26 April 2015
Aku hanya mengenal satu kakek, pekak, sepanjang hidupku. Ya, tentunya secara biologis dan sesuai pohon keluarga aku punya dua kakek, satu dari pihak bapak, satunya lagi dari ibu. Pekak dari bapak, aku tidak pernah benar-benar mengenalnya. Beliau telah meninggal jauh sebelum aku lahir. Praktisnya, aku mengenal beliau hanya lewat cerita dan sebuah foto tua yang berhasil didaur ulang dengan kecanggihan teknik fotografi sehingga kami tetap dapat mengenang (dan bagiku pribadi) membayangkan rupa beliau.
Pekak yang benar-benar aku kenal adalah bapak dari ibu. Kami menyebut beliau dengan panggilan Pekak Romo. Aku sendiri yakin ada cerita di balik panggilan itu, namun aku benar-benar lupa.
Menyebut pekak romo, bayangan yang terlintas di benakku adalah sesosok pria tua, tinggi, besar, tambun, dengan lapisan lemak tebal yang menyembul di perut. Walaupun jarak antara rumah tinggal kami dengan rumah kecil ibu hanya sekitar 10 kilometer, kami tidak sesering itu mengunjungi rumah kecil ibu, yang berarti tidak sesering itu aku berjumpa Pekak Romo. Dalam kesehariannya, Pekak Romo boleh dibilang disegani oleh kerabat dan tetangga sekitar. Selain karena beliau dikenal sebagai seorang ahli pijat tradisional, aku rasa juga karena kepribadiannya secara keseluruhan. Tak jarang, bila pulang ke Bebali (rumah kecil ibu) aku akan berjumpa dengan beberapa orang yang mengantre sembari bercengkrama sambil membawa canang dengan jinah sesari seikhlasnya. Mereka adalah pelanggan pijat Pekak Romo.
Hey! Aku juga salah satu pelanggan pijat Pekak. Ya, aku suka sekali dipijat oleh beliau. Walaupun setelahnya kaki tanganku akan licin berminyak. Walau setelahnya badanku beraroma bawang.
Aku suka.
Selain tentang pijatannya yang aduhai nikmat dirasakan kaki-kaki mungilku (kala itu), hal yang kuingat tentang Pekak Romo adalah pertanyaan-pertanyaannya yang menurutku membuatnya sangat family-man. Kebanyakan adalah tentang sekolahku, prestasi terakhir yang aku capai, rencana ke depan dan sebagainya. Lalu, selalu beliau memastikan hubungan baikku dengan kerabat yang lain, 'kapan terakhir ketemu si ini?', 'gimana kemarin waktu main ke rumah si itu?', 'itu masih sodara, sudah sering nyapa si anu?'. Dan tentu saja petuah-petuah yang sangat layak dari seorang kakek kepada cucunya.
Ah.. lama sekali rasanya aku tidak mendengar petuah-petuah itu.
* * *
Tahun berganti, usia Pekak Romo bertambah tua. Ada limitasi oleh waktu, dimana pekak tidak menerima permintaan pijat lagi. Sampai perlahan, karena aku yang beranjak remaja, walau beberapa kali bapak masih sempat dipijat pekak, aku ingat masa dimana pekak benar-benar pensiun dari ranah pijat tradisional.
Ya, tidak ada pijatan lagi, hingga yang menyedihkan pekak mulai sering mengulang pertanyaannya berkali-kali. Demensia.
* * *
Ketika menua adalah mutlak bagi sang tua, memahami perubahan adalah opsi dengan hitungan permutasi bagi yang lainnya. Hasil perhitungannya seringkali adalah penyesalan atas waktu yang terlewatkan, atas kesempatan yang pernah terabaikan.
* * *
Awal bulan ini, sosok pria tua tambun tinggi besar itu, satu-satunya kakek yang benar-benar aku kenal, berpulang. Entah kenapa di baris ini aku kehilangan kata-kata.
