahasan gender, enggan memihak kubu maskulin-feminin,
benci jika terlihat lemah, tidak ingin lupa segala, dan seperti yang aku
sebutkan terakhir tadi, ia tidak pernah mengerti tentang seluk-beluk cinta.
Jauh di atas segala keanehan tentang rasa bencinya terhadap merah muda,
gadis yang pernah aku kenal itu justru tak pernah bisa jauh dari segala yang
berwarna merah muda. Semakin ia menjauhi satu merah muda, merah muda yang lain
akan lekat kembali. Seperti teman, seperti persahabatan. Dari bangku putih
biru, hingga berseragam putih abu, ia selalu bersama teman duduk yang justru
tergila-gila dengan warna merah muda. Bertolak dengan segala upayanya
mengenyahkan merah muda dari setiap jengkal harinya, teman sebangkunya justru
menyodori segenggam merah muda yang lain, setiap hari, setiap jam, setiap detik
kebersamaan mereka. Mereka menggunakan tas-tas besar warna merah muda, kotak
pensil merah muda, bolpoin merah muda, gantungan ponsel merah muda, dan sangat
mungkin kala itu mereka menggunakan pakaian dalam merah muda. Hari-hari itu, gadis
yang pernah aku kenal melihat jelas bagaimana tahun-tahun penuh perbedaan itu
berlalu. Hari-hari itu, dimana ia melihat bagaimana perbedaan bertahan di ruang
yang sama dalam waktu yang lama. Hari-hari itu, sangat ganjil, justru adalah
hari-hari terindah di masa yang lalu baginya.
Hari ini, banyak hal telah berubah. Gadis itu, hingga terakhir kali aku
bertanya, merah muda belum menjadi warna favoritnya. Gadis itu, hanyalah aku di
tahun-tahun yang lalu.
* * *
Setelah aku pikirkan di hari-hari sekarang, kebencianku pada merah muda
yang idiopatik pada tahun-tahun yang lalu memang ganjil. Aku juga baru menyadari
bagaimana waktu itu, tingkahku dapat digolongkan sebagai perilaku obsesif. Orang
melihatku aneh, dan tatapan mereka justru membuatku betah terlihat ‘aneh’. Aku
sendiri tidak bisa mengelak bahwa perilaku obsesif terhadap satu hal –dalam hal
ini kebencianku pada merah muda, dapat digolongkan sebagai sinyal penyimpangan
jiwa. Tapi, mengingat usiaku waktu itu yang dalam bahasa sekarang diistilahkan
sebagai ABG labil, maka sedikit keanehan atas nama pencarian jati diri adalah
amat sangat bisa ditolerir (sedikit ngeles
memang, bagaimanapun aku sudah tidak seobsesif itu).
Aku yang sekarang sudah memiliki kemampuan untuk menyadari bahwa simbolisme
linear dengan mengidentikkan satu hal dengan sejuta negativisme subyektif. Aku
juga memahami bahwa segala kelemahan manusiawi akan sangat tidak adil bila
dibebankan pada satu warna saja. Tanpa aku sadari aku mulai berhenti membenci
merah muda, walaupun aku belum memutuskan untuk mulai menyukainya.
Satu hal besar yang aku tahu, dan aku juga ingin agar orang lain tahu
adalah bagaimana warna yang membantu kita mendeterminasi hubungan dengan orang
lain bukanlah warna yang panjang sinarnya bisa ditangkap oleh mata. Bukan tentang
pakaian merah, kulit kuning, rambut coklat, atau mata biru. Warna itu,
tersimpan dalam sebuah abstraksi yang kita sederhanakan sebagai hati. Warna
itu, dengan sangat cerdik terlihat sekilas dari afek sehari-hari, jarang kita
sadari. Jadi bisa saja hari kemarin aku benci merah muda, hari ini aku suka
hijau, mungkin besok aku memilih ungu. Teman-temanku yang dulu suka merah muda
mungkin hari ini juga mengganti selera mereka.
Tak masalah. Justru dengan kita tersenyum bersama saat kita terlihat
berbeda, membuktikan bahwa kita adalah satu warna.
P.S
Aku hanya sedang agak merindukan beberapa teman pernah menggerecoki aku dengan benda-benda pink mereka. :D Miss you bestie...
22 November 2012
Bukan semata-mata karena ‘harus’ tinggal sebulan di negeri Sakura maka saya
mencoba selihai mungkin dalam mengunakan sumpit. Dari dulu saya memang pecinta hal-hal
berbau Jepang nomor wahid, kalau boleh saya bilang. Apalagi makanannya. Karena itu,
sumpit, sebagai bagian dari salah satu kegatan paling esensial dalam hidup, bukan
hal yang asing bagi saya. Tapi bedanya, sampai bulan lalu, saya masih melihat
sumpit sebagai alat bantu makan saja. Hingga sepasang sumpit di tengah
dinginnya angin musim gugur di salah satu sudut kota di Jepang, mengajari saya
banyak hal.
