Defect, anomali...and perspective

29 Desember 2015

On 10.19 by anya-(aydwprdnya) in ,    No comments
Tiga tempat yang sebisa mungkin aku hindari: kantor polisi, dokter gigi, instansi pemerintahan. Aku sudah menyatakan hal tersebut berkali-kali, pada berbagai kesempatan. Dua bulan terakhir ini, aku berhubungan berkali-kali, dengan dua dari tiga tempat yang aku hindari.

$   $   $

Judul resmi dari tulisan ini adalah: MENGURUS PENGGANTIAN PASPOR YANG HABIS MASA BERLAKU: PANDUAN YANG VALIDITASNYA DIRAGUKAN (JURUS JITU TANPA CALO)

Pada intinya, dasar masalah yang dibahas ini adalah bahwa masa berlaku pasporku habis pada bulan Agustus tahun ini (padahal lembarannya masih belum penuh terisi T.T). Karena paspor ini nantinya dibutuhkan sebagai salah satu dokumen untuk melengkapi prasyarat melanjutkan studi, jadilah aku (terpaksa) memutuskan untuk segera memperbaharui paspor ini. Langkah pertama dalam pembuatan paspor versi penghujung tahun 2015 adalah gugling (buka laman Google) dengan memasukkan kata kunci 'pembuatan paspor online'. Ini pelajaran berharga yang aku saripatikan dari testimoni beberapa teman, segala hal berkaitan dengan registrasi dan birokrasi sebaiknya diriset dengan kata kunci yang dimaksud dengan menambahkan kata 'online'. Benar saja, isu mengenai layanan paspor online lebbih praktis agaknya benar, demikian pikirku hari itu. Mengumpulkan data dan dukungan moril, akupun masuk ke laman paspor online disini.

Aplikasi situs layanan paspor online sangat sederhana dan mudah. Aku mengisi segala data standar yang diperlukan dalam waktu beberapa menit saja. Kemudian diarahkan untuk melakukan pembayaran sebesar Rp 355.000,- melalui ATM atau teller BNI, aku memilih yang pertama, praktis.

Receipt pembayaran sudah di tangan, ingat difoto kemudian unggah di Instagram dan diperbanyak sebanyak tiga kali. Selanjutnya, kembali masuk ke laman layanan paspor online untuk konfirmasi pembayaran. Laman yang baik tersebut akan mengarahkan ke bagian appoinment maker, janji temu, alias jadwal kapan kita hendak mendatangi kantor imigrasi setempat. Aku memilih tanggal yang kebetulan kosong jadwal jaga, 28 Desember 2015, kebetulan hari Senin. Hari telah dipilih, cetak bukti appointment, tinggal datang pada waktu yang telah kita pilih.

Senin, 28 Desember 2015
Belajar dari pengalaman teman-teman, aku berencana untuk mendatangi kantor imigrasi sepagi mungkin. Dengan kepercayaan diri yang adekuat aku datang berbekal lembar perjanjian beserta syarat-syarat pembuatan paspor sebagaimana yang tertera di situs. Dari sinilah hari yang panjang dimulai. Persyaratan pembuatan (atau pembaharuan, atau perpanjangan, syaratnya sama) paspor yang tertera di situs berbeda dengan yang dijadikan acuan oleh Kantor Imigrasi 1 Denpasar. Aku harus mengambil dan mengurus lagi surat rekomendasi dari tempat kerja, jika tidak dapat menunjukkan surat tersebut aku harus mengisi surat pernyataan orang tua dan melampirkan KTP kedua orang tua.

Memutar otak, menyusun surat rekomendasi, menggasak klinik dengan harapan Kabag Kepegawaian bersedia tandatangan. Syukurlah lancar, thanks to Bu Dewi [kecup].

Sesi kedua mendatangi kantor imigrasi, menyerahkan kelengkapan yang lebih lengkap. Lagi-lagi persyaratanku dinyatakan kurang. Walaupun sudah melampirkan surat rekomendasi dari tempat kerja, walaupun sudah bukan anak di bawah umur (dedeg hatinya di bawah umur kok, uhukk!), aku masih haruss melampirkan surat keterangan orang tua dengan melampirkan fotokopi KTP. Alasannya: karena aku perempuan. Ok, agak sulit , tapi tetap aku terima sambil menghibur diri, "Ini demi kebaikanku". "Aku rawan diincar calo woman trafficking", "Aku berpotensi jadi gepeng di negeri orang", dst..

