Defect, anomali...and perspective

18 Juli 2012

On 08.05 by anya-(aydwprdnya) in , ,    No comments
Ada beragam tipe teman yang pernah aku kenal. Ada teman yang seperti deskripsi teman ideal, ada dalam suka dan duka. Ada teman yang hanya tampil saat hariku senang. Ada yang hanya tampil saat bintangku terang. Ada yang memujiku sambil menghujat orang lain di satu kesempatan, dan memuja orang lain sambil menginjakku di kesempatan yang lain. Ada yang menjadi teman berawal musuh, ada juga yang dulunya sangat dekat tapi akhir-akhir ini semakin jauh. Ada teman yang sering mencurahkan isi hati, menggenggam tangan sambil bercerita tentang masa yang telah lalu, meminjam pundak untuk bersandar, berbagi opini tentang baju model terbaru, melontarkan lelucon-lelucon yang senada, dan minum dari botol yang sama. Ada teman yang selalu meminjamkan pensil saat aku perlu, membayari makan siangku saat tidak ada sepeserpun di kantongku, atau menawari tumpangan saat aku tak tahu harus kemana. Jauh berbeda dari itu, tapi aku masih menyebutnya teman, hanya bersapa sambil lalu, beberapa bahkan tidak ingat namaku. Bagaimanapun, pada dasarnya aku bukanlah orang yang pemilih dalam berteman. Berteman bagiku adalah hubungan resiprok dimana ada makna yang lebih dalam dari sekadar membutuhkan dan dibutuhkan, bukan tentang jarak si kaya dan si miskin atau celah antara yang pintar dan yang bodoh. Mungkin juga karena saking tidak memiliki daya pilih, maka aku tidak pernah mengguratkan suatu borderline untuk setiap pertemanan yang pernah aku jalani. Asal pernah bertukar senyum, berbalas sapa, atau berjabat tangan...maka dialah teman.


29 Mei 2012

On 15.00 by anya-(aydwprdnya) in , , ,    No comments



 “Even it is just a few giving (alms), with the thirst and desire of your heart it will bring great benefits; whereas the bigger amount you give would not be useful if obtained improperly. Magnitude of benefit of a gift is not determined by its amount but the level of feasibility.”
Sarasamuscaya Sloka 184

Fossils and artefacts from the non-human civilization and civilization of human prove that the earth has gone through the ages. But Hindus have their own view on the turnover of the time. They believe that there are four ages that occur alternately as a cycle: Krta Yuga, Trta Yuga, Dwapara Yuga, and Kali Yuga (Yuga is Sanskrit word for era). They also believe that today we are walking on the age of Kali, the age where human being tend to think most about their selves, careless about others and environment. In other words, they say it as the eve of apocalypse.

24 Mei 2012

On 08.40 by anya-(aydwprdnya) in , ,    No comments
Ayahku Hebat!: A Series of My Quality Times

Kalau saja acara televisi yang berjudul serupa masih eksis tayang, mungkin suatu hari aku akan mendaftarkan seorang kandidat sebagai salah satu peserta, walau aku tahu beliau tidak akan pernah mau. Beliau itu penyayang dan penyabar. Beliau selalu punya bakat untuk terlihat menonjol namun tidak menyukai publikasi diri. Beliau selalu ada, tidak malu untuk duduk rendah, selalu mampu memandang tinggi. Beliau adalah representasi seorang pengayom ideal bagiku. Aku memanggilnya bapak.


12 April 2012

On 08.25 by anya-(aydwprdnya) in ,    No comments

Katakanlah tulisan ini semacam lanjutan dari tulisan Neuro: My 1st Lab. Tanpa ada maksud membuat kreasi cerita bersambung, setelah beberapa hari terlewati di neuro, aku yang masuk dengan kepala kosong a.k.a sangat bodoh mulai merasa bahwa 

2 April 2012

On 20.30 by anya-(aydwprdnya) in ,    No comments
Setiap pertama pastilah tidak mudah. Bagiku tidak pernah mudah.
Pertama itu adalah kebodohan di tengah rasa ingin tahu, rasa segan disela kebanggaan karena ternyata sudah berhasil sampai di tahap memulai. Pertama itu adalah disabilitas, dengan kebisuan yang sekaligus membatasi lapang pandang kita. Kurang lebih seperti itu.

Neurologi : Lab Pertama
Entah kebetulan atau tidak lab pertamaku sama dengan kelompok KPKku. Kalau nama kelompok KPK dulu Neuroscience, sekarang lab pertama petualangan 1,5 tahun (mungkin lebih) sebagai dokter muda aku awali dengan SMF Neurologi. Aku sendiri tidak ingin terlalu ambil pusing dengan koinsiden itu.

Bicara tentang pertama, bukan hanya tentang lab pertama yang penuh dengan rumor tidak mengenakkan (maklum, DM baru, jadi cari info sana-sini). Banyak senior yang berbagi pengalaman--kebanyakan pengalaman tidak enak, cerita suka-duka (dominan duka). Katanya neuro itu tidak enak, katanya neuro itu banyak tugasnya, katanya neuro itu beginilah..begitulah... dan aku sepertinya memilih untuk pasrah saja.

Mulai hari ini sampai enam minggu ke depan aku akan berteman palu refleks. Aku akan mencoba bersahabat dengan buku Dasar-dasar Ilmu Saraf, Neuroanatomia Medica, dan Neuroanatomi Duuz. Mungkin tambahan beberapa konsensus akan sangat membantu. Dan tentunya sedikit bumbu semangat belajar, secara aku sangat ingat percakapan dengan seorang senior tingkat hari kemarin,

Senior tingkat (ST): Hai, besok mulai masuk lab apa pertama?
Aku dengan semangat KKM (ADSKKM): Neuro kak...ada tips?
ST: Wewww.... o.O
ADSKKM: Punya referensi tambahan gag kak?
ST: Neuro ya? Wewww... O.o
ADSKKM: Kenapa emangnya neuro kak?
ST: Neuro..hmmm..engga, semangat yah... SEMANGAT...! Yang berat di awal malah bagus...(senyum palsu)
ADSKKM: *krikk...(semangat KKM lenyap)


Anyway, semoga lab pertamaku menyenangkan