Defect, anomali...and perspective

27 Oktober 2012

On 03.11 by anya-(aydwprdnya) in ,    No comments

Aku tak pernah bisa membaca pikiranmu
Sama seperti dirimu yang tak pernah bisa meramal hatiku.

Kadang dirimu bernyanyi dalam gempita. Kadang aku menangis di bawah hujan. Sering dirimu berteriak di sela gaung. Lebih sering lagi aku menunggu dalam renung.

Sudut-sudut yang kita bentuk selama ini sangat aneh. Sudut-sudut yang terbentuk diantara kita selalu aneh. Menumpul saat udara seharusnya hangat. Menajam justru saat kesepian menyengat. Garis-garis yang menghubungkan kita sangat aneh. Garis-garis yang memisahkan kita juga selalu aneh. Menebal saat pensil kita patah. Memburai menjadi titik-titik halus ketika tinta kita berwarna cerah.

Sejajar, dalam hubungan itu kita bertemu. Tegak lurus, relasi yang kita pilih saat memutuskan untuk tak saling mengenal.

Jadi?
Apa dirimu perih? Apa hatiku pedih?

Aku tak pernah bisa membaca pikiranmu
Sama seperti dirimu yang tak pernah bisa meramal hatiku.
Namun yang sama kita tahu, ketidaktahuan kita inilah yang membuat kita bertahan.


Suma, Kobe
Oct 27, 2012 

4 Agustus 2012

On 08.19 by anya-(aydwprdnya) in , ,    2 comments

Mengapa kebanyakan orang begitu sulit untuk mengalah? Mengapa terkadang kita begitu sulit menerima pendapat orang lain? Atau bila pertanyaan mengapa terlalu rumit untuk dijawab, kapan terakhir kali salah satu diantara kita mendengar, memaafkan, dan menghargai?

Membuka suatu bahasan dengan menarik garis dari titik-titik pertanyaan sebenarnya bukanlah gayaku. Walaupun seringkali retoris, tapi jujur saja aku lebih suka mengawali sesuatu lewat pernyataan daripada pertanyaan. Namun kali ini, aku ‘terpaksa’ berpikir beda, karena pertanyaan-pertanyaan semacam di atas menyadarkan aku bahwa ada makna yang jauh, jauh, jauh lebih dalam—yang sebelumnya jarang kita perhatikan, perihal eksistensi kita sebagai umat manusia.



18 Juli 2012

On 08.05 by anya-(aydwprdnya) in , ,    No comments
Ada beragam tipe teman yang pernah aku kenal. Ada teman yang seperti deskripsi teman ideal, ada dalam suka dan duka. Ada teman yang hanya tampil saat hariku senang. Ada yang hanya tampil saat bintangku terang. Ada yang memujiku sambil menghujat orang lain di satu kesempatan, dan memuja orang lain sambil menginjakku di kesempatan yang lain. Ada yang menjadi teman berawal musuh, ada juga yang dulunya sangat dekat tapi akhir-akhir ini semakin jauh. Ada teman yang sering mencurahkan isi hati, menggenggam tangan sambil bercerita tentang masa yang telah lalu, meminjam pundak untuk bersandar, berbagi opini tentang baju model terbaru, melontarkan lelucon-lelucon yang senada, dan minum dari botol yang sama. Ada teman yang selalu meminjamkan pensil saat aku perlu, membayari makan siangku saat tidak ada sepeserpun di kantongku, atau menawari tumpangan saat aku tak tahu harus kemana. Jauh berbeda dari itu, tapi aku masih menyebutnya teman, hanya bersapa sambil lalu, beberapa bahkan tidak ingat namaku. Bagaimanapun, pada dasarnya aku bukanlah orang yang pemilih dalam berteman. Berteman bagiku adalah hubungan resiprok dimana ada makna yang lebih dalam dari sekadar membutuhkan dan dibutuhkan, bukan tentang jarak si kaya dan si miskin atau celah antara yang pintar dan yang bodoh. Mungkin juga karena saking tidak memiliki daya pilih, maka aku tidak pernah mengguratkan suatu borderline untuk setiap pertemanan yang pernah aku jalani. Asal pernah bertukar senyum, berbalas sapa, atau berjabat tangan...maka dialah teman.


29 Mei 2012

On 15.00 by anya-(aydwprdnya) in , , ,    No comments



 “Even it is just a few giving (alms), with the thirst and desire of your heart it will bring great benefits; whereas the bigger amount you give would not be useful if obtained improperly. Magnitude of benefit of a gift is not determined by its amount but the level of feasibility.”
Sarasamuscaya Sloka 184

Fossils and artefacts from the non-human civilization and civilization of human prove that the earth has gone through the ages. But Hindus have their own view on the turnover of the time. They believe that there are four ages that occur alternately as a cycle: Krta Yuga, Trta Yuga, Dwapara Yuga, and Kali Yuga (Yuga is Sanskrit word for era). They also believe that today we are walking on the age of Kali, the age where human being tend to think most about their selves, careless about others and environment. In other words, they say it as the eve of apocalypse.

24 Mei 2012

On 08.40 by anya-(aydwprdnya) in , ,    No comments
Ayahku Hebat!: A Series of My Quality Times

Kalau saja acara televisi yang berjudul serupa masih eksis tayang, mungkin suatu hari aku akan mendaftarkan seorang kandidat sebagai salah satu peserta, walau aku tahu beliau tidak akan pernah mau. Beliau itu penyayang dan penyabar. Beliau selalu punya bakat untuk terlihat menonjol namun tidak menyukai publikasi diri. Beliau selalu ada, tidak malu untuk duduk rendah, selalu mampu memandang tinggi. Beliau adalah representasi seorang pengayom ideal bagiku. Aku memanggilnya bapak.