Pada akhirnya aku diizinkan memegang nomor antrean untuk wawancara dan foto. Belum boleh lega, antreannya panjaaaaaaang, dan lamaaaaaaa. Hingga kena jeda makan siang. [Di titik ini mulai muncul ekspresi dari gen pengen makan orang].

Mungkin ini salahku memilih tanggal dan hari. Hari senin dimana-mana akan ramai. NOTED. Bahkan setelah lewat jam makan siang, jalannya antrean masih merayap lambat seperti jalur Denpasar-Kuta di malam minggu. Wawancara done, dengan kebaikan hati pak petugas yang memaafkan kekuranganku yang tidak sempurna tidak mampu menunjukkan Kartu Keluarga aseli. "Dokumen aseli adalah prasyarat yang harus ditunjukkan saat pembuatan paspor" (kutipan bebas dari pak petugas). Sesi foto harus kujalani setelah mengantre lagi sekitar 45 menit. Mungkin ini efek liburan akhir tahun maka ada banyak kursi kosong di dalam kantor imigrasi ini (if you know what I mean).

Checklist to note, syarat pengurusan paspor di Kantor Imigrasi 1 Denpasar:
1. Lembar jadwal kedatangan (untuk pendaftar online)
2. Lembar isian permohonan paspor
3. KTP asli dan fotokopi
4. Akta kelahiran asli dan fotokopi
5. Kartu Keluarga asli dan fotokopi
6. Paspor lama asli dan fotokopi (bagi yang sudah pernah memiliki
7. Bukti pembayaran (fotokopi sebanyak tiga kali)
8. Surat rekomendasi dari tempat bekerja
9. Surat keterangan orang tua dilampiri dengan fotokopi KTP orang tua (bagi perempuan wajib hukumnya, no matter what), surat bermaterai 6000

Lainnya, siapkan wajah segar menawan untuk foto (belajarlah dari pengalamanku).

&   &   &

Maka resmilah, di hari pengurusan paspor di kantor imigrasi kemarin aku menghabiskan waktu dari pukul 08.30 pagi hingga 16.00 sore [Barbie lelah, Bang T.T]. Satu hal lain yang tidak bisa berhenti aku sesali, Foto pasporku sama mengecewakannya dengan foto di KTP, SIM C, SIM A (Gimana nggak luntur, nggak sempet touch up).

Dengan titah untuk mengambil paspor tanggal 4 Januari, aku pulang dengan pikiran bahwa banyak hal yang tidak kita sukai namun sulit untuk kita hindari. Mungkin di cerita lain aku akan berbagi tentang kisah di kantor polisi, petualangan di gedung keuangan, atau nyaris ditipu di pom bensin.

Ah, hatiku berkata, seberapapun aku benci, aku tidak boleh mangkir ke dokter gigi.

Dini hari dengan notifikasi Telegram yang masih aktif berdenting,
Salam

13 Desember 2015

On 08.49 by anya-(aydwprdnya)   No comments

Aku harap bukan hanya kebetulan semata, bahwa pemilihan kepala daerah serentak yang diklaim sebagai yang pertama terjadi i Indonesia ini bertepatan dengan Hari Anti Korupsi. Sembilan Desember dua ribu lima belas. Tiada maksud menjadikan hari ini istimewa. Bukan pula berniat mengecilkan maknanya. Jujur saja, ada rasa skeptis yang membekas di hati ini setiap kali bersentuhan dengan segala prosedural dan seremonial politik. Harap tidak serta merta menghakimiku sebagai insan cuek politik. Aku perduli, bahkan pada beberapa titik perduli yang sejadi-jadinya (baca: hingga sering sakit hati). Kalau boleh meminjam jargon masa sekarang: aku lelah.