Sejak dulu saya sudah sering mendengar bahwa budaya Jepang sangat ketat tentang tatakrama. Oleh karenanya saya berusaha sebisa mungkin mengikuti aturan yang berlaku disana selama sebulan terakhir. Jadilah senjata utama saya identik dengan langkah-langkah pemeriksaan fisik: inspeksi, palpasi, perkusi, dan auskultasi.
Sejak dulu saya sudah sering mendengar bahwa budaya Jepang sangat ketat tentang tatakrama. Oleh karenanya saya berusaha sebisa mungkin mengikuti aturan yang berlaku disana selama sebulan terakhir. Jadilah senjata utama saya identik dengan langkah-langkah pemeriksaan fisik: inspeksi, palpasi, perkusi, dan auskultasi.
On 20.12 by anya-(aydwprdnya) in Romansa No comments
Jarak, Masalah?
Long Distance Relationship (LDR)
begitu istilah bekennya. Hubungan jarak jauh. LDR bagi sebagian besar orang bisa
jadi merupakan tantangan tersendiri dalam suatu hubungan. Saya sendiri, akibat
pengaruh teman dan drama TV, cukup setuju dengan hal tersebut. Bagaimana pun
saya masih termasuk anak ibu-bapak yang kadang kangen setengah mati pada rumah,
apalagi saat kantong sedang kosong. Beranjak dari latar belakang tersebut, saya
punya firasat bahwa saya memang agak kurang bersahabat dengan yang namanya
jarak.
Untuk hubungan pacaran jarak jauh, sebenarnya LDR terklasifikasikan
berdasarkan 3 hal: kuantitas jarak, kualitas jarak, dan tingkat keberhasilan.
Berdasarkan kuantitas jarak, LDR dibedakan menjadi 2 yaitu common Long Distance
Relationship (cLDR) dan very Long Distance Relationship (vLDR). Bedanya
sederhana, cLDR merujuk pada hubungan berjarak yang masih sangat mungkin
dijangkau. Misal, pacaran sama anak kuliahan luar kota, pacaran sama anak
tetangga beda pulau satu provinsi, pacaran sama abang angkot antar kota dalam
provinsi, atau pacaran antara Surti gadis desa dan Tejo yang cari kerja di
kota. Persamaan diantara semua contoh itu juga jelas, hubungan masih bisa dijaga
dengan fasilitas dan biaya yang terjangkau. Sms dan telefon masih sangat
mungkin sering dilakukan dengan bantuan provider telekomunikasi dalam negeri
(baca: tarif murah brayy..). Selain itu, kalaupun kangen sudah memuncak dan
tidak bisa ditahan, puasa tiga hari juga dapat dilakukan demi mengumpulkan
modal agar dapat berjumpa belahan jiwa.
Sementara pada kasus vLDR, harapan ada pada fasilitas internet, berharap
jaringan WiFi bersinyal super agar dapat mempertahankan wajah cantik/ganteng
pasangan dalam rekaman webcam. Kendala yang paling tidak diinginkan adalah
berubahnya wajah pasangan menjadi kotak-kotak pixel yang kadang membuat mereka
lebih mirip beruang hitam. Kendala lainnya yang masih bisa diatasi adalah
bagaimana saat jadwal webcaming, keluarga pasangan atau teman lain ikut
nimbrung dan menyita lebih dari tujuh per delapan dari quality time yang
harusnya kita miliki. Contoh dari hubungan vLDR ini adalah pasangan yang
terpisah jarak ribuan mil di negara antah-berantah, mungkin pacar sedang
melanjutkan studi di luar negeri, bekerja di kapal pesiar, atau mungkin pacaran
dengan TKI/TKW. Beberapa contoh yang lebih ekstrem adalah pacaran dengan
relawan perang jalur Gaza, pacaran dengan peneliti jumlah pasir yag berpotensi
membuat kelilipan saat badai gurun di Sahara, atau forbiden love between north
pole polar bear and south pole penguin.