...
Ada kenangan yang identik dengan alinea awal tulisan ini, menggedor dadaku, tepat saat tanah yang digali dimaksudkan untuk menutupi badan pekak romo untuk seterusnya. Seperti aroma dupa, nada sendu, dan tatapan rindu sore itu, tolong lihat aku lagi dari manapun tempatmu.
3 Februari 2015
* * *
Jawabannya mungkin sesering tubrukan antar bintang yang terjadi di semesta, tak terhingga.
1. Buktikan bahwa kita benar.
2. Buktikan bahwa orang lain salah.
17 Januari 2015
5 Januari 2015
Ini sedikit cerita dari dalamnya.
Seperti cerita dari dalam kotak make up ini.
Bahkan membeli kotak make up ini pun aku akui sebagai penipuan mendasar yg aku lakukan. Kisahnya, tahun-tahun koas, banyak kegiatan merawat diri (baca: mandi seadanya) harus dilakukan di rumah sakit. Praktis, segala perkakas rias (yang secuil tadi) harus aku bawa. Aku secara pribadi tidak terganggu dengan kebiasaan membawa perlengkapanku itu dengan kantong plastik biasa. Ya, kantong plastik yang sama yang digunakan untuk membungkus ote-ote atau tahu isi. Kadang warna hitam, kadang oleh-oleh belanja roti di Indomaret atau CircleK. Tambahan lagi, dalam satu tas plastik semuanya bergabung, termasuk sikat gigi, odol, dan sabun mandi. Praktis. Namun ternyata, di mata teman-teman, kebiasaanku itu lumayan menyayat hati. Miris, katanya.
"Duh, pakai je tas make-up yang lebih layak pakai, Nya!"
"Kenapa digabung gitu, Nya? Rusak nanti krimnya."
"Nyanya..jangan kayak orang susah deh!"
![]() |
| Sebagian besar isinya hanya pencitraan semata. |
Search
Popular Posts
-
“ Even it is just a few giving (alms), with the thirst and desire of your heart it will bring great benefits; whereas the bigger amou...
-
Throwback time to four years ago. Bukan masa yang terlalu dirindukan, aku masih dengan setelan merah muda pada kebanyakan hari dalam satu...
-
Bulan paling terang adalah sehari setelah purnama. Selalu. Dan kita berdua tahu itu. Misiku sepanjang seratus kaki dari mimpi; menjaga bul...
-
Sudah beberapa orang menertawai aku untuk satu alasan yang serupa: takut bekerjasama (baca:mencontek) saat ujian. Ya, untuk segumpal alasan ...
-
Setiap pertama pastilah tidak mudah. Bagiku tidak pernah mudah. Pertama itu adalah kebodohan di tengah rasa ingin tahu, rasa segan disela ...
-
Hari ini harusnya aku menikmati hari libur tenang nan menyenangkan. Harusnya hari ini aku ada di salah satu pusat perbelanjaan, walau hanya ...
-
Jadi ceritanya begini: Beberapa hari kemarin, karena suatu alasan yang tidak sanggup aku jelaskan lewat tulisan, aku tidak punya akses moda ...
Recent Posts
Categories
- [EARGASM]
- 30Hari Bercerita
- Ahmad Wahib
- Aktivitas
- Bahasa
- Barcelona
- Birokrasi
- BYEE
- Cerita Dari Negeri Lain
- Co-ass
- Easy-Aci Exploring the World
- Event
- Ex-Berliner
- Family
- Fiksi Tapi Bukan
- Friendship
- Germany
- Golden October
- Inspirasi
- Japan
- Jerman
- Journey to the West
- Karya
- KKM
- Koas
- Kontemplasi
- Menulis Random
- Movie
- Puisi
- Quality Time
- Refleksi
- Romansa
- Serba-serbi
- Song of the Day
- Sweet Escape
- T World
- Tragedy
- Travel
- Trip
- Tulisan
- Urip Iku Urup