Aku dan orang-orang di sekelilingku mengharapkan pemerintahan yang baik menurut kami. Di saat yang sama harapan tersebut dihancurkan dengan visi bahwa perubahan itu akan membutuhkan waktu yang lebih panjang lagi.

Aku dan orang-orang di sekelilingku menginginkan perubahan ke arah yang membaik. Dan keinginan tersebut dikalahkan oleh rasa malu melihat tabiat oknum-oknum pengempu pemerintahan kita saat ini.

Ah, warga negara macam apa aku ini. Mengeluh, tanpa solusi yang nyata. Bahkan aku lancang sekali merepresentasikan diriku dengan 'orang-orang di sekelilingku'.

Sebenarnya aku menulis ini dengan perasaan yang bercampur aduk. Dagelan politik hanya satu dari sedikit faktor yang mempengaruhi arus pikirku akhir-akhir ini. Sebenarnya juga aku lebih ingin membahas tentang dokter layanan primer yang jelas-jelas mengusik ketenanganku. Hanya saja aku belum cukup membaca referensi untuk dijadikan dasar argumentasi. Kebetulan juga aku sedang enggan menelaah bacaan berat (kan sudah kubilang tadi aku lelah.) Sebab lainnya adalah pikiranku tidak tenang, harap-harap cemas menunggu sebuah pengumuman.

Yah, pilkada ini mungkin berlalu sebagai momentum untukku berkeluh kesah. Terutama bila pemenangnya di Tabanan sepertinya sudah menyiapkan pesta besar-besaran.

[Ya Tuhan, limpahkanlah kebesaran hati dan kelapangan dada untuk menghadapi apapun yang harus kami hadapi.]

27 Oktober 2015

On 09.46 by anya-(aydwprdnya)   No comments
Aku adalah orang dengan hati yang lapang. Tanpa keyakinan itu, aku tentu akan ragu menetapkan diri dengan profesiku saat ini. Namun, bila ternyata aku sampai menuliskan hal-hal yang menyusul di bawah ini, semata-mata hanya menegaskan sebuah kesadaran. Hati yang (aku rasa cukup) lapang ini, ternyata juga memiliki tepi.

*   *   *

Ini dipicu sebuah cerita berlatar ruang poliklinik di pagi Rabu yang cerah dan tenang. Seorang ibu paruh baya memasuki ruangan dimana aku duduk tegak dengan perut lapar (belum sarapan jam 10 pagi woii, manusiawi).

Ibu Paruh Baya (IPB) : Selamat pagi... (ramah bagai tanpa beban hidup)
Aku : "Selamat pagi ibu.." (ramah balik donk..)
IPB : "Saya mau periksa, ini saya pusing sekali sudah dari dua hari saya pusing nggak bisa bangun. Ini saya paksakan berobat, sampai saya nggak masuk kerja lho Dok sejak dua hari kemarin (wajah IPB berubah berkesan sakit skala berat. Perasaan mulai tidak enak, jangan-jangan mau nodong surat keterangan sakit.)

Scene selanjutnya adalah anamnesis rutin untuk menggali riwayat penyakit si ibu, sacred seven fundamental four lah. Hingga aku simpulkan di kolom diagnosis dengan vertigo perifer (BPPV) dan terapi yang sesuai. Dan detik-detik yang aku prediksi pun tiba. Benar saja,