Mengenai klasifikasi berdasarkan kualitas jarak, LDR dibagi menjadi dua
yaitu LDR permanen dan LDR temporer. LDR permanen termasuk di dalamnya adalah
pasangan yang terpisah jarak selama berbulan hingga bertahun-tahun. Tentu ini
adalah cobaan yang sangat berat dalam kancah percintaan. Namun hampir dapat
dipastikan bahwa pasangan yang berhasil melewati fase LDR permanen ini akan
berhasil membia hubungan sampai tujuh turunan. Hampir pasti. Walaupun demikian,
LDR temporer juga tidak kurang cobaannya. Sekali lagi saya ingin berbagi
pengalaman sebagai salah satu pelaku LDR temporer. Meski dari namanya terkesan
agak plin-plan, LDR-temporer: kadang LDR, kadang SDR (short distance
relationship), namun level tantangannya tetap tinggi. Beberapa kali saya harus
melewatkan beberapa hari, hingga beberapa minggu di luar kota atau luar negeri,
begitu pula sebaliknya pacar saya kadang memiliki kepentingan yang mengharuskan
perpanjangan jarak antara kami. Jujur sejujur-jujurnya, variasi perasaan yang
muncul saat berjauhan kadang seperti pisau bermata dua. Di satu sisi menguatkan
ikatan kita, di sisi lain yang menempel dengannya justru berpotensi
melonggarkan. As people say, what does not kill you will make you stronger. But
I say, what did not kill you may try to kill you at second chance.
Untuk tingkat keberhasilan, lagi-lagi terbagi dua dan sangat jelas: gagal
dan berhasil. Untuk yang satu ini saya justru tidak punya penalaran yang cukup
logis untuk menjelaskan. Suksesi suatu hubungan terlalu rumit untuk ditentukan
hanya dengan parameter jarak. Itu menurut saya. Deep condolescent for them who
failed in struggling their love life of.
White Lies.
Red lie, yellow lie, black lie, purple lie, pink lie. Why are people choose
white instead of other colors? Mungkin karena putih adalah lambang kesucian,
maka keburukan macam apapun bila disandingkan dengan warna putih akan
dinetralisir menjadi hal yang legal. Termasuk kebohongan. Kalau begitu
dasarnya, maka bisa saja esok akan ada korupsi putih, copet putih, atau maling
yang membobol rumah dengan kolor putih. Saya sedikit skeptis dengan konsep bohong
putih ini karena memang dibohongi adalah salah satu hal yang paling saya benci.
Mungkin bagi sebagian orang berbohong untuk menjaga perasaan orang lain
adalah sah dilakukan, tentu saja dengan label sakti; white lie. Bukan berarti
saya begitu sucinya hingga tak pernah berbohong, bila benar demikian mungkin
saya seharusnya bukan menghuni bumi. Saya juga manusia yang kadang berbohong
untuk melindungi hati saya, dan mungkin juga hati orang lain. Tapi tetap saja
saya tidak ingin membenarkan kebohongan saya dengan menamainya sebagai
kebohongan putih. Kebohongan, apalagi dari orang tercinta, menurut pengalaman
saya lebih banyak berujung pada rasa dikhianati, dianggap bodoh, dan rasa
diremehkan karena mungkin mereka pikir kita tidak cukup kuat untuk menghadapi
kebenaran.
Despite of our vary opinion about white lies, for me, bitter truth is far
better than sweet lie. Otherwise, keep silent.
Langganan:
Postingan (Atom)
Search
Popular Posts
-
Saya tidak punya pengalaman tentang kepemilikan uang yang banyak. Perihal hitung menghitung, jelas bukan bìdang saya, itu keahlian bapak say...
-
“Seseorang dapat menyempatkan diri mengunjungi Meksiko Utara dan bersedia menunggu 20 tahun demi melihat sekuntum Queen Victoria Agave me...
-
Konon katanya, dalam salah satu dari 13 partisi Confessions, St. Augustine mempertanyakan sebuah retorika massal; apa itu waktu? Terny...
-
Aku punya sebuah kotak make up. Iya, serius. Ini sedikit cerita dari dalamnya. Judulnya saja kotak make up. Nyatanya isinya tidak dima...
-
Jadi ceritanya begini: Beberapa hari kemarin, karena suatu alasan yang tidak sanggup aku jelaskan lewat tulisan, aku tidak punya akses moda ...
-
Sudah malam lagi, menjadikannya genap satu rotasi bumi terlewati. *status: pinjaman. Pikiranku tidak begitu ingat kapan terakhir ...
-
Setiap pertama pastilah tidak mudah. Bagiku tidak pernah mudah. Pertama itu adalah kebodohan di tengah rasa ingin tahu, rasa segan disela ...
Recent Posts
Categories
- [EARGASM]
- 30Hari Bercerita
- Ahmad Wahib
- Aktivitas
- Bahasa
- Barcelona
- Birokrasi
- BYEE
- Cerita Dari Negeri Lain
- Co-ass
- Easy-Aci Exploring the World
- Event
- Ex-Berliner
- Family
- Fiksi Tapi Bukan
- Friendship
- Germany
- Golden October
- Inspirasi
- Japan
- Jerman
- Journey to the West
- Karya
- KKM
- Koas
- Kontemplasi
- Menulis Random
- Movie
- Puisi
- Quality Time
- Refleksi
- Romansa
- Serba-serbi
- Song of the Day
- Sweet Escape
- T World
- Tragedy
- Travel
- Trip
- Tulisan
- Urip Iku Urup