IPB : "Dok, kasi saya surat sakit, dari dua hari kemarin sudah nggak kerja" (nadanya seperti mendikte yang harus aku lakukan.)
Aku : (Berusaha setenang mungkin) "Begini Bu, saya akan memberikan surat keterangan sakit berdasarkan hasil pemeriksaan hari ini. Karena itu tanggalnya paling mentok untuk hari ini, tidak bisa mundur ke belakang."
IPB : "Lho..kok gitu. Saya kan sudah sakit dari kemarin-kemarin, kenapa nggak bisa?"
Aku : "Iya Bu, mungkin sakitnya Ibu memang sudaj sejak kemarin-kemarin. Masalahnya saya tidak melihat dan memeriksa ibu di hari yang kemarin-kemarin itu. Saya tidak memiliki dasar untuk memberikan keterangan untuk hal yang tidak saya periksa."
IPB "Gimana sih maksudnya? Biasanya saya bisa minta DC nggak ribet begini." (Nada super nyolot, sepertinya lupa dengan keluhan pusingnya.)
Aku : (Mulai bikin gerakan virtual ngelus dada) "Bu, surat keterangan ini surat resmi. Harus dibuat berdasarkan penilaian yang didapat dari hasil pemeriksaan. Karena saya yang mengeluarkan, dengan nama dan tanda tangan saya, maka saya menggunakan penilaian saya."
IPB : "Iya, saya ngerti. Saya ini orang LSM lho Bu dok, kalau di kantor saya yang nerima surat sakit karyawan saya. Saya memang sakit dari kemarin-kemarin kok. Ini saya malu aja kalau saya sakit malah nggak nyerahin surat."
Aku : ""Saya bukan dukun Bu, saya tidak bisa menerawang hal yang tidak saya lihat. Nah, apalagi ibudi bagian kepegawaian, Ibu tentu tidak senang kalau karyawan Ibu minta-minta surat sakit ke dokter."

Adegan berikutnya adalah IPB memberiku tatapan mata penuh kebencian, semacam tatapan penuh dendam ala sinetron Indosiar. Dengan dramatis, melempar kartu berobat ke atas meja.

IPB : "Ya, sudah! Tidak usah!"
Aku : "Owh..begitu, ya sudah obatnya jadi Bu?"
IPB : "Saya masukin koran aja, pelayanan kok nggak bener. Minta surat sakit aja nggak bisa!"
Aku : *senyum semanis mungkin*
IPB : *jalan sambil buang muka*
Aku: "Silahkan Ibu..haknya ibu mengeluhkan bila dirasa pelayanan saya yang kurang. Siapa tahu saya jadi terkenal." *tetap senyum dimanis-manisin* (mungkin lebih seperti i-do-want-to-kill-you-smile)
IPB : *tanpa menoleh lagi, turun tangga, sambil non stop ngomel* "Dasar dokter baru, nggak tau aturan. Nggak punya kemampuan." (Sepertinya totally forgot her dizzines)
Aku : "Terimakasih Bu..semoga cepat sembuh nggih..."

AKU SEDIH. AKU KECEWA. AKU MARAH.
Sedih karena masih ada penduduk Indonesia yang mentalnya demikiam. Kecewa karena punya kewajiban melayani orang yang demikian tanpa kecuali. Marah karena dituduh dengan pernyataan yang menurutku tidak pantas dan aku sedih dan membuatku kecewa, dan marah yang lebih...demikian seterusnya.

*   *   *

Banyak teman dan kenalan yang melontarkan pertanyaan padaku, apa aku bisa marah? Jelas jawabannya, iya. Iya, aku bisa marah. Aku sering marah, dalam hati. Aku sering marah, marah yang lebih tentram disimpan sendiri. Maafkan karena tulisan ini tertuang diinisiasi oleh marah yang mungkin ingin dikawani, jadi ia mendesakku untuk membagi.

Aku marah karena banyak alasan. Tenang saja, alasannya masih berkisar hal-hal di muka bumi. Paling tidak...akhir-akhir ini hatiku jadi sedikit terasa manusiawi.

Oh ya, satu lagi. Siapapun, tolong jangan sekali-sekali mengajari, meminta, apalagi menyuruh aku berbohong lagi. Itu hal yang sulit untuk aku toleransi.

Sekian.

25 Oktober 2015

On 05.35 by anya-(aydwprdnya) in    No comments
Kamar mandi adalah tempat berkumpulnya segala ide di muka bumi. Aku memiliki keyakinan itu. Bahwa semua ide besar yang sudah maupun akan terjadi, memiliki kamar mandi sebagai salah satu latar perkembangannya. Satu, karena kamar mandi adalah satu-satunya tempat yang tidak dapat kita tolak untuk datangi. Dua, apapun itu, baik mimpi ataupun persepsi, hanya dapat dikatakan berarti bila masih mendominasi bahkan saat kita di kamar mandi.

Aku sudah katakan tadi, kamar mandi adalah satu-satunya tempat yang tidak akan pernah dapat kita tolak, fisik dan psikis. Orang dapat membenci kompor dan wajan panas kemudian menghindari dapur. Orang bisa tenggelam di sofa yang terlalu nyaman setelah tayangan TV berjam-jam, kemudian menolak pindah ke tempat tidur. Orang boleh enggan makan bersama di satu meja makan kemudian memilih bersantap di luar rumah. Kamu membenci buku? Aku tidak akan memaksamu berdiam di perpustakaan kecilku. Seperti itu. Namun tidak ada seorangpun yang bisa menolak dorongan (atau tarikan) dari kamar mandi. Entahlah, aku tidak yakin tentang pandanganku pada orang yang melakukan urusan 'dalam negeri'-nya di luar kamar mandi. Bila karena sakit, tentu termaklumi. Bila karena terpaksa (tidak ada pilihan, kebelet, di bawah tekanan) aku tidak memiliki hak mengomentari. Dan mengenai kamar mandi; bukan tentang ukuran, fasilitas, jenis ubin, pahatan di dinding, kotor atau bersih, toilet duduk atau jongkok, toilet umum atau kamar mandi di kamar kost, aroma pewangi, bath tub atau shower atau gayung plastik...itu semua hanya preferensi. 

Aku punya keyakinan itu, bahwa segala ide di muka bumi berkumpul di kamar mandi. Seperti semacam reuni, mulai dari keinginan membeli sepatu tahun lalu, rencana skripsi yang tidak tergarap, dendam karena barang yang tidak dikembalikan oleh seorang teman, gubahan lirik dan puisi yang lewat sambil lalu, bahkan hal-hal seperti kreasi resep masakan atau warna botol minuman. Aku juga berasumsi, niat-niat bizzare seperti ide bunuh diri juga dimatangkan di kamar mandi. Begitulah, ide-ide tersebut memenuhi setiap ruang yang bisa kita pikirkan. Larut dalam percikan air yang mengalir dari keran, mengendap di sudut lantai membentuk kerak, melayang di udara bersama aroma apel (terkadang lemon), pada  lelehan shampoo yang tidak tertutup rapat,  menyaru dalam gulungan kertas tisu, bahkan aku yakin juga berdesakan dengan kecoak di saluran pembuangan limbah. Konkret dan penuh. 

Aku sendiri senang membangun ide-ide di kamar mandi, tak peduli seberapa penuh ruang ide yang ada di bilik kecil kamar mandi itu. Mengguyur diri sekali, termenung berkali-kali. Melihat riak dan buih yang muncul saat kucelupkan satu jari, membandingkannya dengan riak dan buih dari tiga jari. Membiarkan kulit jemariku berubah keriput, mengacaukan gurat sidik jariku, sambil melihat rambut-rambut di lenganku berdiri. Kadang aku meniup busa lewat lubang yang kubentuk dengan ujung ibu jari dan telunjuk, menghasilkan gelembung, yang bila sangat beruntung, memiliki kesempatan menari di sekitar tubuh telanjangku selama sekian detik. Kadang aku berharap setiap pori di tubuhku bisa meniup sebaik mulutku, tentu sangat indah. Tapi tentu saja gelembung hanya terbentuk saat aku menggunakan sabun merk tertentu.  

Bicara soal sabun, ide juga licin dan kurang bersahabat dengan tegangan air. Mengherankan, karena kenyataannya mereka berkumpul di kamar mandi, gudangnya air (aku tidak tahu kamar mandi di tempat yang sulit air atau mengalami musim kering). Bahkan ide tulisan ini juga aku dapatkan saat menghabiskan waktu sesorean tadi di kamar mandi. Kemudian aku buru-buru mengetikkan apapun yang masih menempel di kepala dan badanku tanpa mengeringkan badan dan rambutku dengan benar. Oh ya, aku beritahu, ide tidak bisa bertahan lama di luar kamar mandi. Berita buruknya lagi, ide sulit untuk ditemukan kembali walaupun kita berusaha mencari dan masuk ke kamar mandi yang sama berkali-kali. 

Saat pertama kali ide ini dilontarkan, seorang kawan bertanya, "Bagaimana dengan orang yang tidak punya fasilitas MCK yang memadai, misalnya harus mandi di sungai?" 
Secara pribadi, aku tidak yakin bisa memikirkan ide apapun saat membayangkan mandi di sungai. Mungkin aku yang terlalu pemalu, atau mungkin pikiranku akan lebih terpusat pada batu sungai, ikan, dan kewaspadaan benda-benda yang mungkin terbawa arus sungai. Ah, alasanku saja. Tapi definisi kamar mandi adalah personalisasi kebutuhan. Bila langit biru adalah atapmu, dan batu kali adalah tegelmu, maka aku rasa sah saja bila ingin menciptakan sendiri ruang idemu.

&   &   &

Aku harus mengeringkan diri dan berpakaian. Juga memakai lotion. 
Oh ya, sepanjang sore tadi aku tidak berhasil membuat satu gelembung sabun pun. 
Dan besok aku harus menggosok kamar mandi.

9 September 2015

On 10.13 by anya-(aydwprdnya) in    No comments

Aku punya teman.. Teman sepermainan.. (Ah..ah..//plak!)

Oke, ulang.

Aku punya teman. Jamak. Kalau sebelumnya aku pernah bercerita tentang teman yang datang dan pergi, dan datang kembali, hilang, datang lagi...mereka juga tak terkecuali.

Aku punya teman. Jamak. Akhir-akhir ini, mereka adalah satelit-satelit terdekat yang mengorbit bahkan saat aku kehilangan gravitasi. Kami berteman, dan begitu saja, kami tidak memiliki kriteria inklusi.

Suatu hari kami merencanakan bertemu, tujuannya bisa menyusul kemudian. Tidak harus ada hari yang diperingati, tidak mesti ada momentum yang dirayakan. Kadang kami sendiri bingung mencari alasan; memanfaatkan freepass sisa karaoke sebelumnya, berselancar dengan tempat makan baru, curhat masalah kerja (dan cinta), memanfaatkan kupon bazzar yang dibeli dengan keterpaksaan atau memenuhi kebutuhan primer untuk menggosipkan apa saja. Plak! Plak!

Jadi kami bertemu. Entah hanya aku atau mereka juga, bertemu menjadi salah satu kebutuhan. Setingkat di atas keinginan. Aku butuh merasa normal di dalam segala ketidakwarasan kami. Aku butuh merasa lurus di tengah labirin cerita yang saling ditukarkan. Aku butuh didengarkan di atas segala bising yang kami dengungkan, sama halnya dengan aku butuh mendengarkan demi segala kesunyian yang kita redam. Plak!

Dan kami bertemu lagi. Salah satu absen pergi, di hari lain yang lain yang tak kembali, di pertemuan yang lain akulah yang tak disini. Kadang A malas, B masih kerja, C ada acara keluarga, D lelah dan malas keluar rumah...plak!plak! Dan kita tetap bertemu. Cerita, rahasia, marah, gembira...sesering apa kita menemukannya dalam piring yang sama?

Aku dan mereka berteman dalam ruang yang tidak terdefinisikan. Lebih tepatnya tidak pernah kami definisikan. Buat apa? Kejamakan ini bukan mie pedas yang dapat dibagi levelnya. Seperti halnya kebutuhan yang lain, ada yang terpenuhi ada yang tidak, bukankah yang seperti itu yang mengingatkan kita akan hidup? Plak! Plak!

Aku punya teman. Ketika aku menulis sambil membayangkan mereka aku malah berakhir menampari diri sendiri. Mungkin hal-hal paradoks ini yang membuatku nyaman memproklamirkan bahwa kami berteman. Ya, paradoks; jengah dalam nyaman, gerah saat cuaca berangin, segan sekaligus tidak tahu malu, mengejek, mengagumi, mencela, menyayangi...hmm apa lagi?

Aku masih menampari diri sendiri. Siapa tahu kita akan segera bertemu kembali. [Lanjut menata mimpi sambil menyanyi//fals//plak!plak!]